Showing posts with label Personal Thought. Show all posts
Showing posts with label Personal Thought. Show all posts

Tuesday, February 10, 2026

Tunjukkan Nikmat Yang Allah Berikan

Kalau beberapa tahun terakhir kita semakin familiar dengan ain, tahun 2025 aku belajar tentang Tahadduts bin Ni'mah. ada yang sudah pernah dengar? Mohon koreksinya kalau salah ya..

Jadi, beberapa tahun belakangan ini kan kita sudah kenal dan aku rasa banyak yang sudah paham tentang ain dan bahayanya. Tentang jangan mengumbar kenikmatan karena nanti ada yang hasad, iri, tidak suka dengan kenikmatan dan pencapaian kita. Nanti bahaya ke kita nya, kenikmatannya jadi hilang, apa yang sedang diusahakan jadi gagal, dll.

Nah tahun lalu, aku justru belajar tentang hal sebaliknya. Kenikmatan yang Allah beri, tunjukkanlah.

Hal ini berdasarkan surat Ad-Dhuha ayat 11

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh Dhuha: 11)

Penjelasan lengkapnya di sini ya.

Jadi intinya, Tahadduts bin ni'mah ini, konsepnya, kalau kita mendapat/merasakan nikmat dari Allah, tunjukkan sebagai rasa syukur, bukan sebagai pamer. Karena pada dasarnya kita nggak akan mendapatkan nikmat itu kalau bukan karena Allah yang berikan dan izinkan. Jangan kita menunjukkan bahwa kita tidak pernah punya apa-apa, hidup kita flat-flat saja, atau malah terkesan susah, kesenangan selalu disembunyikan. Jatuhnya justru seolah-olah Allah tidak pernah memberikan nikmat ke dalam hidup kita. Padahal nikmat Allah itu sangat banyak dan luas. Nggak melulu tentang uang dan materi. Aku juga pernah membahas soal ain di postingan ini, ain nggak melulu tentang pencapaian yang besar, sesimpel share tentang kehamilan bisa mengundang ain bagi yang masih berjuang garis dua, sharing pumping asi yang melimpah bisa jadi ain bagi yang asinya tidak keluar, bercerita anak yang nurut, gampang diarahkan juga bisa menjadi ain bagi orang tua yang anaknya tantruman. Kalau apa yang terjadi di kehidupan selalu dikaitkan dengan ain, hidup kita nggak akan kemana-mana. Apa-apanya takut ain.

Sebagai tambahan, soal memancing ain atau tidak, itu tergantung hati kita. Bagaimana niat kita ketika berbagi cerita atau misal posting suatu hal. Kalau niat hati kita untuk pamer dan riya maka bisa memancing ain. Sementara kalau niat kita untuk menunjukkan dan sebagai rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan, In syaa Allah yang akan datang pun hal-hal baik pula, seperti teman-teman yang ikut berbahagia atas kenikmatan kita. Dan dengan begitu Allah pun akan menambah nikmatnya. Istilahnya apa yang kita sharing akan menarik sesuai frekuensinya. Kalau frekuensinya tinggi dan baik dia akan menarik hal-hal baik pula. Kalau frekuensinya rendah dan buruk maka ia akan memancing ain dan hal buruk lainnya.

Tidak semua yang sharing itu untuk pamer. Ada yang sekdar merayakan pencapaian, berbagi kebahagiaan, review barang, makanan, tempat jajan, atau yaa memang sekadar suka berfoto.

Tentang hal buruk atau yang tidak kita sukai setelah kita membagikan sesuatu, misalnya, itu kembali lagi, terjadi atas ridho Allah. Jangan terlalu saklek juga, "Oh ini pasti karena ain nih" Nggak selalu seperti itu. Karena kehidupan ini kan ada naik turunnya, baik buruknya. Nggak mungkin baik semua. Allah meridhoi terjadinya hal buruk dalam hidup kita kan banyak tujuannya. Bisa sebagai ujian yang akan menaikkan derajat keimanan, atau supaya kita bisa mengambil pelajaran, atau sebagai pembeda agar kita bisa bersyukur saat diberi kenikmatan. Kalau semua hal dikaitkan dengan ain, yang ada kita jadi selalu berburuk sangka, bahwa ada orang-orang yang iri terhadap nikmat yang kita rasakan. Dan pada akhirnya menyembunyikan nikmat yang Allah berikan.

Ain itu dihindari dan dicegah, bukan ditakuti. Yang ditakuti itu Allah

Menunjukkan nikmat ini kan luas ya, bisa tentang apa saja dari urusan agama, akhirat hingga duniawi. misal bersyukur bisa datang kajian, bersyukur atas teman-teman yang mengajak kepada kebaikan, bersyukur soal makanan yang bisa dinikmati termasuk jalan-jalan ke tempat yang baik. Atau tentang kebaikan pasangan dan rumah tangga. Tapi tentu saja semua dalam kadar dan batas sewajarnya, jangan oversharing dan belajarlah memahami batasan privasi. Mana yang bisa diceritakan atau disimpan sendiri.

Akhir-akhir ini juga banyak aku temukan istilah-istilah ledekan terhadap orang yang memiliki pernikahan yang bahagia, kayak:

"Alaaah semua juga bakal pret pada waktunya"

Pernah dengar, nggak? Fyi, aku sebisa mungkin menghindari gosip/ghibah baik itu influencer, artis, atau siapa lah. Tapi berita seperti itu seolah nggak bisa dihindari. Bisa dari teman yang share atau dari mana lah. Aku nggak follow influencer selain beberapa yang aku ingat yang sering sharing soal agama.

Soal perkataan tadi, aku cuma mikir, seburuk apa sih keadaan RTnya sampai melihat RT orang lain yang bahagia kok iri begitu ucapannya. Mungkin yaa karena banyak influencer/artis yang awal-awal kelihatan mesra, romantis, bahagia pada akhirnya muncul berita cerai, dll. Wallahu a'lam ya, aku nggak mau mengomentari RTnya, tapi lebih kepada, yuk biasakan kalau melihat yang baik itu doakan yang baik pula, kalau melihat atau mendengar yang buruk pun doakan kebaikan supaya segera reda dan membaik. Karena doa yang baik nggak cuma untuk orang yang didoakan tapi akan kembali kepada yang mendoakan dan ada hadistnya bahwa doaketika kita berdoa, malaikat ada di samping kita bukan hanya untuk mencatat, si fulan dapat pahala karena mendoakan saudaranya, tapi lebih dalam lagi, malaikat mengaminkan doa kita. Jadi kalau kita mendoakan keburukan, ya doai itu akan kembali ke kita juga. Rugi, nggak? Rugi banget lah. Kita kenal sama influencer/artis itu aja nggak, terus kita doain keburukan juga dapat dosa, udah gitu doa buruknya kembali kek kita juga. Subhanallah. 

Jazakumullahu khayr..

Wallahu a'lam bhissowab

Thursday, February 5, 2026

Contemplating



Hari ini, tepatnya pagi ini, sepulang mengantar si Ujang sekolah, naik sepeda, tiba-tiba aku teringat untuk murojaah surat Al - Waqiah. Awal bulan ini aku memang meniatkan untuk menghafal surat tersebut. Selain karena keistimewaannya yang katanya membuka pintu rezeki (jika dibaca setiap hari di pagi hari, wallahu a'lam, aku belum cari dalilnya), menurutku, surat Al-Waqi'ah itu memiliki rima yang indah, aku yang suka dengan puisi merasa rima Al-Waqiah itu puitis, terlepas dari arti suratnya yang tentang hari kiamat, dan fakta ini mengingatkanku bahwa,

betapa menyeramkannya penggambaran kiamat, Allah menggunakan rima yang indah untuk surat Al Waqi-ah.

bagiku, seakan Allah ingin mengatakan bahwa kiamat itu nyata akan kedatangannya, bentuk dan penggambarannya yang menakutkan dan menyeramkan, tetapi dengan bahasa yang indah dengan cara yang paling lembut, sebagai peringatan bagi hamba yang Ia sayangi. Lihat dan rasakan lah dengan hati, bahkan untuk menjelaskan hal yang menakutkan saja Allah gunakan bahasa yang paling baik, indah, puitis.

Di tengah perjalanan, aku merasa terharu. Hati ini, bisa ingat untuk memurojaah surat yang ingin dihafal, mulut, lidah, lisan ini dimudahkan untuk memurajaah ayat-ayat Al-Qur'an. Dan Alhamdulillah, otak ini, Allah karuniakan mudah dalam mengingat tapi tentu bisa saja mudah lupa jika jarang murojaah. Jadi, karena pertimbangan itulah, aku, In syaa Allah akan sering-sering memurajaah hafalanku. Mohon bantu do'anya teman-teman.

Dan yang membuatku terharu adalah bagaimana Allah mengarahkan hati ini untuk melakukan itu semua, dan Alhamdulillah Allah mudahkan. Setiap kali aku membahas hal seperti ini, aku selalu bilang, jangan lihat "aku" nya, tapi lihat bagaimana Allah mengarahkan hidupku.

Manusia akan meninggal sesuai kebiasaannya. 

Dan sebagai manusia yang tidak mungkin tidak memiliki dosa, aku ingin meninggal dalam keadaan husnul khotimah. Dan selain salat, aku rasa, membaca Al-Quran atau hal-hal yang berhubungan dengan Quran, baik itu murajaah, tadabbur (Quran Journaling), atau menghafal, adalah kebiasaan yang indah. Jujur saja, jika bukan saat salat, aku ingin Allah wafatkan aku dalam keadaan bersama Al-Qur'an. Karena bisa dekat dengan Al-Quran adalah keistimewaan tersendiri.

Jika salat Allah wajibkan tapi tidak dengan membaca Qur'an. Maka orang yang bisa dengan ikhlas dan sukarela mempelajari Al-Qur'an adalah sebuah privilege yang Allah berikan dan aku sangat bersyukur akan itu.

Wallahu a'lam bhissowaab..

Monday, October 27, 2025

Ada Uang Dingin? Nggak Ada, Lagi Diangetin!

Lu ada uang dingin, nggak?”

“Nggak ada, lagi gua angetin!”

Wkwkwkk..

Maaf kalau VT yang aku share agak kasar yaaa.. Hehe.. Biar kuperhalus..

Mungkin ini banyak terjadi di sekitar kita, jadi, buat yang mungkin pernah ngalamin kasus begini, ini bisa bantu jabarin.

Aku yakin banyak dari kita yang sebenarnya punya atau ada uang simpanan di luar uang kebutuhan. Tapi bukan berarti kita bisa kasih pinjam ke orang-orang yang mungkin masih struggle keuangan, kan?

Kelapangan, kenikmatan, kesenangan, atau apapun dan bagaimanapun kenyamanan yang saat ini orang lain lihat ada padaku adalah anugerah dan karunia yang sangat besar yang Allah berikan kepadaku. Tapi untuk mendapatkan semua ini pun aku harus melalui berbagai hal di masa lalu. Perjuangan, kesabaran atas ujian dan cobaan.

Waktu aku share makanan enak yang kumakan, mungkin ada yang melihatnya sebagai pamer kenikmatan. Tapi apa kalian tau, aku pernah ada di titik makan cuma pakai nasi dan garam? Yaa mungkin anak-anak lain juga banyak yang merasakan, tapi keadaanku waktu itu karena benar-benar nggak punya makanan, bukan karena doyan (karena ada anak-anak yg memang doyan makan nasi pkai garam aja, kan).

Atau di suatu waktu mamaku Cuma pegang uang dua ribu, waktu lapar siang hari blio belikan uang dua ribu itu mi gelas tapi ternyata ketika diseduh bumbunya sudah mengeras dan ketika kami makan (iya, mi gelas satu, dimakan berdua pakai nasi) kuahnya sudah asam, ternyata mi nya sudah kadaluwarsa.

Atau ketika aku share jalan-jalan,

“Enak, lu, mah bisa ke sini ke situ”

Tapi apa kalian tau, dulu jaman sekolah aku nggak pernah jalan-jalan kecuali ada study tour dari sekolah? Karena keluargaku ga ada budget buat jalan-jalan, kecuali mudik yang itupun tidak setiap tahun. Study tour itupun uangnya harus ditabung dari jauh-jauh hari.

Ketika aku pamer beli buku yang mungkin buat sebagian banyak orang mahal karena, mungkin, nggak ngenyangin lah, satu buku seratus ribu, bisa buat beli yang lain. Tapi buatku, buku juga kebutuhan. Buku itu makanan buat otakku, batinku, jiwaku..

Kadang, memang, aku secara frontal bilang, misal, “Mau pamer buku, ah” atau apapun kata yang mungkin terkesan sombong, itu murni bercandaan karena kuanggap yang liat statusku teman. Sosmed, WA, atau apapun yang menghubungkan kita itu media berteman dan mencari teman, kan? Kalau kalian nggak bisa ikut senang atas kesenangan yang teman kita rasakan apa masih bisa dibilang teman? Manusia memang beresiko iri dan dengki, tapi yang jahat akan menunjukkannya, sementara yg baik akan menahannya. Bukan karena munafik, tapi ia menjaga perasaan temannya.

Dari semua share-an buku yang sekarang bisa aku beli, ada masanya dulu aku Cuma bisa pinjam di perpus atau dari teman. Kalau beli buku Cuma pas cuci gudang penerbit yang satu bukunya Cuma sepuluh ribuan. Kalau sekarang Allah mampukan aku beli buku harga ratusan ribu, bisa jadi itu reward atas kesabaranku bertahun-tahun dulu, kan? Apa aku nggak boleh menikmatinya?

Makanya ketika ada yang bilang,

“Jangan iri melihat kenikmatan yang dirasakan orang lain karena kita nggak pernah tau apa yang sebelumnya Allah ambil darinya”

Dan itu memang benar.

Makanya aku pun menerapkan itu ke diri aku sendiri. Aku berusaha nggak jadi sumber ‘ain untuk siapapun. In syaa Allah aku akan selalu senang melihat kenikmatan yang dirasakan teman-temanku. Kalaupun ada hal yang aku inginkan seperti mereka, aku berdo’a langsung ke Allah supaya bisa merasakan nikamat yang sama tanpa mengurangi nikmat yang mereka rasakan. Karena adabnya memang begitu.

Pencapaiannya, prestasinya, atau bahkan hal-hala kecil yang bikin mereka bahagia, In syaa Allah aku akan ikut berbahagia. Karena aku nggak tau perjuangan dan kerja keras mereka sperti apa di balik layarnya. Jadi, atas dasar itu, aku pun berharap teman-teman bisa ikut merasakan kesenangan yang orang lain rasakan. Bukan Cuma aku.

Dan untuk kasus pinjam meminjam. Jujur, aku kurang nyaman ketika ada yang mengandalkan aku. Bukan sekali dua kali. Bahkan gaji suamiku sudah diklaim untuk dipinjam sebelum tanggal gajiannya. Jujur, ya. Aku tersinggung.

Aku, istrinya, yang setiap hari ngurusin, setiap malam tirakatin, do’ain, dari sebelum subuh udah sibuk di dapur nyiapin masakan dan perbekalan. Belum megang gaji suamiku, trus ada orang, sebelum tanggal gajiannya, udah mau klaim dengan alasan minta tolong? Lebih dari sekali? Bahkan suamiku aja belum nerima hasil kerja kerasnya sebulan. Blio yang begadang kalau lagi banyak kerjaan. Blio yang beban pikiran kalau lagi ada tekanan dari atasan, blio yang pergi pulang jauh-jauh setiap harinya. Iya, nanti pas suaminya gajian langsung diganti. Tapi ya kenapa nggak belajar atur uang belanja sampai ke tanggal gajian suaminya sendiri? Kenapa harus gaji suamiku yang buat bantu talangin? Sekali dua kali masih aku kasih, tapi kalau dijadikan andelan begini aku nggak bisa. Nanti kebiasaan.

Dengan kelapangan yang sekarang aku rasakan, In syaa Allah, aku senang berbagi, tapi aku nggak suka dimanfaatkan. Aku bisa bedakan mana yang beneran butuh dan mana yang menjadikan aku andelan. Aku juga pernah pinjam uang, minta talangin teman atau sejenisnya, lah. Tapi nggak setiap bulan, nggak dijadikan kebiasaan. Karena orang lain juga punya kebutuhan, orang lain juga pingin menikmati hasil kerjanya. Jangan lah diganggu dengan kasus pinjam meminjam. Merusak kebahagiaan. Apalagi kalau nggak bisa dikabulkan malah julid ketika orangnya menikmati hasil kerja kerasnya. Misalnyaaaa..e


Seringkali kasus pinjam meminjam ini merusak silaturahmi. Hubungan yang tadinya baik-baik saja jadi rusak karena masalah uang. Aku sendiri sebisa mungkin menghindari hutang jadi aku juga nggak mau dihutangin.

Mohon maaf dan terima kasih 🙏

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Monday, October 13, 2025

Menjadi Dewasa Ternyata Semelelahkan Itu

Sungguh, tidak terasa, dua bulan lagi kita akan memasuki tahun 2026. Begitu banyak yang sudah terjadi dan juga saya lewati. Alhamdulillah, sejauh ini tidak ada penyesalan. Meskipun ada beberapa hal yang tidak bisa dilaksanakan, atau terlambat dilakukan, tapi aku percaya, memang begitulah alurnya harus berjalan. Bisa saja yang terhambat karena ada khila yang saya lakukan, tetapi ada juga yang terasa sangat cepat Allah kabulkan dan hadirkan apa-apa yang saya inginkan. Sungguh, syukur ini terasa tidak pernah cukup untuk saya ucapkan atas segala rahmat Allah yang sudah Ia curahkan.

 

Baru semalam, aku menemukan sebuah postinga, bahwa sesungguhnya, tidak ada manusia yang tau apa yang akan ia lakukan di hari esok. Meskipun bisa jadi malam sebelumnya sudah kita rencanakan, itupun seringkali ada kejadian-kejadian yang pada akhirnya memengaruhi apa yang pada hari itu terjadi. Seperti saat ini.

 

Semalam, aku sudah membayangkan beberapa kegiatan atau to do list yang ingin dilakukan, tetapi saat tiba waktunya, ada perubahan yang harus disesuaikan.

 

Aku ingat saat awal-awal mendengar isu soal Gaza dari mamaku sewaktu kecil. Digambarkan rakyat Gaza adalah orang-orang pemberani. Yang melawan penjajah hanya bermodal batu. Mereka menimpukkan batu ke tank-tank militer Israel. Setelah bertahun-tahun, sama sekali tidak terbayangkan bahwa aku akan mengalami juga tahun-tahun di mana berita penjajahan ini memuncak. 7 oktober 2022 akan menjadi tanggal bersejarah saat pertama kali melihat berita komandan militer Israel ditangkap, dengan keadaan memakai kolor pendek. Ada rasa membuncah di dada saat melihatnya. Tapi kemudian keadaan naik turun. Gencatan senjata lalu perang lagi. Pertukaran tahanan, berita penyiksaan yang tidak manusiawi, seolah semua siksa neraka sudah diwujudkan oleh para tentara IDF itu terhadap tahanan palestina. Yang bahkan mereka ditahan pun tidak ada alasannya.

 

Terakhir soal isu global sumud flottila. Yang pada akhirnya menggerakkan dunia untuk mmemberikan bantuan kemanusiaan langsung kepada rakyat Gaza karena bantuan sebelumnya mereka tahan. Sempat ada isu gencatan senjata lagi, tapi seperti yang sudah-sudah terjadi, Israel tidak pernah menepati janji.

 

Lelah, dengan segala keadaan yang ada. Kadang berpikir harus seperti apalagi kita berupaya. Wajar saja semakin ke sini rasanya orang-orang semakin aware dengan mental helath. Karena ternyata, menjadi dewasa semelelahkan itu. Exhausted. Rasanya sudah drowning banget ngadepin isu-isu palestina ini. Tapi kalau kita saja lelah, apalagi mereka yang menghadapinya secara langsung. Sungguh, hanya Allah yang bisa menolong mereka. Kalau bukan Alah yang menguatkan, mungkin saat ini Plaestina sudah benar-benar musnah.

Wednesday, January 15, 2025

My Attitude about Birthday and Where I Stand


Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.. Selamat malam, teman-teman.. Hehe..

Aku ada yang mau disampaikan sedikit..

Jadi, beberapa hari lalu aku baru saja dapat undangan ulang tahun dari tetanggaku. Well, sungkan sebenarnya untuk bahas ini. Tapi aku rasa sudah saatnya aku sampaikan.

Aku dan keluargaku tidak merayakan ulang tahun. Baik ulang tahun orang lain ataupun diri sendiri. Alasan utamanya karena Islam tidak mengnal ulang tahun. Dibahasakan maulid pun sama saja. Atau milad, akar katanya sama. Hanya di islamisasi. Bukan aku yang bilang. Bisa dicari pembahasannya dari guru/Ustadz/ah sunnah yg kredibel.



Tidak ada paksaan atau menyinggung siapapun dalam hal ini. Aku hanya ingin menyampaikan apa yang aku yakini dari apa yang aku pelajari dan pahami. Kalau ada teman-teman yang masih merayakan ulang tahun, silakan, kembali kepada kepercayaan masing-masing. Aku tidak mau menyinggung/menyindir atau apapun yang sekiranya bisa mnimbulkan gesekan antara kita. Tapi, sebagaimana kalian ingin bebas merayakan apapun untuk kesenangan kalian, aku pun hanya ingin menyampaikan sikapku terhadap acara ulang tahun. Aku akan menghindari datang ke perayaan ulang tahun siapapun. Baik yang bentuknya pesta perayaan ataupun yang dibalut selamatan. Kecuali semisal aqiqah atau selamatan rumah baru, syukuran yang masih dibolehkan dalam Islam.



Termasuk ucapan “Barakallahu fii umrik” sekalipun yang sering diucapkan di antara teman-teman muslim tetapi waktunya, konteksnya dikhususkan ketika ada yang berulang tahun. Itu tetap merujuk pada perayaan ulang tahun yang seolah dibalut unsur keislaman. Pernyataan tidak membolehkan di sini bukan aku yang bilang yaaa.. Silakan yang tidak setuju, dicari dulu hukum ulang tahun dalam Islam. Ini juga bukan sebagai pernyataan bahwa aku lebih berilmu atau lebih taat. Aku masih belajar dan di sini aku hanya menjalankan/mempraktekkan apa yang aku pelajari.



Kenapa aku sampaikan di sini? Karena ini akun personal dan banyak mutuals yang kenal dan akrab dan saling tahu dan ingat hari ulang tahun satu sama lain. Jika dirayakan, ada kemungkinan (aku/anakku/keluargaku) diundang. Dan karena itulah hal ini aku sampaikan. Sebelumnya sempat beberapa kali aku mendapat undangan (untuk anakku) tapi qadarullah, aku dan anakku tidak bisa menghadirinya tanpa perlu mengarang alasan. Anakku yang ketiduran, ada acara lain, atau sebab lainnya. Tapi rasanya tidak mungkin aku akan menghindar terus setiap diundang ulang tahun, khawatir jatuhnya aku harus berbohong/ mengarang alasan untuk menghindari acara ulang tahun-ulang tahun lainnya. Jadi, lebih baik disampaikan bahwa aku, keluargaku, anakku, tidak merayakan ulang tahun atau hadir ke perayaannya. Karena hadirnya aku di acara tersebut ya sama saja ikut merayakan. Jadi, daripada yang mengundang sedih/sakit hati/kecewa karena undangannya tidak dihadiri lebih baik tidak usah mengundangku/keluargaku. Aku nggak apa-apa 🙏 Justru, aku sangat berterima kasih kalian menghargai sikapku ini. 



Aku sendiri pun masih bingung bagaimana nanti menyikapi undangan ultah dan menyampaikannya ke anakku. Sempat anaku mendengar tentang temannya yang ulang tahun tapi aku hanya bilang, “Nggak ya, deek” Dan Alhamdulillah dia mau nurut. Ketika aku ingin memberi hadiah, tidak perlu menunggu acara ulang tahun juga bisa, mungkin di momen lainnya,



Jadi, intinya, lebih baik tidak mengundangku untuk hadir ke perayaan ulang tahun yaaa. Aku sampaikan jujur seperti ini supaya kalian paham sikapku di mana terhadap acara ulang tahun ini. Aku tidak mau menghakimi yang merayakan dan aku pun tidak ingin dihakimi hanya karena persoalan ulang tahun ini. Semoga dapat dipahami. Barakallahu fiik. Jazakumullahi khairan. Wallahu A'lam bisshowab 🙏


America and Qs Al-Fath


Kejadian yang sering diperbincangkan akhir-akhir ini, banyak yang menghubungkan dengan Al-Baqara: 266


Tapi, qadarullah, yang kutemukan sedikit berbeda. Bukan bermaksud menandingi, tetapi sekadar menambahkan. Berhubungan dengan apa yang akhir-akhir ini kulakukan (Qur'an Journaling) dan apa yang kutemukan dan kupikirkan.

Ketika memasuki surat ini, ayat pertamanya langsung menarik perhatianku. Rasanya ayat ini terdengar familiar. Tapi kutahan diriku untuk mengkajinya lebih lanjut. Aku selesaikan bacaan Qur'an ku pagi itu sampai selesai beberapa surat. Kebetulan di juz ini suratnya pendek-pendek.

Setelah mencapai target bacaan, akhirnya kuambil Qur'an terjemahku. Kubuka surat Al-Fath dan kubaca arti keseluruhannya. Dan betapa amazednya aku ketika berusaha memahami artinya dan seketika pikiranku terhubung dengan kejadian yang sedang ramai dibicarakan saat ini. Kebarakaran Los Angeles, Palisade. Dimana Kebakaran besar terjadi, melenyapkan rumah-rumah mewah milik para elit, termasuk artis Hollywood dan para pengusaha juga petinggi serta orang penting lainnya.


Di ayat pertama ini, Allah langsung membukanya dengan pernyataan yang cukup kuat, kemenangan yang nyata


Dari beberapa ayat yang kuhighlight dalam surat Al-Fath ini, jujur, aku paling tercengang dengan ayat 24 ini. Di sini Allah menyatakan bahwa Allah mencegah tangan mereka (yang kuasumsikan adalah Zion dan Mamarika) dari membinasakan kamu (rakyat Gza) dan Allah juga mencegah tanganmu dari membinasakan mereka (berlaku sebaliknya). Jadi, menurutku, jika dihubungkan dengan keadaan saat ini, ya benar. Bertahun-tahun rakyat plstn dijajah, di-gnoside, digempur habis-habisan, tapi sampai sekarang mereka masih bertahan. Meski generasi-generasi terus berusaha dihabisi dengan sengaja membuat kurang gizi, kelaparan, sekolah-sekolah mereka dihancurkan, tapi rakyat plstn tetap ada. Meski para ibu harus melahirkan tanpa fasilitas yang memadai bahkan minim dan harus menjalani proses melahirkan yang mengerikan, sakit tidak tertahankan karena tanpa biusan, kelahiran tetap terjadi. Kalau bukan kuasa Allah, siapa lagi?

Dan bersamaan dengan itu juga, Allah mencegah tangan-tangan suci plstn membalas secara langsung kezaliman musuh mereka. Allah sendiri yang membalas kejahatan dan apa yang mereka lakukan selama ini dengan mengirimkan bala tentaranya. Api (kebakaran), angin (yang menyebarkan api), dan air (tsunami), juga badai salju. Kurasa, tangan-tangan rakyat plstn terlalu berharga untuk membalas musuh mereka yg hina itu. Jadi Allah sendiri yang turun tangan membalasnya dengan mengirimkan bala tentaraNya.


Di ayat berikutnya, Allah sebut mereka orang-orang yang menghalangi kamu (Muhammad) memasuki Masjidil Haram. Karena surat ini memang menceritakan tentang Nabi Muhammad, tapi ternyata relate juga kan dengan keadaan rakyat plstn yang sekarang selalu dihalang-halangi memasuki Masjidil Aqsa?

Dan mungkin, banyak dari kita bertanya-tanya, Kenapa sih mereka tuh nggak dimusnahkan aja dari muka bumi?

Dan di ayat 25 Allah menjawab lagi, bahwa di antara kaum itu, di antara mereka, masih ada, istilahnya, orang baik yang beriman, yang mungkin masih Allah kasih rahmat. Yang kalau Allah izinkan kita untuk menghabisi mereka, kita sendiri yang akan kesulitan karena rahmat Allah masih menaungi mereka. Dan seandainya ada batas yang jelas dan terpisah antara orang-orang itu tentu sudah Allah binasakan semuanya.


Dan ketika orang-orang kafir yang sombong itu berkoar-koar, bilang akan melakukan ini itu terhadap kamu muslim, mengancam, menakut-nakuti, Allah berikan ketenangan ke dalam hati umat Muslim. Dan terbukti, kan, sekarang, sementara mereka pontang-panting mengatasi bencana yang bertubi-tubi, berurutan tanpa henti, Kaum Muslimin menyaksikan kehancuran orang kafir karena kesombongan mereka sendiri. Bagiku sendiri, ini semakin memperkuat iman bahwa Firman Allah itu benar. Maha Benar Allah dengan segala firmanNya. In syaa Allah, kemenangan itu dekat. 

Wallahu A'lam Bishowab..

Saturday, September 28, 2024

Peta Perjalanan Hidup


Terkadang, nggak habis pikir sama orang, yg kalau dikasih saran atas permasalahan hidup, dinasihatin ini itu dengan agama dan dalil, dijawabnya, "alah gausah bawa-bawa agama lah"


Kocag.


Kita hidup di dunia ada yg menciptakan. Yang menciptakan kita, punya aturan agama sebagai aturan hidup makhluknya. Kalau apa-apa nggak mau dikaitkan dengan agama lalu kita mau hidup pakai aturan siapa?


Ibaratnya, seorang manusia berakal itu lahir ke dunia sudah sepaket dengan kontrak hidupnya. Ada aturan yang harus ditaati, ada larangan yang harus dijauhi. Itu yang menjaga kita untuk bisa tetap hidup dengan baik. Di dunia dan kelak di akhirat.



Kita lahir ke dunia ini ibarat sedang berpetualang. Rumah kita bukan di sini. Tapi di surga. Insyaa Allah. Ini hanya sebuah perjalanan. Agama beserta perangkatnya, yaitu Al-Quran dan hadist adalah peta perjalanan kita selama berpetualang ini. Kalau mau dijabarkan, peta kehidupan ini mungkin akan terlihat luas dan kompleks. Tapi peta inilah satu2nya petunjuk jalan yang diberikan Allah agar kita bisa kembali pulang. Ini bekal kita untuk kembali ke surga kalau kita bisa membaca dan mengikuti arah jalan yang ditunjukkan peta ini. Kalau kita gagal membaca peta, ya kita akan tersesat.


Selama perjalanan kita akan menemukan tantangan dan cobaan. Butuh keahlian, kesabaran, kepintaran dan skill lainnya untuk tetap berada di jalur yang aman. Bahayanya, kalau kita tersesat dan terus tersesat, kita tidak akan bisa pulang. Malah, akan mengarah kepada tujuan yang salah. Neraka. Dan itu adalah tujuan akhir bagi orang yang tersesat. Selamanya.



Jadi, bersyukurlah kalau hidup kita selalu berpedoman pada agama. Karena memang itu petunjuk jalan pulang kita. Kalau ada yang mengingatkan, bersyukurlah, berarti kita tidak sendirian menjalani petualangan ini. Kita punya teman perjalanan yang bisa membantu kita membaca peta kehidupan. Saling tolong menolong untuk sama sama menuju tempat yang sama. Jangan justru merasa risih, tersinggung dan terganggu. Mereka bisa jadi dikirim Allah untuk mengingatkan kita 


Menjalani kehidupan yang berat ini terkadang kita pun butuh sandaran. Ada masanya kita lelah, ada saatnya kita butuh teman berbagi dan bicara. Kalau ada yang menemanimu, maka itu adalah bentuk rezeki yg patut disyukuri.


Pernah membaca ilustrasi surga kelak? Di surga ada banyak taman dan sungai yang indah, rumah-rumah mewah, orang-orang saleh/salihah akan saling bertetangga. Mereka menikmati segala macam kenikmatan terbaik yang bisa ditawarkan Allah. Yang mungkin belum pernah terbayangkan oleh logika manusia bahwa akan ada kenikmatan seperti itu. Dan kalau kita bisa melakukan perjalanan dan petualangan di dunia ini dengan baik maka itulah tempat/tujuan akhir kita sebenarnya. Tempat kita kembali pulang.


Perjalanan ini akan sulit, tapi akan sangat sepadan dengan apa yang akan kita dapatkan. Tempat kita bergantung hanya Allah. Mungkin, secara wujud fisik kita belum bisa melihat Allah secara langsung. Bukan karena Ia tidak ada, tetapi karena ruh kita belum mampu menerima cahayaNya di dunia. Tapi meski begitupun, sebenarnya kita bisa merasakan kehadiranNya. Jika saja hati ini cukup lembut untuk merasakan sentuhanNya. Bahkan sebenarnya, Allah memang selalu ada, namun hati kita yang terlanjur tuli dan buta untuk menyadariNya.


Kelak, ketika kita sampai di rumah, barulah kita bisa kembali melihatNya.


Sesekali mungkin kita akan jatuh, tersesat, dan kehilangan arah. Maka mintalah pertolonganNya supaya kita bisa kembali ke jalan yang benar. Baca lagi peta petunjuk kita dengan saksama agar kita bisa kembali menemukan arahnya.


19.9.24 3.50 am

Thursday, September 5, 2024

Jadilah Pencari Hidayah



Allah mengaruniakan hidayah kepada orang-orang yang dipilihNya, tapi jangan lupa bahwa hidayah juga perlu dicari, perlu dijemput.
Banyak orang yang sudah diberikan tanda hidayah tapi mereka tidak mau menjemput, sehingga hidayah itu juga tidak berhasil didapatkan. Atau justru diabaikan.

Dengan kutipan bahwa Allah mengaruniakan hidayah kepada orang-orang pilihan banyak yang menjadi lalai tidak mau berusaha lebih keras mencari hidayah Allah dengan anggapan bahwa jika belum mendapat hidayah maka semata-mata karena Allah belum memberikan. Padahal kita yang kurang giat mencari atau malah mengabaikan tanda-tanda hidayah yg sudah diberi.



Allah Maha Kuasa, jika Ia berkehendak seorang fasik pun bisa Allah berikan hidayah. Tetapi jika Allah memberikan hidayah kepada orang-orang pilihan kenapa kita tidak berusaha menjadi satu di antara orang-orang pilihan tersebut?

16.3.22 7.03 pm

Mirip konteksnya dengan ungkapan "Manusia masuk surga bukan karena amalan mereka, melainkan karena rahmat Allah" Lalu apa lantas kita cukup berdiam diri menunggu diberikan rahmat Allah? Pahami bahwa Allah memberikan rahmatNya karena cinta. Ia memberikan rahmatNya kepada hambaNya yang ia cintai. Usaha kita adalah bagaimana agar Allah mencintai kita. Ya dengan beribadah kepadaNya. Taat pada syariatNya, jauhi maksiat yang dilarangNya. Tingkatkan kualitas dan perbanyak amalan lainnya terutama ibadah sunnah.

Ubah mindset yang mengatakan "aah itu kan cuma sunnah" Lalu menjadi abai dan tidak semangat menjalankan. Salah. Ibadah sunnah itu istimewa. Jangan disepelekan. Justru harus lebih dikejar.



Sekadar menjalankan ibadah wajib salat 5 waktu, itu, bare minimum seorang muslim. Common, average, standard. Nggak ada istimewanya. Sebenarnya. Tapi keadaan muslim saat ini memang bisa dikatakan semakin terasing. Muslim salat 5 waktu dibilang rajin. Sudah dilabeli bagus agamanya. Dianggap paham agama.

 Tidak salah. Tapi kurang tepat.

Dulu waktu saya masih sekolah, murid laki-laki yang salat jumat dibilang ganteng. Padahal itu kewajiban. Tanpa udzur apapun laki-laki ya wajib salat jumat. Salat wajib yang 5 waktu saja seharusnya berjamaah di masjid apalagi salat Jumat yg hanya sepekan sekali.

Miliaran muslim salat 5 waktu. Meskipun banyak yg istilahnya Islam KTP, tapi coba bayangkan berapa banyak muslim yang benar-benar taat menjalankan kewajiban Salat 5 waktu. Itupun amalan kita wallahu a'lam apakah sempurna diterima atau masih ada cacatnya. Itu pentingnya kita muhasabah diri, introspeksi.

Apakah wudhu kita sudah sempurna, bacaan kita sudah benar tajwidnya, makharijul hurufnya, sudah khusyuk atau masih sering diganggu pikiran2 akan dunia, sudah tuma'ninah atau sering terburu-buru? Dan banyak cacat-cacat lainnya.




Pentingnya kita berkumpul dengan orang-orang saleh. Atau paling tidak lihatlah orang-orang saleh. Supaya ada pembanding di mana tingkatan amalan kita. Dengan begitu semoga kita terpacu dan termotivasi untuk terus memperbaiki diri.

Orang-orang saleh bisa jadi punya amalan yang berbeda-beda selain yang wajibnya. Ada yang rajin puasa, ada yg selalu salat dhuha, ada yang tak pernah putus qiyamulailnya, ada yang kuat sedekahnya, ada yang hafidz 5 juz, 10 juz, bahkan 30 juz, ada yang murojaahnya kuat berjam-jam.
Kita ada di level yang mana? Kalau kita berkumpul dengan orang-orang seperti itu sementara amalan andalan kita hanya salat 5 waktu, malu nggak?

Sementara keinginan kita banyak, ingin terkabul cepat. Dan kebanyakan masih soal urusan dunia. Ingin cepat sukses, ingin dapat gaji besar, ingin punya ini punya itu. Seberapa sering kita berdoa agar diberikan hidayah, diberi kemudahan menerima ilmu, dilembutkan hati menerima nasihat, bisa istiqamah menjalankan amalan.

Kalau ibadah yg wajib sudah sempurna ibadah sunnah bisa jadi tambahan nilai kita di mata Allah. Kalau belum sempurna maka ibadah sunnah jadi penambal kecacatan ibadah yang mungkin masih ada. Sama sekali tidak ada ruginya.

Mungkin Allah paham karakter kita atas kecintaan dunia. Maka Allah wajibkan salat 5 waktu untuk menjaga kita tetap terhubung denganNya. Sudahkah kita mentadabburi bacaan salat yang sering kita baca? Dalam bacaan salat, selain kita memuji Allah, juga banyak berisi doa untuk diri kita.

Salah satu contohnya bacaan ketika duduk di antara 2 sujud:


Allah mungkin sudah paham kita akan berdoa lebih banyak meminta dunia dibanding kepentingan akhirat, maka Allah selipkan doa demikian dalam salat yang kita kerjakan. Agar sadar tidak sadar kita sudah menyelipkan satu doa sederhana demi kepentingan akhirat kita.




Nasihat ini adalah sebuah pengingat. Utamanya untukku, sebelum untukmu. Tapi semoga sekecil-kecilnya pengaruh artikel ini bisa menjadi saksi atas langkahku menyampaikan ilmu.

Wallahu a'lam bisshowaab.
Barakallahu fiik..

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Semua gambar bersumber dr pinterest. Credit respectfully to the owner stated on the pic. Barakallahu..