Kalau beberapa tahun terakhir kita semakin familiar dengan ain, tahun 2025 aku belajar tentang Tahadduts bin Ni'mah. ada yang sudah pernah dengar? Mohon koreksinya kalau salah ya..
Jadi, beberapa tahun belakangan ini kan kita sudah kenal dan aku rasa banyak yang sudah paham tentang ain dan bahayanya. Tentang jangan mengumbar kenikmatan karena nanti ada yang hasad, iri, tidak suka dengan kenikmatan dan pencapaian kita. Nanti bahaya ke kita nya, kenikmatannya jadi hilang, apa yang sedang diusahakan jadi gagal, dll.
Nah tahun lalu, aku justru belajar tentang hal sebaliknya. Kenikmatan yang Allah beri, tunjukkanlah.
Hal ini berdasarkan surat Ad-Dhuha ayat 11
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh Dhuha: 11)
Penjelasan lengkapnya di sini ya.
Jadi intinya, Tahadduts bin ni'mah ini, konsepnya, kalau kita mendapat/merasakan nikmat dari Allah, tunjukkan sebagai rasa syukur, bukan sebagai pamer. Karena pada dasarnya kita nggak akan mendapatkan nikmat itu kalau bukan karena Allah yang berikan dan izinkan. Jangan kita menunjukkan bahwa kita tidak pernah punya apa-apa, hidup kita flat-flat saja, atau malah terkesan susah, kesenangan selalu disembunyikan. Jatuhnya justru seolah-olah Allah tidak pernah memberikan nikmat ke dalam hidup kita. Padahal nikmat Allah itu sangat banyak dan luas. Nggak melulu tentang uang dan materi.
Sebagai tambahan, soal memancing ain atau tidak, itu tergantung hati kita. Bagaimana niat kita ketika berbagi cerita atau misal posting suatu hal. Kalau niat hati kita untuk pamer dan riya maka bisa memancing ain. Sementara kalau niat kita untuk menunjukkan dan sebagai rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan, In syaa Allah yang akan datang pun hal-hal baik pula, seperti teman-teman yang ikut berbahagia atas kenikmatan kita. Dan dengan begitu Allah pun akan menambah nikmatnya. Istilahnya apa yang kita sharing akan menarik sesuai frekuensinya. Kalau frekuensinya tinggi dan baik dia akan menarik hal-hal baik pula. Kalau frekuensinya rendah dan buruk maka ia akan memancing ain dan hal buruk lainnya.
Tidak semua yang sharing itu untuk pamer. Ada yang sekdar merayakan pencapaian, berbagi kebahagiaan, review barang, makanan, tempat jajan, atau yaa memang sekadar suka berfoto.
Tentang hal buruk atau yang tidak kita sukai setelah kita membagikan sesuatu, misalnya, itu kembali lagi, terjadi atas ridho Allah. Jangan terlalu saklek juga, "Oh ini pasti karena ain nih" Nggak selalu seperti itu. Karena kehidupan ini kan ada naik turunnya, baik buruknya. Nggak mungkin baik semua. Allah meridhoi terjadinya hal buruk dalam hidup kita kan banyak tujuannya. Bisa sebagai ujian yang akan menaikkan derajat keimanan, atau supaya kita bisa mengambil pelajaran, atau sebagai pembeda agar kita bisa bersyukur saat diberi kenikmatan. Kalau semua hal dikaitkan dengan ain, yang ada kita jadi selalu berburuk sangka, bahwa ada orang-orang yang iri terhadap nikmat yang kita rasakan. Dan pada akhirnya menyembunyikan nikmat yang Allah berikan.
Menunjukkan nikmat ini kan luas ya, bisa tentang apa saja dari urusan agama, akhirat hingga duniawi. misal bersyukur bisa datang kajian, bersyukur atas teman-teman yang mengajak kepada kebaikan, bersyukur soal makanan yang bisa dinikmati termasuk jalan-jalan ke tempat yang baik. Atau tentang kebaikan pasangan dan rumah tangga. Tapi tentu saja semua dalam kadar dan batas sewajarnya, jangan oversharing dan belajarlah memahami batasan privasi. Mana yang bisa diceritakan atau disimpan sendiri.
Akhir-akhir ini juga banyak aku temukan istilah-istilah ledekan terhadap orang yang memiliki pernikahan yang bahagia, kayak:
"Alaaah semua juga bakal pret opada waktunya"
Pernah dengar, nggak? Fyi, aku sebisa mungkin menghindari gosip/ghibah baik itu influencer, artis, atau siapa lah. Tapi berita seperti itu seolah nggak bisa dihindari. Bisa dari teman yang share atau dari mana lah. Aku nggak follow influencer selain beberapa yang aku ingat yang sering sharing soal agama.
Soal perkataan tadi, aku cuma mikir, seburuk apa sih keadaan RTnya sampai melihat RT orang lain yang bahagia kok iri begitu ucapannya. Mungkin yaa karena banyak influencer/artis yang awal-awal kelihatan mesra, romantis, bahagia pada akhirnya muncul berita cerai, dll. Wallahu a'lam ya, aku nggak mau mengomentari RTnya, tapi lebih kepada, yuk biasakan kalau melihat yang baik itu doakan yang baik pula, kalau melihat atau mendengar yang buruk pun doakan kebaikan supaya segera reda dan membaik. Karena doa yang baik nggak cuma untuk orang yang didoakan tapi akan kembali kepada yang mendoakan dan ada hadistnya bahwa doaketika kita berdoa, malaikat ada di samping kita bukan hanya untuk mencatat, si fulan dapat pahala karena mendoakan saudaranya, tapi lebih dalam lagi, malaikat mengaminkan doa kita. Jadi kalau kita mendoakan keburukan, ya doai itu akan kembali ke kita juga. Rugi, nggak? Rugi banget lah. Kita kenal sama influencer/artis itu aja nggak, terus kita doain keburukan juga dapat dosa, udah gitu doa buruknya kembali kek kita juga. Subhanallah.
Jazakumullahu khayr..
Wallahu a'lam bhissowab





