Thursday, February 12, 2026

Kemana Istri Harus Bercerita?

Suatu waktu, PakSu ngirimin vt Ustadz  yang bilang, “Secara syariat, tidak ada kewajiban suami mendengarkan curhatan istri” Well, vt ini mentrigger aku, sih. Hehe..

Bukan bermaksud menzahir seorang Ustadz, aku hanya berargumen dari sisi seorang istri.

Dalam syariat mungkin benar tidak secara spesifik dikatakan bahwa suami harus mendengarkan curhatan istrinya. Sama seperti rokok yang tidak secara literal dikatakan haram tetapi difatwakan haram karena dilihat lebih banyak mudharatnya (keburukannya) daripada manfaatnya termasuk rokok elektrik/vape. Tapi dalam syariat juga dikatakan suami adalah qawwamnya istri, hubungan suami dan istri adalah “persahabatan” terbaik, dalam Al-Quran, istri juga disebut sohibatihi (sahabat – Surat Abasa). Suami seharusnya memuliakan istri, menjaganya, melindunginya, memberikan nafkah lahir dan batin. Dalam konteks yang terakhir, menurut saya, mendengarkan cerita istri, menjadi tempatnya bercerita adalah termasuk nafkah batin. Dengan bercerita ke suaminya ada ketenangan dan kelegaan yang dirasakan. Apalagi, ya, istri seperti saya yang memang hobi bercerita. Kata dr. Aisah Dahlan (hidup bunda Aisah!) juga berdasarkan penelitian, perempuan memiliki kuota 20,000 kata per hari yang rata-rata dikeluarkan, sementara laki-laki hanya sekian persennya.

 

Saya bicara dengan POV sebagai istri, juga perempuan yang sudah merasakan baik menjadi working mom juga IRT. Seharian, terutama IRT berkutat dengan pekerjaan rumah dan anak, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan benda mati. Apa perlu ia mengajak ngobrol barang-barang yang setiap hari dipegangnya? Selama menjadi IRT ada kalanya juga saya jenuh dengan pekerjaan dan jadwal harian yang monoton. Masak, menyiapkan bekal, menyiapkan anak berangkat sekolah, antar jemput, dst. Menjadi working mom pun ada jenuhnya, ketika pekerjaan sedang padat, capek di perjalanan, pagi-pagi harus berhadapan dengan kemacetan, dll. Katanya, jangan curhat ke medsoso urusan rumah tangga, lalu, muncullah ungkapan bahwa suami tidak ada kewajiban mendengarkan curhatan istri, terus istrinya curhat ke siapa? Tembok? Nanti kalau istrinya burnout lalu marah-marah ke anak, salah lagi?

Sekali lagi, saya bukan bermaksud menzahir atau mendebat Ustadz. Ustadz pun manusia, terkadang apa yang ia ucapkan tidak selalu bisa dibenarkan atau diterapkan. Saya pun juga tau, Ustadz yang bilang ini pun, pernah di vt lain bilang, yang secara terjemahan bebasnya bisa saya katakan seperti ini, “Para suami, kalau kita pulang kerja, sekian jam di luar, begitu sampai rumah, jangan anak yang langsung ditanya, tanya dulu istri kita, gimana seharian di rumah, ada cerita apa, ngapain aja di rumah, ada yang mau diceritakan nggak? Kasihan itu istri kita seharian di rumah menunggu kita, ngurus anak, ngurus rumah,” Berarti kan Ustadz itu sendiri punya kebiasaan mendengarkan cerita istrinya. Hanya mungkin di vt yang sebelumnya saya sebutkan beliau entah sedang menjawab pertanyaan salah satu jamaah atau bagaimana, yang menjelaskan tidak ada dalam syariat yang secara spesifik mengatakan suami wajib mendengarkan curhatan istri. Tetapi ya seperti yang saya bilang, bagi saya, suami mendengarkan baik itu curhatan, keluh kesah, atau hanya cerita-cerita receh dan random adalah bentuk nafkah batin. Bukankah justru bagus kalau suami bisa jadi tempat istri bercerita? Berarti istri merasa aman bercerita apapun ke suami dibanding ke orang lain.

Nanti kalau istri menemukan tempat curhat yang lebih nyaman apa nggak lebih bahaya?

Tuesday, February 10, 2026

Tunjukkan Nikmat Yang Allah Berikan

Kalau beberapa tahun terakhir kita semakin familiar dengan ain, tahun 2025 aku belajar tentang Tahadduts bin Ni'mah. ada yang sudah pernah dengar? Mohon koreksinya kalau salah ya..

Jadi, beberapa tahun belakangan ini kan kita sudah kenal dan aku rasa banyak yang sudah paham tentang ain dan bahayanya. Tentang jangan mengumbar kenikmatan karena nanti ada yang hasad, iri, tidak suka dengan kenikmatan dan pencapaian kita. Nanti bahaya ke kita nya, kenikmatannya jadi hilang, apa yang sedang diusahakan jadi gagal, dll.

Nah tahun lalu, aku justru belajar tentang hal sebaliknya. Kenikmatan yang Allah beri, tunjukkanlah.

Hal ini berdasarkan surat Ad-Dhuha ayat 11

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh Dhuha: 11)

Penjelasan lengkapnya di sini ya.

Jadi intinya, Tahadduts bin ni'mah ini, konsepnya, kalau kita mendapat/merasakan nikmat dari Allah, tunjukkan sebagai rasa syukur, bukan sebagai pamer. Karena pada dasarnya kita nggak akan mendapatkan nikmat itu kalau bukan karena Allah yang berikan dan izinkan. Jangan kita menunjukkan bahwa kita tidak pernah punya apa-apa, hidup kita flat-flat saja, atau malah terkesan susah, kesenangan selalu disembunyikan. Jatuhnya justru seolah-olah Allah tidak pernah memberikan nikmat ke dalam hidup kita. Padahal nikmat Allah itu sangat banyak dan luas. Nggak melulu tentang uang dan materi. Aku juga pernah membahas soal ain di postingan ini, ain nggak melulu tentang pencapaian yang besar, sesimpel share tentang kehamilan bisa mengundang ain bagi yang masih berjuang garis dua, sharing pumping asi yang melimpah bisa jadi ain bagi yang asinya tidak keluar, bercerita anak yang nurut, gampang diarahkan juga bisa menjadi ain bagi orang tua yang anaknya tantruman. Kalau apa yang terjadi di kehidupan selalu dikaitkan dengan ain, hidup kita nggak akan kemana-mana. Apa-apanya takut ain.

Sebagai tambahan, soal memancing ain atau tidak, itu tergantung hati kita. Bagaimana niat kita ketika berbagi cerita atau misal posting suatu hal. Kalau niat hati kita untuk pamer dan riya maka bisa memancing ain. Sementara kalau niat kita untuk menunjukkan dan sebagai rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan, In syaa Allah yang akan datang pun hal-hal baik pula, seperti teman-teman yang ikut berbahagia atas kenikmatan kita. Dan dengan begitu Allah pun akan menambah nikmatnya. Istilahnya apa yang kita sharing akan menarik sesuai frekuensinya. Kalau frekuensinya tinggi dan baik dia akan menarik hal-hal baik pula. Kalau frekuensinya rendah dan buruk maka ia akan memancing ain dan hal buruk lainnya.

Tidak semua yang sharing itu untuk pamer. Ada yang sekdar merayakan pencapaian, berbagi kebahagiaan, review barang, makanan, tempat jajan, atau yaa memang sekadar suka berfoto.

Tentang hal buruk atau yang tidak kita sukai setelah kita membagikan sesuatu, misalnya, itu kembali lagi, terjadi atas ridho Allah. Jangan terlalu saklek juga, "Oh ini pasti karena ain nih" Nggak selalu seperti itu. Karena kehidupan ini kan ada naik turunnya, baik buruknya. Nggak mungkin baik semua. Allah meridhoi terjadinya hal buruk dalam hidup kita kan banyak tujuannya. Bisa sebagai ujian yang akan menaikkan derajat keimanan, atau supaya kita bisa mengambil pelajaran, atau sebagai pembeda agar kita bisa bersyukur saat diberi kenikmatan. Kalau semua hal dikaitkan dengan ain, yang ada kita jadi selalu berburuk sangka, bahwa ada orang-orang yang iri terhadap nikmat yang kita rasakan. Dan pada akhirnya menyembunyikan nikmat yang Allah berikan.

Ain itu dihindari dan dicegah, bukan ditakuti. Yang ditakuti itu Allah

Menunjukkan nikmat ini kan luas ya, bisa tentang apa saja dari urusan agama, akhirat hingga duniawi. misal bersyukur bisa datang kajian, bersyukur atas teman-teman yang mengajak kepada kebaikan, bersyukur soal makanan yang bisa dinikmati termasuk jalan-jalan ke tempat yang baik. Atau tentang kebaikan pasangan dan rumah tangga. Tapi tentu saja semua dalam kadar dan batas sewajarnya, jangan oversharing dan belajarlah memahami batasan privasi. Mana yang bisa diceritakan atau disimpan sendiri.

Akhir-akhir ini juga banyak aku temukan istilah-istilah ledekan terhadap orang yang memiliki pernikahan yang bahagia, kayak:

"Alaaah semua juga bakal pret pada waktunya"

Pernah dengar, nggak? Fyi, aku sebisa mungkin menghindari gosip/ghibah baik itu influencer, artis, atau siapa lah. Tapi berita seperti itu seolah nggak bisa dihindari. Bisa dari teman yang share atau dari mana lah. Aku nggak follow influencer selain beberapa yang aku ingat yang sering sharing soal agama.

Soal perkataan tadi, aku cuma mikir, seburuk apa sih keadaan RTnya sampai melihat RT orang lain yang bahagia kok iri begitu ucapannya. Mungkin yaa karena banyak influencer/artis yang awal-awal kelihatan mesra, romantis, bahagia pada akhirnya muncul berita cerai, dll. Wallahu a'lam ya, aku nggak mau mengomentari RTnya, tapi lebih kepada, yuk biasakan kalau melihat yang baik itu doakan yang baik pula, kalau melihat atau mendengar yang buruk pun doakan kebaikan supaya segera reda dan membaik. Karena doa yang baik nggak cuma untuk orang yang didoakan tapi akan kembali kepada yang mendoakan dan ada hadistnya bahwa doaketika kita berdoa, malaikat ada di samping kita bukan hanya untuk mencatat, si fulan dapat pahala karena mendoakan saudaranya, tapi lebih dalam lagi, malaikat mengaminkan doa kita. Jadi kalau kita mendoakan keburukan, ya doai itu akan kembali ke kita juga. Rugi, nggak? Rugi banget lah. Kita kenal sama influencer/artis itu aja nggak, terus kita doain keburukan juga dapat dosa, udah gitu doa buruknya kembali kek kita juga. Subhanallah. 

Jazakumullahu khayr..

Wallahu a'lam bhissowab

Saturday, February 7, 2026

Review Grounded

Ada hal yang kupelajari dari Feek, salah satu tokoh di novel grounded, "kalau datang inspirasi, kapanpun, dimanapun, TULIS" karena kalau nggak, bisa lupa walaupun cuma 5 menit kemudian.

Hahaha, ini relate banget sama aku. Pokoknya kalau muncul apa di pikiran, mending kangsung tulis, deh, daripada lupa. Masalahnya, walaupun lupa, nanti keingetan lagi, yg ada bikin kepala penuh.

Menghafal Surat

Ingat perkataannya mba @hestiselfiana soal menghafal. Al-Waqiah ini awalnya sering aku rutinin baca ba'da subuh krn keutamaannya membuka pintu rezeki (aku blm pastikan dalilnya 🙏, yg tau boleh share yaa)

Karena rutin jadi lama² lumayan hafal, trus kalau lg ga reciting, aku murottal di yt setelah dzikir pagi. Lama² nambah² ayat yg keingat, gabungan dari rutin baca dan murottal (kalau lg ga sempat, kadang pagi tuh hectic banget kan weekdays)

Waktu itu pernah bahas teknik menghafal surat, salah satunya dg sering² mendengarkan, betul. Keingat juga dulu surat lailatul qadr itu aku hafal dari mendengarkan.

Tp mba hesti bilang perlu juga dibaca, dilihat, terkait makhorijul huruf dan harakat nya. Betul juga. Karena pernah ngalamin, salah satu doa dzikir pagi yg rutin aku dengarkan sampai hafal, eh ternyata setelah dilihat di al ma'tsurat ada yg salah bacanya 😅

Kenapa aku pilih Al-Waqiah? Kenapa nggak dari juz 30 yg dimulai dr An-Naba? Atau kenapa nggak dari Al-Ikhlas (3 qul) yg udh hafal diterusin ke surat yg lebih panjang?

Pertama, karena aku lebih familiar sama Al-Waqiah. Dan aku suka surat ini karena menurutku puitis, surat ini rimanya enak dibaca. Jadi, yaa karena unsur kenyamanan hati hehe

#2 Surat Al-Waqiah salah satu surat yang punya keutamaan istimewa. Yg lainnya ada:
Al-Mulk
Ar-Rahman
Yasin
Dari surat² itu yg paling tidak familiar adalah Yasin 😅 karena dari dulu aku ga pernah yasinan (yasinan yg dirutinin tiap malam jumat, silakan cari hukum & dalilnya🙏)

Jadi, dibanding hafalin juz 30, aku mau hafalin 4 surat itu dulu. Dulu sempat hafal Ar-Rahman yg fasih s/d ayat 30, pernah sampai full tapi krn jarang murojaah jadi lupa blasss huhuhu 😢

Al-Mulk Alhamdulillah cukup istiqamah dibaca sebelum tidur, selepas Salat Isya. Nah knp aku pingin hafalin Al-Mulk selain keutamaannya, juga krn salah satu sunnah Rasulullah sebelum tidur, tapi, karena aku blm hafal, aku bacanya sehabis Salat Isya dan bayangin kayaknya enak gitu kalau hafal baca Al-Mulknya udah di kasur mau tidur tinggal nunggu ngantuk.

Assalamu’alaikum, mantemaaaan. Selamat siang. Tentang Al-Waqiah kemarin, aku ralat yaaa. Keutamaan Al-Waqiah secara spesifik sebagai pembuka rezeki itu hadisnya dhaif/lemah jadi sama kebanyakan ulama tidak dipakai. Baca surat Al-Waqiahnya gapapa, dan ga ada spesifik waktu. Mau baca kapan aja boleh. Ba’da subuh, ba’da maghrib, setelah dhuha, anytime. Tapi aku udah terlanjur suka sama suratnya, jadi yaa In syaa Allah tetap dijaga ayat yg sudah dihafalnya. Tapi dari ke4 surat yg aku sebutkan sebelumnya, yg paling pendek itu surat Al-Mulk (30 ayat) dan tentang Al-Mulk sunnah dibaca sebelum tidur itu hadisnya hasan yaa.. Ini penjelasannya

Di sampinng itu, ada alasan lain aku ingin menghafal surat-surat yang lebih panjang. Aku pernah nemu postingan yang isinya,


"Kenapa harus menghafal Al-Qur'an?"

"Supaya kalau Salat bacanya nggak 3 qul melulu"


Seketika aku merasa tertampar. Yaa mungkin secara harfiah kita nggak selalu baca 3 surat pendek itu aja, tapi kebanyakan yang dibaca itu lagi itu lagi, kan? Jarang yang baca surat-surat panjang kecuali mungkin orang-orang yang terbiasa jadi imam di masjid. Yang biasa jadi makmum yang dibaca surat-surat pendek yang langsung habis. Padahal Rasulullah kalau Salat baca surat yang panjang dan nggak langsung habis itu juga sering. Misal baca ayat satu sampai 15 nanti dilanjut lagi. Itu pernah disebutkan di buku ini.

Terus aku pun mikir, iya juga ya, berapa tahun hidup di dunia, masa Salat bacaannya itu lagi-itu lagi. Kadang aku Salat sehari semalam aja bosen. Jadi, yaa lumayan laah, mulai sekarang bisa dirutinin baca Al-Waqiah dalam Salatnya. hehe.. Alhamdulillaah.

Surat lainya, Al-Mulk lumayan hafal berapa ayat. Karena kalau pas play murottal, ngikutinnya lancar, tapi yaa pas murojaah sendiri bingung lagi. Ar-Rahman juga harus mulai hafalin dari awal lagi, sekarang hafalan Ar-Rahman tersisa 13 ayat aja. Sampai fa bi ayyi ala irobbikumaa tukadziban yang pertama.

Btw, aku cerita ini bukan bermaksud gimana-gimana. Aku pingin, yang pertama, yaa menyadarkan, yuk hafalannya ditambah, jangan surat-surat pendek aja. Aku pun surat pendek (juz 30) masih banyak yang belum hafal, tapi sekarang-sekarang ini yang lagi pingin dihafal ya surat-surat itu.

Yang ke dua, yaa pingin cerita aja. Dah lama nggak chit-chat di igs hehe. Dan aku juga ngerasa masih kehutangan sama beberapa teman soal beberapa bahasan. Nanti aku share. dan buat yang merasa keberatan, skip aja yaa. no hard feeling..