Monday, March 23, 2026

Friday, March 20, 2026

Bukan Gaji Yang Menunjukkan Seberapa Kaya Dirimu

Kebanyakan orang mengukur kekayaan seseorang dilihat dari materi dan seberapa banyak aset yang dimiliki. Padahal, uang juga bisa menunjukkan Karakter seseorang. Orang yang kaya bukanlah orang yang memiliki banyak harta tapi bagaimana ia bersikap terhadap uang yang dimilikinya.

Ada orang kaya yang punya banyak harta tetapi ia pelit, tidak pernah memberi atau memberi tetapi sedikit. Hartanya seolah ditimbun untuk hidup enak di masa depan, Padahal usia pun belum tentu sampai.

Kita memang tidak tau hidup dan mati, Persiapan memang diperlukan tetapi jangan sampai keterlaluan sehingga kita pelit terhadap diri sendiri. Juga tidak bisa menikmati hidup yang Allah berikan. Padahal banyak rezeki Allah yang bisa kita nikmati.

Jangan pula bakhil bersedekah karena itu takkan mengurangi harta, justru itulah investasi abadi yang akan kita rasakan balasannya baik di dunia maupun di surga.

Selain itu ada juga attitude lain yang berhubungan dengan uang juga kewajiban. Apalagi kalau bukan soal tagihan. Jangan salah, bukan hanya orang miskin (keterbatasan ekonomi) yang terkadang kesulitan membayar tagihan, biasanya karena keterbatasan tapi orang kaya yang bermasalah membayar tagihan juga sering membuat heran. Bergaji besar tapi iuran harus dikejar. Saat diingatkan malah ia yang emosion nggak malu kah dengan slip gaji bulanan?

Thursday, March 19, 2026

Tuesday, March 17, 2026

Bolehkah Perempuan Menolak Lamaran Karena Perbedaan Status Sosial Ekonomi?

 


*Backsound video mohon izin saya ganti menjadi nasyid πŸ™


Pernah baca juga di threads, ada jamaah perempuan nanya gimana kalau ada laki² datang melamar tp ekonomi/status sosialnya di bawah perempuan. Nah Ust Nuzul Dzikri dg bijak bilang, (terjemahan bebas πŸ™) kalau tidak sesuai, perempuan boleh menolak tapi kalau memang ikhlas, silakan/gapapa diteruskan.


Itu makanya di Islam ada kriteria memilih pasangan salah satunya, sekufu/setara baik dalam hal ekonomi, pemahaman agama/umum dan sejauh mana kita bisa saling toleransi atas karakter/kebiasaan/kekurangan masing². Istilahnya mah, sefrekuensi. Kalau di awal ada yg ga kita suka, ga sreg, itu tanya ke diri kita sendiri, bisa ga kita menoleransi itu. Jangan berharap apalagi punya misi buat mengubah seseorang. Secinta apapun misalnya dia sama pasangannya, perubahan itu ga akan dia lakukan kalau ga datang dari niatnya sendiri. Cuma Allah yg bisa membulak balikkan hati manusia. Kalau kita nggak bisa sabar sama waktu yg Allah tetapkan untuk mengubah/membalikkan hatinya, yg kita sebagai manusia gatau kapan, mending gausah menchallenge diri sendiri πŸ˜… Nanti yg ada kita yg stres dan capek sendiri nunggu perubahannya. Ini dalam hal sikap dan karakter.


Dalam hal ekonomi pun begitu. Kalau terbiasa hidup mewah, kira² sanggup ga hidup susah πŸ˜… misal ada yg melamar dari status sosial ekonomi di bawahnya. Berjuang dari 0 bareng pasangan. Ada yg bisa menikmati proses, ada yg ga sanggup. Cuma diri sendiri yang bisa menakar. Kalau ga yakin, istikharah. Minta diberi petunjuk.


Yang posting threads nya ini amazed dg jawaban Ust Nuzul Dzikiri. Karena yg sering ia temui kebanyakan jawaban Ust/Ulama tuh seolah bilang, kalau ada laki² baik, agamanya baik, datang melamar, (terima saja) urusan ekonomi bisa diusahakan, dst. Ini sering bikin muslimah galau. Seolah kalau menolak, kesannya ga percaya bahwa rezeki sudah diatur. Bahwa rezeki pernikahan itu melimpah.


Sedikit berbagi, Alhamdulillah aku sendiri merasakan peningkatan kehidupan setelah menikah. Aku sama paksu sama² perintis dan kami menikmati prosesnya. Tentu aja ada saatnya juga ngerasa capek, ngerasa jenuh, dll. Tapi proses ini ya dibawa asik aja.


Perkataan Allah soal rezeki pernikahan itu melimpah, iya. Allah itu ga pernah ingkar. Tapi untuk membuktikannya pun perlu diusahakan. Di beberapa firman Allah banyak upaya yg bisa diusahakan agar pernikahan kita diberkahi, dilapangkan rezeki, diluaskan, diberi kelimpahan. Misalnya dengan menjaga keharmonisan.


Allah akan melimpahkan rezekinya kepada pasangan yang akur, jarang bertengkar, saling berkasih sayang. Nah untuk menciptakan dan mempertahankan itu butuh effort yg seimbang di antara keduanya.

Dan kalau kubilang,


"Emang gampang!?" 🀣


Justru di situ perjuangannya. Kalau keadaan ekonomi ga seimbang, yang ada malah bikin rungsing cek urang sunda mah, gimana mau akur, gimana mau saling berkasihsayang? Kalau dipaksakan, udahlah dari awal status sosial ekonomi tidak setara, bikin pusing kepala, rezeki makin jauh.


Belum lagi soal karakter, latar belakang, itu bisa banget jadi pemicu pertengkaran. Pokoknya banyak banget hal yang bisa bikin ribut. Kalau ada hal yang bisa dihindari, kayak menghindari perbedaan status sosial ini, ya lebih baik dihindari. Dan kayaknya aku pernah baca hasil survey, deh, soal finansial ini jadi faktor paling banyak jadi pemicu perpisahan (naudzubillahimindzaalik). Atau faktor apapun yang bikin kita kurang berkenan, based on your own preferences, bisa toleransinya di hal apa dan ga bisanya di apa, hindarilah.


Sekali lagi, jangan menchallenge diri sendiri kalau ga mau susah sendiri πŸ˜… 


Sebenarnya dalam Islam laki² & perempuan itu setara. Hanya jalur amalannya saja yg berbeda. Termasuk soal pernikahan. Laki² boleh memilih perempuan yang disukainya berdasarkan 4 perkara, perempuan juga berhak menolak. Kalau soal penolakan dari pihak perempuan ini sih, aku belum pernah baca ya, tapi kalau dilihat dari jawaban Ust Nuzul Dzikri sebelumnya berarti perempuan juga boleh menolak lamaran dari sisi finansial kan.


Makanya semakin kita belajar agama Islam, akan semakin kita pahami bahwa hal² yang akhir² ini muncul sebagai teori baru kayak feminisme, kesetaraan gender, bahkan hidup sustainable, dll. Di Islam itu semua udah ada dan dipraktekkan dari dulu. Justru Islam yg membawa perbaikan itu untuk masyarakat dunia. Makin yakin deh kalau Islam itu Rahmatan lil Alamin. Rahmat untuk seluruh alam. Karena selain urusan Tauhid, siapapun boleh menerapkannyanya tanpa harus login. Hehe..


Sunday, March 8, 2026

Kisah Cinta Sempurna Manusia Jika Melibatkan Allah di Dalamnya

Khadija manusia pertama yang percaya ajaran Rasulullah. Ia menjadi penyupport Rasulullah selama di Gua Hira. Berjalan berkilo meter mengantarkan makanan dan perbekalan. Ketika Rasulullah takut sampai menggigil ketika didatangi Jibril, Khadija menjadi tujuan pertama Rasulullah bercerita. Saat Islam sudah diterima, kemenangan sudah banyak dirasa, di tengah suka cita, Rasulullah justru pergi menyendiri mengunjungi makam Khadija. Mengenang perjuangan istri yang dicintainya.

Fatima dan Ali dikatakan cinta mereka suci bahkan iblis pun tak mengetahui. Cinta mereka sempurna. Jauh dari cela. Ali mencintai Fatima bukan karena beliau anak kesayangan Rasulullah. Ali yang dikenal kuat mengangkat gerbang besi, tetapi mengangkat jenazah istrinya ia tak kuat seorang diri.

Wanita-wanita itu berhubungan langsung dengan Rasulullah. Menjadi wanita-wanita pemimpin surga (selain di antaranya Maryam dan Asiyah)

Belajar sirah nabawiyah, kamu akan mengerti bahwa cinta sejati sampai surga itu ada dan nyata. Bahkan lebih indah dan abadi dibanding kisah Princess Disney.

Lagipula, coba kita analisa. Romeo Juliet, Hamlet, atau cerita² dongeng Disney. Yang selama ini diframing romantis, padahal tragis. Romeo Juliet terpisah maut karena bunuh diri. Sudah tak dapat cinta dunia, masuk pula mereka ke neraka. Hamlet juga tak jauh beda. Sementara kisah cinta para Prince dan Princess Disney ternyata mereka juga cerita nestapa. Mermaid berakhir menjadi buih lautan karena pangerannya tergoda wanita lain. Sleeping beauty ternyata diperk*sa dan tetap ditinggal di hutan belantara, Cinderella menyiksa ibunya dengan sepatu berbara api setelah menikah dengan pangeran dan menjadi puteri. Dari kisah² itu, sudahlah bualan belaka, tragis pula.

Memang cinta muslim dan muslimah adalah yang paling sempurna. Tentu saja, jika kita selalu melibatkan Allah di dalamnya πŸ«ΆπŸ’•