Sunday, March 8, 2026
Saturday, February 28, 2026
February Reflections 2026
Bisa pas, ya, padahal sebelumnya nggak kepikiran, sih. But, maybe this thoughts might be a February Reflections.
Since January, I’ve been thinking and thought
how my live for the early 30th. The biggest concern is about my marriage.
Selama ini ngerasanya pernikahanku masih seumur jagung aja. Tapi ternyata,
pernikahan ini sudah melewati 5 tahun pertama yang kata orang-orang adalah fase
terberat. Selain menjadi istri, juga fase sebagai ibu yang sekarang aktifitas
hariannya sudah beda. Nggak cuma jadi IRT ngurus bayi tapi juga nambah antar
jemput, kegiatan wali murid, dll.
Katanya, jadi IRT itu hal yang paling rentan
mengalami kejenuhan dan stres karena kegiatannya yang monoton dan lingkup
ruangnya sempit. Istilahnya, kalau yang kerja kantoran sehari-harinya masih
bisa haha hihi di luar, ketemu orang langsung entah itu teman kerja atau klien,
tapi IRT lingkupnya itu lagi-itu lagi. Jujur, aku juga sempat stres karena
setiap hari yang diliat tu ya tembok rumah aja. Interaksi paling banyak sama
anak, jarang juga ngobrol sama sesama mommy di luar. Di rumah ya paling baca
buku atau ngerjain hobi lain, tapi ya gitu, di rumah. Itu intinya. Makanya aku
suka kesal kalau PakSu ngeledek aku hobinya main, jalan-jalan, ngemoll. Ya tiap
hari yang diadepin tembok mulu. Sebulan sekali healing mah bare minimum sih
buat aku. Nggk yang jauh dan mahal juga, sih, yang penting mah keluar aja.
Nggak harus yang staycation dll.
Udah lah aku extra extrovert. Kalau
walmur-walmur ada yang misalnya habis antar terus nongkrong di cafe, dll. Aku
juga nggak terlalu suka. Karena hobiku di rumah lebih asik, Cuma kadang
pinginnya ngerjain hobi tuh bisa di luar juga. Makanya tahun lalu aku mulai
sedikit-sedikit ikutan event buku atau datang kajian offline.
Ada banyak hal yang aku pelajari juga. Di
rumah, aku nggak terlalu sering streaming kajian juga. Kalau yg temanya menarik
atau relate aja. Kalau ada postingan agama yang menarik, aku cari tau lebih
dalam, write my thought and sometimes share it to others. Kadang ada yang
memancing diskusi. It really fine and fun, tapi aku menghindari perdebatan.
There are vivid line between discussion and debate.
Bahasan yang bisa dihighlight dari 2025 sampai awal 2026 ini related to ain, oversharing, and tahadduts bin ni’mah. Terkait dengan hal apa saja, anak, keluarga, rumah tangga, pergaulan, dll. Jujur, ya, sejak paham ain ini kan kita jadi hati-hati banget kalau mau share sesuatu. Khawatir memancing ain, gitu, kan. Tapi tahun ini juga aku belajar hal baru, Tahadduts bin Ni'mah. Itu tuh kayak melepas kekhawatiran soal ain yang kadang jatuhnya jadi was-was. Aku juga pernah baca, kalau yang mau share harus hati-hati kalau mau share sesuatu, kenapa tidak masing-masing kita belajar untuk tidak hasad terhadap nikmat orang lain? Toh setiap orang sudah punya rezekinya masing-masing kan?
"Allah yang beri, kenapa kamu yang iri?"
Soal tahadduts bin ni'mah ini, membuatku lebih lega. A
Ide Menu Buka Puasa dan Sahur Ramadan 2026M/1447H
Friday, February 27, 2026
Marwah Suami Dan Istri Dalam Rumah Tangga
Thursday, February 12, 2026
Kemana Istri Harus Bercerita?
Suatu waktu, PakSu ngirimin vt Ustadz yang bilang, “Secara syariat, tidak ada kewajiban suami mendengarkan curhatan istri” Well, vt ini mentrigger aku, sih. Hehe..
Bukan bermaksud menzahir seorang Ustadz, aku
hanya berargumen dari sisi seorang istri.
Dalam syariat mungkin benar tidak secara
spesifik dikatakan bahwa suami harus mendengarkan curhatan istrinya. Sama
seperti rokok yang tidak secara literal dikatakan haram tetapi difatwakan haram
karena dilihat lebih banyak mudharatnya (keburukannya) daripada manfaatnya
termasuk rokok elektrik/vape. Tapi dalam syariat juga dikatakan suami adalah
qawwamnya istri, hubungan suami dan istri adalah “persahabatan” terbaik, dalam
Al-Quran, istri juga disebut sohibatihi (sahabat – Surat Abasa). Suami
seharusnya memuliakan istri, menjaganya, melindunginya, memberikan nafkah lahir
dan batin. Dalam konteks yang terakhir, menurut saya, mendengarkan cerita
istri, menjadi tempatnya bercerita adalah termasuk nafkah batin. Dengan
bercerita ke suaminya ada ketenangan dan kelegaan yang dirasakan. Apalagi, ya,
istri seperti saya yang memang hobi bercerita. Kata dr. Aisah Dahlan (hidup
bunda Aisah!) juga berdasarkan penelitian, perempuan memiliki kuota 20,000 kata
per hari yang rata-rata dikeluarkan, sementara laki-laki hanya sekian
persennya.
Saya bicara dengan POV sebagai istri, juga
perempuan yang sudah merasakan baik menjadi working mom juga IRT. Seharian,
terutama IRT berkutat dengan pekerjaan rumah dan anak, sebagian besar waktunya
dihabiskan dengan benda mati. Apa perlu ia mengajak ngobrol barang-barang yang
setiap hari dipegangnya? Selama menjadi IRT ada kalanya juga saya jenuh dengan
pekerjaan dan jadwal harian yang monoton. Masak, menyiapkan bekal, menyiapkan
anak berangkat sekolah, antar jemput, dst. Menjadi working mom pun ada
jenuhnya, ketika pekerjaan sedang padat, capek di perjalanan, pagi-pagi harus
berhadapan dengan kemacetan, dll. Katanya, jangan curhat ke medsoso urusan
rumah tangga, lalu, muncullah ungkapan bahwa suami tidak ada kewajiban
mendengarkan curhatan istri, terus istrinya curhat ke siapa? Tembok? Nanti
kalau istrinya burnout lalu marah-marah ke anak, salah lagi?
Sekali lagi, saya bukan bermaksud menzahir
atau mendebat Ustadz. Ustadz pun manusia, terkadang apa yang ia ucapkan tidak
selalu bisa dibenarkan atau diterapkan. Saya pun juga tau, Ustadz yang bilang
ini pun, pernah di vt lain bilang, yang secara terjemahan bebasnya bisa saya
katakan seperti ini, “Para suami, kalau kita pulang kerja, sekian jam di luar,
begitu sampai rumah, jangan anak yang langsung ditanya, tanya dulu istri kita,
gimana seharian di rumah, ada cerita apa, ngapain aja di rumah, ada yang mau
diceritakan nggak? Kasihan itu istri kita seharian di rumah menunggu kita,
ngurus anak, ngurus rumah,” Berarti kan Ustadz itu sendiri punya kebiasaan
mendengarkan cerita istrinya. Hanya mungkin di vt yang sebelumnya saya sebutkan
beliau entah sedang menjawab pertanyaan salah satu jamaah atau bagaimana, yang
menjelaskan tidak ada dalam syariat yang secara spesifik mengatakan suami wajib
mendengarkan curhatan istri. Tetapi ya seperti yang saya bilang, bagi saya,
suami mendengarkan baik itu curhatan, keluh kesah, atau hanya cerita-cerita
receh dan random adalah bentuk nafkah batin. Bukankah justru bagus kalau suami
bisa jadi tempat istri bercerita? Berarti istri merasa aman bercerita apapun ke
suami dibanding ke orang lain.
Nanti kalau istri menemukan tempat curhat
yang lebih nyaman apa nggak lebih bahaya?





