Actually, we are all in processing/developing our life. It’s our time, I think.
Sebenarnya, kita semua memang sedang berproses, bukan? Bagi millennials dan genzi, ini adalah fase usia di mana kita sedang produktif2nya. Jadi, sangat wajar kalau aku banyak melihat perkembangan dalam kehidupan teman-teman semuanya. Ada yang sedang meniti karir, berumahtangga, mengembangkan usaha. Aku sama sekali tidak menyangka akan merasakan fase ini dan melihat semua perkembangannya dengan perasaan seperti ini. Ada sedikit rasa terharu dan Bahagia π₯Ήπ₯Ήπ₯Ή
Tapi di lain sisi aku juga menyadari. Ada Sebagian dari kita yang sedang diuji. Baik dengan anak, suami, juga pekerjaan atau perjodohan.
Tapi dari semua itu aku juga memperhatikan. Ada yang belum dikaruniai anak tapi banyak jalan-jalan. Entah itu traveling bersama pasangan, teman. Ada juga yang bisa umroh hampir setiap tahunnya Sementara yang sudah punya anak, terbatas waktu liburannya, bepergiannya, karena harus memperhatikan jadwal anak, kondisi anak, keamanan dan lain sebagainya.
Ada yang masih sendirian tapi masih ingin menikmati hidup. Ada yang sedang mencari pasangan, ada yang sedang mencari pekerjaan, ada juga yang baru saja kehilangan.
Dan itu membuatku sadar. Bahwa rezeki Allah itu luas dan dalam banyak bentuk wujudnya. Apa yang menurut kita ujian bisa jadi apa yang orang lain dambakan. Sementara orang yang mungkin kita lihat kasihan ternyata justru berada dalam fase paling nyaman.
Kita tidak bisa mengukur kadar kebahagiaan orang lain. Karena Bahagia hanya kita sendiri yang rasakan. Bisa jadi orang melihat kita mengalami penurunan hidup, tapi ternyata keadaan kita saat ini Adalah kehidupan yang mungkin dulu pernah kita bayangkan dan harapkan.
Aku sendiri, saat ini merasa sedang berada di fase tersebut. Sebagai anak-anak, dulu, aku membayangkan suatu saat menjalani kehidupan rumah tangga seperti di film-film. Pagi-pagi mengantar suami dan anak berangkat kerja dan sekolah di depan rumah (korban sinetron π€£). Setelah itu aku melakukan kegiatan yang kusuka di rumah. Dan, begitulah kegiatanku setiap hari saat ini. Sebagai IRT.
Tapi pada realitanya, kehidupanku yang aku rasa nyaman seperti ini masih ada yang menganggap sebagai kemunduran. Karena aku sudah “tidak bekerja” secara formal. Tidak digaji oleh Perusahaan. Sementara sebelumnya aku sebagai “Wanita karir” yang bekerja di Lembaga formal. Mengajar di sekolah bonafid, setiap pagi berangkat dan pulang di sore hari. Memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap.
Bukan hanya orang lain. Bahkan dari lingkup keluarga pun ada yang Ketika bertanya kegiatanku, “Maya sekarang nggak kerja?” Seolah menjadi IRT di rumah saja Adalah suatu kemunduran. Melihat akun bisnisku promosi dagangan, seolah aku kekurangan jadi harus mencari tambahan. Padahal, aku hanya menikmati waktu luangku agar lebih bermanfaat dan menghasilkan. Aku bisa membaca buku, berkebun, journaling, ibadah lebih khusyuk dan tidak terburu-buru. Bisa streaming kajian, datang event perbukuan, nonton podcast bermanfaat atau juga mencari hiburan lainnya. Aku bisa lebih banyak belajar dan mengembangkan kemampuan. Bedanya, hanya tidak dapat sertifikat pengakuan ππͺ
Ilmu yang aku miliki bisa aku ajarkan ke anakku secara langsung. Anakku tidak dihandle mbak. Ia mendapatkan bimbingan langsung dari ibunya (no hard feeling for all working moms yaaa. It’s just my pov. We are all have our own preferences to give the best for our fam. It’s all up to you). Ia Adalah investasi terbaikku saat ini dan aku bertanggungjawab atas perkembangan dan pertumbuhannya. Aku bangga bisa mengajarkan apa yang belum diajarkan di sekolah sekaligus bisa membersamainya mereview materi yang sudah ia pelajari. Aku mungkin bukan ibu yang sempurna. Aku masih banyak celanya. Karena selain anak yang belajar, aku pun belajar menjadi ibu.
Kalau di instansi, selesai kontrak kita bisa minta surat rekomendasi. Untuk apa? Untuk melamar pekerjaan berikutnya, agar mendapat pengakuan bahwa kita berpengalaman. IRT tidak ada sertifikasi. Pengakuan yang tervalidasi Adalah dari suami. Reward dan gajinya dari Allah ta’ala. Dan sayangnya, manusia tidak bisa melihat itu semua. Kebanyakan manusia masih memandang rezeki Adalah berupa materi. Berapa banyak income yang kamu bisa dapatkan, berapa banyak asset yang bisa kamu kumpulkan, seberapa sering kamu bisa jajan dan jalan-jalan. Itu baru sebuah kesuksesan.
Bagaimana kalau kukatakan inilah kehidupan yang sedang aku nikmati? Menjalani kegiatan sehari-hari sesuka hati. Keuangan dan jajan-jajan diprovide suami. Hasil iseng2 juga bisa dinikmati. Nggak pusing beban kerjaan dari atasan (well, tapi teteup, sih, IRT ada beban tanggungan juga. Haha). Malah, kalau lagi suntuk, bisa marah-marah ke suami. (canda suamiiiii) ππ✌️ππ«Ά
Tapi, yaa begitulah hidup sebagai manusia. Akan ada yang melihatmu sebelah mata. Tetapi ada juga yang bisa melihat dengan pikiran lebih terbuka. Maka yang terbaik Adalah hidup sesuai jalannnya dan porsinya. Nikmati saja apa yang sedang Allah beri sambil terus memperbaiki diri. Tidak usah pusing dengan apa yang orang lain katakan dan pikirkan karena itu bukan kapasitas dan ranah wilayah kita (meskipun terkadang ada beberapa hal yang membuat kepikiran π).
Living in your best version of life and find our own happiness without judging others’
Happy weekend, peeps! π«Άπ✨
25 April 2026 3.57 pm


0 komentar:
Post a Comment