Saturday, July 4, 2026

Will We Go Back To Analog Lifestyle?

Kenapa, ya, Indonesia ini kayaknya ketinggalan update sama negara lain, padahal katanya pengguna internetnya paling banyak dan aktif.

Tahu, nggak, waktu itu sempat ramai di German, katanya, anak-anak sekolah sudah back to paperbased untuk kegiatan pembelajaran. Sementara di Indonesia, kegiatan online baru dimulai beberapa tahun belakangan dan sampai saat ini belum merata di seluruh daerah.

Di dunia pembaca, aku merasakan beberapa tahun belakangan ereader semakin marak di Indonesia. Dari yang tadinya membaca di smartphone agar lebih mudah dibawa ke mana-mana, sampai pada akhirnya ramai ereader khusus untuk fitur baca baik offline dan online dengan berbagai merk.

Tapi, sekali lagi, tau, nggak? Di Jerman, orang-orang mulai kembali membaca buku-buku fisik. Mereka baca di taman, mematikan sejenak smartphone dan menikmati bacaan. Mereka beralih dari jam tangan digital atau smartwatch yang bisa merekam jantung, kalori terbakar dan lain-lain menjadi jam analog dengan baterai dan jarum jam yang berputar normal. Mereka juga kembali menggunakan jam alarm analog, bukan alarm dari smartphone. Kembali menggunakan kamera digital, bukan kamera smartphone, karena dianggap terlalu banyak kebohongan dengan adanya filter.

Mereka sebut ini sebagai analog lyfestyle.

Kenapa? Karena mereka semakin menyadari, beberapa tahun belakangan kita sering dibuat terburu-buru untuk menyelesaikan sesuatu, kita terlalu dituntut sempurna di depan kamera sehingga semakin lama keaslian foto berubah. Maka atas kesadaran itu, mereka memilih mengembalikan aktifitas mereka ke format sebagaimana mestinya. Menikmati bacaan dari buku yang digenggam, menangkap gambar sebagai mana aslinya tanpa filter dan rekayasa tambahan. Apalagi sekarang semakin marak AI, banyak yang bilang, foto-foto digital itu menarik tetapi semakin kehilangan nyawanya.

Interaksi sosial di dunia nyata berkurang dengan semakin gencarnya dunia maya. Jadi, saat ini, orang-orang yang sadar, mulai membentuk kembali interaksi sosial di dunia nyata. Meski masih menggunakan smartphone, tetapi penggunaannya dibatasi, dikontrol, agar tidak mengganggu interaksi sosial yang sesungguhnya.

Jika interaksi media sosial berkurang, akankah penghasilan para pemilik raksasa media online ini juga akan berkurang? Dan, dengan kembali ke interaksi sosial yang nyata, mungkinkah manusia akan lebih bahagia? Karena tidak sibuk mencari validasi dan membandingkan kehidupan orang lain dan diri sendiri?

Sebenarnya, tulisan ini juga paradoks, ya, di satu sisi, aku bisa dapat info ini pun dari berita online, tapi, di lain sisi, kita juga harus bisa kontrol penggunaan media online jangan sampai melalaikan aktifitas di dunia nyata.

Friday, July 3, 2026

Radiasi Internet

 Suatu waktu aku pernah menemukan reels di Instagram tentang bahaya radiasi smartphone dan wifi (internet) bagi otak.

Ternyata, ada alasan mengapa banyak orang zaman sekarang sering bangun tidur dengan rasa lelah yang tetap dirasa. Seolah tidur bukan lagi kegiatan yang bisa mengistirahatkan tubuh. Ternyata, hal itu dipengaruhi karena paparan radiasi selama kita tidur. Dari jaringan wifi yang menyala sepanjang hari, apalagi jika router tersebut dipasang di kamar. Juga dari smartphone yang sepertinya sudah menjadi kebiasaan untuk meletakannya di tempat yang selalu terjangkau oleh kita. Maka radiasi itu akan terus terpapar ke otak kita.

Jadi, ketika kita tidur, otak kita tidak benar-benar istirahat. Otak dipaksa tetap aktif karena adanya radiasi-radiasi dari gadget di sekitar kita. Oleh karena itu, akan lebih baik jika kita tidur, jauhkan semua gadget dari sekitar kita. Taruh di luar ruangan, jangan ada dalam satu ruangan dengan kita.

Di hari lainnya, aku juga menemukan saran dari salah satu influencer @olevelove agar para perempuan usahakan sudah tidak memegang smartphone, tidak mengakses internet apapun baik media sosial maupun aplikasi chatting sejak memasuki waktu maghrib. Kondisikan tubuh untuk istirahat, jeda dari kegiatan bersosial media agar tubuh dan otak punya waktu untuk istirahat dari radiasi-radiasi gawai tersebut.

Semakin sering, semakin lama kita terpapar radiasi, otak akan terus aktif dan seolah tidak ada istirahatnya, itualh yang membuat pikiran kita terasa penuh, selalu aktif dan terus-terusan merasa lelah. Karena memang sehari-hari, seharian penuh, kita terkontak dengan gawai di sekitar kita, radiasinya secara tidak sadar selalu menyelimuti kita, maka tidak heran tubuh dan pikiran kita selalu merasa lelah bahkan saat kita bangun tidur.

Pernah juga aku membaca postingan Kak @denahaura tentang habit yang akhir-akhir ini sedang beliau terapkan yaitu mengurangi penggunaan gadget dan meletakkannya di luar ruangan. Yaa, intinya sama lah, yaa.

Jadi, dari ketika informasi yang ternyata saling berkaitan itu, sejak awal tahun aku mulai membangun habit untuk:

1.       Mengurangi penggunaan smartphone atau gadget lainnya (tab, laptop, dll) yang memiliki atau memancarkan radiasi sejak maghrib

2.       Meletakkan barang-barang tersebut di ruangan yang berbeda

Hasilnya, beberapa bulan belakangan aku bisa lebih fokus sama kegiatan-kegiatan di dunia nyata. Bisa menyelesaikan lebih banyak rencana yang tadinya masih tersimpan sebagai wacana. Otak dan pikiran lebih plong karena apa yang aku pikirkan bisa aku tuangkan, nggak banyak menumpuk di kepala.

This entry was posted in

How Kafir Build People's Mindset

Kemarin, aku baca postingan, bagaimana nestle membangun dan mengubah mindset masyarakat Jepang yang tadinya tea island menjadi masyarakat yang coffee addict.

Masyarakat Jepang terkenal akan kecintaanya terhadap budayanya. Mereka memiliki budaya minum teh yang kuat. Saat nestle dengan produk kopinya masuk Jepang, mereka nggak laku. Gagal. Tapi mereka punya strategi lain. Mereka menanamkan kesukaan kepada kopi mulai dari anak-anak. Mereka membuat permen rasa kopi, es krim, susu, acara-acara ulang tahun dengan diisi produk-produk kopi. Hasilnya perlahan tapi pasti, tahun-tahun berikutnya generasi modern Jepang menjadi konsumen kopi tertinggi di dunia.

Yang diHL di sini adalah kecerdikan nestle menyerang sisi psikologis anak-anak. Mereka bukan menjual produk tapi menanamkan kenangan. Manusia cenderung sulit melupakan memori. Jadi, yang mereka bentuk adalah kenangan akan kopi-nya. Waktu kecil mereka merasakan manisnya dan enaknya permen kopi dan mereka ingin menyimpan kenangan itu sehingga pada akhirnya ketika mereka dewasa pun  menjadi pecinta kopi. Nestle.

Dan ini mengingatkanku pada hal lainnya dengan pola yang sama.

Empat mazhab mengharamkan musik. Meski setelah kubaca lagi, bagi yang menghalalkan pun tidak mutlak menjadikannya murtad karena masih dalam wilayah ijtima ulama. Tapi ada hadist yang mengatakan bahwa musik dan Al-Quran tidak bisa bersatu. Bagi umat muslim Al-Quran adalah kitab suci, penuntun hidup dan bagiku, buku atau kitab paling ilmiah paling scientis yang ada di muka bumi (sebenarnya sudah banyak yang mengakui juga, sih).

Orang kafir tahu itu. Di luar mereka membenci Islam tetapi mereka juga mempelajari Al-Quran dengan sangat dalam. Bahkan mungkin lebih dalam dari kebanyakan muslim. Malah, dengan jumlah milyaran muslim di dunia, masih terbilang sedikit yang mempelajari Al-Quran, bahkan, yang rutin memurojaahnya pun masih sedikit.

Mereka tahu, jika muslim benar-benar kembali dan memegang teguh Al-Quran, Islam sulit dikalahkan. Maka mereka jauhkan muslim dari Al-Quran, sejauh mungkin, selama mungkin, agar generasi Islam tidak bisa dikembalikan dan Islam tidak bisa kembali berjaya. Tapi, mungkin sudah perjalanannya bahwa setiap peradaban ada periodenya.

Dan kafir memiliki program propagandanya. Pernah dengan 3F? Food, fashion, fun. Musik termasuk ke dalam kategori fun. Hiburan, kesenangan. Mereka tahu dan memahami hadist tentang musik dan Al-Quran yang tidak bisa bersatu, maka mereka menanamkan musik sangat dalam kepada kita semua.

Lagu anak-anak, belajar menghafal pakai musik, acara-acara anak-anak pakai musik. Bahkan sempat ramai penelitian untuk ibu hamil agar memperdengarkan musik sejak bayi dalam kandungan karena frekuensinya bagus untuk bayi, katanya.

Alhamdulillah, sebelum saya menikah dan hamil selain penelitian tentang musik itu, saya sudah menemukan fakta bahwa lantunan Al-Quran jauh lebih baik untuk bayi dalam kandungan. Jadi, propaganda penelitian musik itu nggak mempan buat saya. Dan takdir itu saya anggap sebagai hidayah Allah untuk saya agar tidak termakan propaganda kafir.

Btw, yang saya sebut kafir di sini bukan sebatas nonis, ya. Saya lebih merujuk kepada manusia-manusia yang bersembunyi dibalik (kebanyakan, ngakunya) nasrani padahal mereka juga tidak menaati Yesus. Jadi, bagi teman-teman nonis, kata kafir dalam tulisan saya ini bukan secara langsung merujuk pada kalian (kasarnya, sih, lebih kepada mereka pemuja s*tan dan pengikut dakjal).

Dan, ya, para kafir itu menjauhkan umat Islam dari Al-Quran dengan musik. Sejak kita kecil. Sehingga sampai kita dewasa, musik masih terus melekat di keseharian kita dan sangat sulit dilepaskan. Kalau tidak benar-benar diniatkan, akan sangat sulit. Musik lama yang dulu kita dengarkan membawa nostalgia, ditambah musik-musik baru agar tidak ketinggalan trend.

Jadi, sayangnya, fakta bahwa umat Islam sampai saat ini masih belum bisa bangkit ya karena umat Islam sendiri masih jauh dari Quran. Al-Quran belum menjadi prioritas dalam keseharian dan kebanyakan dari umat Islam masih enggan memaksakan untuk merutinkan membaca Al-Quran.

Monday, June 29, 2026

Our Country's Priority

Dalam negeri, nih, best. Kan katanya negara kita lagi carut-marut juga, ya. Kata yang nggak seneeeeng. Kata yang seneng mah, fine-fine aja kali. Tuh, dari awal menjabat, kasus megakorupsi pada terbongkar. Siapa lagi presiden yang bisa membongkar kasus korupsi sebesar itu selain Pak Prabowo yang terhormat. Sejarah, loh, ini. Tentu dengan pendampingan seskab yang selalu ada di manapun berada. Mari kita appreaciate. Perampasan asetnya juga bisa kali disahkan. Udah ketauan korup, aset ga disita, korup ratusan triliun hukuman kurang dari tujuh tahun. Weeeee menang banyak.

Lagi, MBG. Program unggulan pemerintah saat ini. Sering dihujat, diminta stop. Katanya praktik korupsi terbuka. Mungkin yang protes nggak merasakan, sedihnya nggak bisa makan makanan bergizi. Aku pernah lihay vt, ya, Pak Prabowo ini kan tentara, pernah ngalamin di hutan belantara katanya kelaparan, lemah, nggak ada makanan, itu tersiksa, gaes. Jadi, Pak Prabowo ini mengutamakan penting banget makanan bergizi ini untuk menigkatkan kualitas gizi, terutama anak-anak Indonesia. Supaya kalau sekolah itu supplai gizinya bagus, belajar jadi fokus, maksimal menyerap pelajaran dan ilmu yang diberikan oleh guru-guru di sekolah. Pak Prabowo ini visioner, beliau mengutamakan generasi mendatang supaya kualitasnya lebih bagus.

Pernah ramai juga, kan, siswa-siswa, anak SMA ditanya pengetahuan umum, diminta menyebutkan salah satu negara Eropa dijawab, apa? Cianjur? Apa mana gitu, nama kota di daerah Jawa Barat. Terus ada juga siswa diminta mengerjakan soal matematika dasar, nggak bisa. Nah, Pak Prabowo tuh nggak mau generasi selanjutnya sampai ada yang kayak gitu lagi. Jadi, demi Indonesia Emas, dibuatlah program MBG ini supaya gizi anak-anak Indonesia tercukupi, belajarnya pada pinter, lulusannya juga nanti kan bagus-bagus. Kalau ada kasus-kasus atau berita negatif, mah, yaaa, oknum. Namanya juga program baru, ada penyesuaian, adaptasi, gitu-gitu. Guru-guru nggak seneng emang kalau muridnya pada pinter-pinter? Kan tujuannya jadi guru mencerdaskan bangsa. Udah dibantu, tuh sama Pak Prabowo. Guru yang ngajar, asupan gizinya disupport pemerintah. Maa syaa Allah, generasi Emas banget ini mah ke depannya.

Aku juga paham, kok, buat teman-teman guru dan nakes. Kebetulan kan aku pernah sekolah nakes, banyak teman-temanku di nakes, walaupun akhirnya malah jadi guru, dan sekarang lagi off, yaa sedikit banyak paham lah keresahan kalian. APBN pendidikan dan kesehatan dipangkas demi MBG ini, kan, itu, kan yang bikin nggak suka sama program MBG ini?

Ikhlaskan, teman-teman. Pemerintahan sekarang sedang berusaha memperbaiki generasi yang katanya sempat merosot kualitasnya, supaya jauh lebih baik selanjutnya. Jadi, terimalah bahwa pendidikan dan kesehatan bukan prioritas saat ini. Mungkin kita-kita yang di bidang pendidikan ini diminta sedikiiiitttt lagi lebih sabaaaaarrrrr mendapatkan kehidupan yang sejahtera. Kan sebenarnya udah dibilangin, pingin kaya jangan jadi guru. Ngeyel, sih padaan.

Terus, ya, yang teriak-teriak nagih, mana 19jt lapangan pekerjaan? Lah, klean yang update berita MBG ga sadar kah? Itu SPPG, RELAWAN BERGAJI MBG, karyawan-karyawan dapur, dll, itu lapangan pekerjaan gaessss. Yaa, aku juga baru ngeh, sih. Hehe.. diingatkan teman.

Guru-guru honorer yang sudah puluhan tahun mengabdi, ikhlaskanlah, panjangin lagi sabarnya. Mengalah dulu demi fresh graduate yang banyak diangkat jadi RELAWAN BERGAJI MBG ini. Kasian orang tua yang nyekolahin anaknya tapi lama dapat pekerjaan. Dari dulu juga keluhannya apa? Lapangan pekerjaan di Indonesia itu persyaratannya “berpengalaman min x tahun” atuh yang fresh graduate susah mau cari pengalaman. Gimana mau dapat pengalaman kalau setiap lapangan pekerjaan mintanya yang berpengalaman kan?

Guru-guru di pedalaman, kemarin, tuh aku juga nemu berita ada guru di NTT apa ya, jalan berapa KM gitu buat ngajar setiap hari. 8KM kalau ga salah. Mana medannya terjal, belok kalau kata bolang generasi 90an mah. Ada yang ngetag ke eiger, katanya percuma tag pemerintah, mending langsung ke brandnya. Eh sama eiger direspon dong. Dikontak, ditawarin butuh apa. Netizen bilang kasih tuh sepatu/sepatu sendal eiger buat naklukin jalur ke medan ngajarnya, supaya kakinya lebih nyaman jalannya. Kan produk eiger bagus-bagus kualitasnya. Pada ngajakin juga, yuk rame-rame beli produknya eiger, merk lokal loh itu, kualitasnya nggak kalah sama brand-brand inter, supaya eigernya juga semangat kasih-kasih bantuan ke rakyat jelata yang membutuhkan. Soalnya sama pemerintah ga diperhatikan (kata netijeeeeeen, bukan kata aku. Hehe)

Terus apa, si Ibu, iya gurunya perempuan, loh. Jalan 8KM setiap hari buat ngajar. Mintanya bukan buat dirinya sendiri, tapi minta listrik buat sekolahnya, supaya murid-muridnya bisa belajar dengan baik, minta laptop kalau boleh, buat beberapa guru lainnya juga di sekolahnya, supaya media ngajarnya lebih baik buat murid-muridnya. Maa syaa Allah.

Nggak apa-apa ya buuuu, ikhlaskaaaan, nggak usah iri sama RELAWAN BERGAJI MBG, karyawan SPPG, dll, yang dibeliin motor sama kaos kaki, sama dasi juga, ya? Dari APBN negara. Dari pajak yang ibu bayar juga. Kan biar distribusi asupan perutnya cepat jadi murid-muridnya nggak kelamaan nahan lapar. Jadi belajarnya juga enak. Ibu kan guru, kan, pingin dong muridnya kenyang supaya belajarnya fokus.

Guru itu pahlawan tanpa tanda jasa. Ya bener, kan. Ga ada tandanya. Ga ditandain apa-apa. Ingat, lagu Hymne Guru?

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. Semua baktimu akan kuukir didalam hatiku. Sebagai prasasti trima kasihku tuk pengabdianmuuuuuuuuuuuu. Engkau bagai pelita dalam kegelapan. Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan. Engkau patriot pahlawan bangsaaaaaaaaa. Tanpaaaa tanda jaaaaaasaaaaaaaa.

“Terpujilah” terpuji aja, diapresiasi? Yaaa wallahu a’lam.

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. Ya dalam sanubari aja. Dalam hati.

Pernah dengar juga, dari orang Jakarta, nih, ya, katanya sekolah di Jakarta juga pernah ada program makan gratis gini. Sarapan kalau ga salah. Pas Gubernurnya, siapa gitu. Dan programnya dianggap berhasil karena memberdayakan kantin sekolah, kalau nggak salah ingat yaa beritanya. Mungkin ada yang tau? Belum lama, sih, katanya. Coba yang rajin, cari tau. Aku mah mageran anaknya. Hehe..

Kita jangan maki-maki pemerintah terus. Aku sih nggak maki-maki, ya, paling ngejokes tipis-tipis as my coping mecanism aja kemarin-kemarin suka gregetan sama kebijakan pemerintah. Hahaha.. Hampuraa.. Tapi ke depannya mau aku bawa have fun aja deh. Daripada misuh-misuh sama pemerintah, emang nggak capek? Nggak habisin energi? Dibawa asik ajaaa. Pemerintah aja asik-asik aja dikritik dijawab nyenyenye. Napa kita yang pusing. Kan mereka yang wakil rakyat, mereka yang cari solusi atas permasalahan negara. Rakyat jelata terima aja. Katanya biar pejabat ga makan gaji buta.

Nih, ya, buat yang demo-demo juga. Di Islam itu nggak boleh demo pemerintah. Doain. Kalau yang nggak setuju sama pemerintah, ngerasa pemerintah dzolim, mungkin doanya kurang kenceng. Tapi, tetep, demo pemerintah itu nggak boleh. Pemimpin itu, weh, pemimpin. Ulil amri. Kan kita masih diizinkan beribadah dengan bebas. Itu suatu privilege. Yang sudah belajar sunnah, jauhilah demo. kalau aku lihat, secara syariat, tanpa merasa lebih baik dari yang lain, teman-teman yang demo ini mungkin kan belum paham, bahwa demo pemerintah itu nggak boleh, nah, tapi, yang didemo itu juga kan mungkin, mungkin yaaa, belum sunnah juga, soalnya setauku sih kalau paham sunnah, di gedung pemerintah ga ada pesta-pesta joged-joged gitu. Musik itu empat mazhab sudah mengharamkan, gaes, meskipun setelah aku baca lagi, bagi yang menghalalkan pun tidak sampai membuat murtad atau kafir. Asatidz yang paham sunnah juga nggak ada yang karaoke-karaoke gitu, gaes.  Jadi, ya memang sekufu, yang belum sunnah didemo sama yang sama-sama belum sunnah. Kan, katanya pemerintah itu cerminan rakyatnya. Benar, kan berarti. Maa syaa Allah. Maha Benar Allah

Sok, nyunnah, lu, May.

Nggak papa, aku hanya menyampaikan dan berbagi apa yang sudah aku pelajari, sudah ada hadistnya, Islam itu berasal dari asing dan akan kembali ke asing.


Credit photo respectully to the owner

Orang yang suka membaca memiliki kemampuan menyusun kata yang berbeda. orang yang suka membaca, susunan katanya terstruktur karena mereka terbiasa membaca kata yang terstruktur pula sebagai inputnya sehingga, ketika diperlukan, mereka pun mampu menyusun kata dan kalimat dengan baik. Berbeda dengan orang-orang yang jarang atau sedikit membaca. baik tulisan dan omongannya pun (pidato) hanya mengeluarkan apa yang ada di pikirannya atau bisa dibilang, asbun, asal bunyi, atau asbak, asal jeplak.

Bukan berarti yang suka membaca tidak pernah menulis asal-asalan, tapi mereka bisa menempatkan sesuai situasi dan kondisi kapan mereka menggunakan bahasa formal dan terstruktur dan kapan mereka menggunakan bahasa sehari-hari bahkan guyonan.