Thursday, March 19, 2026
Tuesday, March 17, 2026
Bolehkah Perempuan Menolak Lamaran Karena Perbedaan Status Sosial Ekonomi?
*Backsound video mohon izin saya ganti menjadi nasyid π
Pernah baca juga di threads, ada jamaah perempuan nanya gimana kalau ada laki² datang melamar tp ekonomi/status sosialnya di bawah perempuan. Nah Ust Nuzul Dzikri dg bijak bilang, (terjemahan bebas π) kalau tidak sesuai, perempuan boleh menolak tapi kalau memang ikhlas, silakan/gapapa diteruskan.
Itu makanya di Islam ada kriteria memilih pasangan salah satunya, sekufu/setara baik dalam hal ekonomi, pemahaman agama/umum dan sejauh mana kita bisa saling toleransi atas karakter/kebiasaan/kekurangan masing². Istilahnya mah, sefrekuensi. Kalau di awal ada yg ga kita suka, ga sreg, itu tanya ke diri kita sendiri, bisa ga kita menoleransi itu. Jangan berharap apalagi punya misi buat mengubah seseorang. Secinta apapun misalnya dia sama pasangannya, perubahan itu ga akan dia lakukan kalau ga datang dari niatnya sendiri. Cuma Allah yg bisa membulak balikkan hati manusia. Kalau kita nggak bisa sabar sama waktu yg Allah tetapkan untuk mengubah/membalikkan hatinya, yg kita sebagai manusia gatau kapan, mending gausah menchallenge diri sendiri π Nanti yg ada kita yg stres dan capek sendiri nunggu perubahannya. Ini dalam hal sikap dan karakter.
Dalam hal ekonomi pun begitu. Kalau terbiasa hidup mewah, kira² sanggup ga hidup susah π misal ada yg melamar dari status sosial ekonomi di bawahnya. Berjuang dari 0 bareng pasangan. Ada yg bisa menikmati proses, ada yg ga sanggup. Cuma diri sendiri yang bisa menakar. Kalau ga yakin, istikharah. Minta diberi petunjuk.
Yang posting threads nya ini amazed dg jawaban Ust Nuzul Dzikiri. Karena yg sering ia temui kebanyakan jawaban Ust/Ulama tuh seolah bilang, kalau ada laki² baik, agamanya baik, datang melamar, (terima saja) urusan ekonomi bisa diusahakan, dst. Ini sering bikin muslimah galau. Seolah kalau menolak, kesannya ga percaya bahwa rezeki sudah diatur. Bahwa rezeki pernikahan itu melimpah.
Sedikit berbagi, Alhamdulillah aku sendiri merasakan peningkatan kehidupan setelah menikah. Aku sama paksu sama² perintis dan kami menikmati prosesnya. Tentu aja ada saatnya juga ngerasa capek, ngerasa jenuh, dll. Tapi proses ini ya dibawa asik aja.
Perkataan Allah soal rezeki pernikahan itu melimpah, iya. Allah itu ga pernah ingkar. Tapi untuk membuktikannya pun perlu diusahakan. Di beberapa firman Allah banyak upaya yg bisa diusahakan agar pernikahan kita diberkahi, dilapangkan rezeki, diluaskan, diberi kelimpahan. Misalnya dengan menjaga keharmonisan.
Allah akan melimpahkan rezekinya kepada pasangan yang akur, jarang bertengkar, saling berkasih sayang. Nah untuk menciptakan dan mempertahankan itu butuh effort yg seimbang di antara keduanya.
Dan kalau kubilang,
"Emang gampang!?" π€£
Justru di situ perjuangannya. Kalau keadaan ekonomi ga seimbang, yang ada malah bikin rungsing cek urang sunda mah, gimana mau akur, gimana mau saling berkasihsayang? Kalau dipaksakan, udahlah dari awal status sosial ekonomi tidak setara, bikin pusing kepala, rezeki makin jauh.
Belum lagi soal karakter, latar belakang, itu bisa banget jadi pemicu pertengkaran. Pokoknya banyak banget hal yang bisa bikin ribut. Kalau ada hal yang bisa dihindari, kayak menghindari perbedaan status sosial ini, ya lebih baik dihindari. Dan kayaknya aku pernah baca hasil survey, deh, soal finansial ini jadi faktor paling banyak jadi pemicu perpisahan (naudzubillahimindzaalik). Atau faktor apapun yang bikin kita kurang berkenan, based on your own preferences, bisa toleransinya di hal apa dan ga bisanya di apa, hindarilah.
Sekali lagi, jangan menchallenge diri sendiri kalau ga mau susah sendiri π
Sebenarnya dalam Islam laki² & perempuan itu setara. Hanya jalur amalannya saja yg berbeda. Termasuk soal pernikahan. Laki² boleh memilih perempuan yang disukainya berdasarkan 4 perkara, perempuan juga berhak menolak. Kalau soal penolakan dari pihak perempuan ini sih, aku belum pernah baca ya, tapi kalau dilihat dari jawaban Ust Nuzul Dzikri sebelumnya berarti perempuan juga boleh menolak lamaran dari sisi finansial kan.
Makanya semakin kita belajar agama Islam, akan semakin kita pahami bahwa hal² yang akhir² ini muncul sebagai teori baru kayak feminisme, kesetaraan gender, bahkan hidup sustainable, dll. Di Islam itu semua udah ada dan dipraktekkan dari dulu. Justru Islam yg membawa perbaikan itu untuk masyarakat dunia. Makin yakin deh kalau Islam itu Rahmatan lil Alamin. Rahmat untuk seluruh alam. Karena selain urusan Tauhid, siapapun boleh menerapkannyanya tanpa harus login. Hehe..
Sunday, March 8, 2026
Kisah Cinta Sempurna Manusia Jika Melibatkan Allah di Dalamnya
Saturday, February 28, 2026
February Reflections 2026
Bisa pas, ya, padahal sebelumnya nggak kepikiran, sih. But, maybe this thoughts might be a February Reflections.
Since January, I’ve been thinking and thought
how my live for the early 30th. The biggest concern is about my marriage.
Selama ini ngerasanya pernikahanku masih seumur jagung aja. Tapi ternyata,
pernikahan ini sudah melewati 5 tahun pertama yang kata orang-orang adalah fase
terberat. Selain menjadi istri, juga fase sebagai ibu yang sekarang aktifitas
hariannya sudah beda. Nggak cuma jadi IRT ngurus bayi tapi juga nambah antar
jemput, kegiatan wali murid, dll.
Katanya, jadi IRT itu hal yang paling rentan
mengalami kejenuhan dan stres karena kegiatannya yang monoton dan lingkup
ruangnya sempit. Istilahnya, kalau yang kerja kantoran sehari-harinya masih
bisa haha hihi di luar, ketemu orang langsung entah itu teman kerja atau klien,
tapi IRT lingkupnya itu lagi-itu lagi. Jujur, aku juga sempat stres karena
setiap hari yang diliat tu ya tembok rumah aja. Interaksi paling banyak sama
anak, jarang juga ngobrol sama sesama mommy di luar. Di rumah ya paling baca
buku atau ngerjain hobi lain, tapi ya gitu, di rumah. Itu intinya. Makanya aku
suka kesal kalau PakSu ngeledek aku hobinya main, jalan-jalan, ngemoll. Ya tiap
hari yang diadepin tembok mulu. Sebulan sekali healing mah bare minimum sih
buat aku. Nggk yang jauh dan mahal juga, sih, yang penting mah keluar aja.
Nggak harus yang staycation dll.
Udah lah aku extra extrovert. Kalau
walmur-walmur ada yang misalnya habis antar terus nongkrong di cafe, dll. Aku
juga nggak terlalu suka. Karena hobiku di rumah lebih asik, Cuma kadang
pinginnya ngerjain hobi tuh bisa di luar juga. Makanya tahun lalu aku mulai
sedikit-sedikit ikutan event buku atau datang kajian offline.
Ada banyak hal yang aku pelajari juga. Di
rumah, aku nggak terlalu sering streaming kajian juga. Kalau yg temanya menarik
atau relate aja. Kalau ada postingan agama yang menarik, aku cari tau lebih
dalam, write my thought and sometimes share it to others. Kadang ada yang
memancing diskusi. It really fine and fun, tapi aku menghindari perdebatan.
There are vivid line between discussion and debate.
Bahasan yang bisa dihighlight dari 2025 sampai awal 2026 ini related to ain, oversharing, and tahadduts bin ni’mah. Terkait dengan hal apa saja, anak, keluarga, rumah tangga, pergaulan, dll. Jujur, ya, sejak paham ain ini kan kita jadi hati-hati banget kalau mau share sesuatu. Khawatir memancing ain, gitu, kan. Tapi tahun ini juga aku belajar hal baru, Tahadduts bin Ni'mah. Itu tuh kayak melepas kekhawatiran soal ain yang kadang jatuhnya jadi was-was. Aku juga pernah baca, kalau yang mau share harus hati-hati kalau mau share sesuatu, kenapa tidak masing-masing kita belajar untuk tidak hasad terhadap nikmat orang lain? Toh setiap orang sudah punya rezekinya masing-masing kan?
"Allah yang beri, kenapa kamu yang iri?"
Soal tahadduts bin ni'mah ini, membuatku lebih lega. A





