Friday, February 27, 2026
Thursday, February 12, 2026
Kemana Istri Harus Bercerita?
Suatu waktu, PakSu ngirimin vt Ustadz yang bilang, “Secara syariat, tidak ada kewajiban suami mendengarkan curhatan istri” Well, vt ini mentrigger aku, sih. Hehe..
Bukan bermaksud menzahir seorang Ustadz, aku
hanya berargumen dari sisi seorang istri.
Dalam syariat mungkin benar tidak secara
spesifik dikatakan bahwa suami harus mendengarkan curhatan istrinya. Sama
seperti rokok yang tidak secara literal dikatakan haram tetapi difatwakan haram
karena dilihat lebih banyak mudharatnya (keburukannya) daripada manfaatnya
termasuk rokok elektrik/vape. Tapi dalam syariat juga dikatakan suami adalah
qawwamnya istri, hubungan suami dan istri adalah “persahabatan” terbaik, dalam
Al-Quran, istri juga disebut sohibatihi (sahabat – Surat Abasa). Suami
seharusnya memuliakan istri, menjaganya, melindunginya, memberikan nafkah lahir
dan batin. Dalam konteks yang terakhir, menurut saya, mendengarkan cerita
istri, menjadi tempatnya bercerita adalah termasuk nafkah batin. Dengan
bercerita ke suaminya ada ketenangan dan kelegaan yang dirasakan. Apalagi, ya,
istri seperti saya yang memang hobi bercerita. Kata dr. Aisah Dahlan (hidup
bunda Aisah!) juga berdasarkan penelitian, perempuan memiliki kuota 20,000 kata
per hari yang rata-rata dikeluarkan, sementara laki-laki hanya sekian
persennya.
Saya bicara dengan POV sebagai istri, juga
perempuan yang sudah merasakan baik menjadi working mom juga IRT. Seharian,
terutama IRT berkutat dengan pekerjaan rumah dan anak, sebagian besar waktunya
dihabiskan dengan benda mati. Apa perlu ia mengajak ngobrol barang-barang yang
setiap hari dipegangnya? Selama menjadi IRT ada kalanya juga saya jenuh dengan
pekerjaan dan jadwal harian yang monoton. Masak, menyiapkan bekal, menyiapkan
anak berangkat sekolah, antar jemput, dst. Menjadi working mom pun ada
jenuhnya, ketika pekerjaan sedang padat, capek di perjalanan, pagi-pagi harus
berhadapan dengan kemacetan, dll. Katanya, jangan curhat ke medsoso urusan
rumah tangga, lalu, muncullah ungkapan bahwa suami tidak ada kewajiban
mendengarkan curhatan istri, terus istrinya curhat ke siapa? Tembok? Nanti
kalau istrinya burnout lalu marah-marah ke anak, salah lagi?
Sekali lagi, saya bukan bermaksud menzahir
atau mendebat Ustadz. Ustadz pun manusia, terkadang apa yang ia ucapkan tidak
selalu bisa dibenarkan atau diterapkan. Saya pun juga tau, Ustadz yang bilang
ini pun, pernah di vt lain bilang, yang secara terjemahan bebasnya bisa saya
katakan seperti ini, “Para suami, kalau kita pulang kerja, sekian jam di luar,
begitu sampai rumah, jangan anak yang langsung ditanya, tanya dulu istri kita,
gimana seharian di rumah, ada cerita apa, ngapain aja di rumah, ada yang mau
diceritakan nggak? Kasihan itu istri kita seharian di rumah menunggu kita,
ngurus anak, ngurus rumah,” Berarti kan Ustadz itu sendiri punya kebiasaan
mendengarkan cerita istrinya. Hanya mungkin di vt yang sebelumnya saya sebutkan
beliau entah sedang menjawab pertanyaan salah satu jamaah atau bagaimana, yang
menjelaskan tidak ada dalam syariat yang secara spesifik mengatakan suami wajib
mendengarkan curhatan istri. Tetapi ya seperti yang saya bilang, bagi saya,
suami mendengarkan baik itu curhatan, keluh kesah, atau hanya cerita-cerita
receh dan random adalah bentuk nafkah batin. Bukankah justru bagus kalau suami
bisa jadi tempat istri bercerita? Berarti istri merasa aman bercerita apapun ke
suami dibanding ke orang lain.
Nanti kalau istri menemukan tempat curhat
yang lebih nyaman apa nggak lebih bahaya?
Tuesday, February 10, 2026
Tunjukkan Nikmat Yang Allah Berikan
Kalau beberapa tahun terakhir kita semakin familiar dengan ain, tahun 2025 aku belajar tentang Tahadduts bin Ni'mah. ada yang sudah pernah dengar? Mohon koreksinya kalau salah ya..
Jadi, beberapa tahun belakangan ini kan kita sudah kenal dan aku rasa banyak yang sudah paham tentang ain dan bahayanya. Tentang jangan mengumbar kenikmatan karena nanti ada yang hasad, iri, tidak suka dengan kenikmatan dan pencapaian kita. Nanti bahaya ke kita nya, kenikmatannya jadi hilang, apa yang sedang diusahakan jadi gagal, dll.
Nah tahun lalu, aku justru belajar tentang hal sebaliknya. Kenikmatan yang Allah beri, tunjukkanlah.
Hal ini berdasarkan surat Ad-Dhuha ayat 11
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh Dhuha: 11)
Penjelasan lengkapnya di sini ya.
Jadi intinya, Tahadduts bin ni'mah ini, konsepnya, kalau kita mendapat/merasakan nikmat dari Allah, tunjukkan sebagai rasa syukur, bukan sebagai pamer. Karena pada dasarnya kita nggak akan mendapatkan nikmat itu kalau bukan karena Allah yang berikan dan izinkan. Jangan kita menunjukkan bahwa kita tidak pernah punya apa-apa, hidup kita flat-flat saja, atau malah terkesan susah, kesenangan selalu disembunyikan. Jatuhnya justru seolah-olah Allah tidak pernah memberikan nikmat ke dalam hidup kita. Padahal nikmat Allah itu sangat banyak dan luas. Nggak melulu tentang uang dan materi. Aku juga pernah membahas soal ain di postingan ini, ain nggak melulu tentang pencapaian yang besar, sesimpel share tentang kehamilan bisa mengundang ain bagi yang masih berjuang garis dua, sharing pumping asi yang melimpah bisa jadi ain bagi yang asinya tidak keluar, bercerita anak yang nurut, gampang diarahkan juga bisa menjadi ain bagi orang tua yang anaknya tantruman. Kalau apa yang terjadi di kehidupan selalu dikaitkan dengan ain, hidup kita nggak akan kemana-mana. Apa-apanya takut ain.
Sebagai tambahan, soal memancing ain atau tidak, itu tergantung hati kita. Bagaimana niat kita ketika berbagi cerita atau misal posting suatu hal. Kalau niat hati kita untuk pamer dan riya maka bisa memancing ain. Sementara kalau niat kita untuk menunjukkan dan sebagai rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan, In syaa Allah yang akan datang pun hal-hal baik pula, seperti teman-teman yang ikut berbahagia atas kenikmatan kita. Dan dengan begitu Allah pun akan menambah nikmatnya. Istilahnya apa yang kita sharing akan menarik sesuai frekuensinya. Kalau frekuensinya tinggi dan baik dia akan menarik hal-hal baik pula. Kalau frekuensinya rendah dan buruk maka ia akan memancing ain dan hal buruk lainnya.
Tidak semua yang sharing itu untuk pamer. Ada yang sekdar merayakan pencapaian, berbagi kebahagiaan, review barang, makanan, tempat jajan, atau yaa memang sekadar suka berfoto.
Tentang hal buruk atau yang tidak kita sukai setelah kita membagikan sesuatu, misalnya, itu kembali lagi, terjadi atas ridho Allah. Jangan terlalu saklek juga, "Oh ini pasti karena ain nih" Nggak selalu seperti itu. Karena kehidupan ini kan ada naik turunnya, baik buruknya. Nggak mungkin baik semua. Allah meridhoi terjadinya hal buruk dalam hidup kita kan banyak tujuannya. Bisa sebagai ujian yang akan menaikkan derajat keimanan, atau supaya kita bisa mengambil pelajaran, atau sebagai pembeda agar kita bisa bersyukur saat diberi kenikmatan. Kalau semua hal dikaitkan dengan ain, yang ada kita jadi selalu berburuk sangka, bahwa ada orang-orang yang iri terhadap nikmat yang kita rasakan. Dan pada akhirnya menyembunyikan nikmat yang Allah berikan.
Ain itu dihindari dan dicegah, bukan ditakuti. Yang ditakuti itu Allah
Menunjukkan nikmat ini kan luas ya, bisa tentang apa saja dari urusan agama, akhirat hingga duniawi. misal bersyukur bisa datang kajian, bersyukur atas teman-teman yang mengajak kepada kebaikan, bersyukur soal makanan yang bisa dinikmati termasuk jalan-jalan ke tempat yang baik. Atau tentang kebaikan pasangan dan rumah tangga. Tapi tentu saja semua dalam kadar dan batas sewajarnya, jangan oversharing dan belajarlah memahami batasan privasi. Mana yang bisa diceritakan atau disimpan sendiri.
Akhir-akhir ini juga banyak aku temukan istilah-istilah ledekan terhadap orang yang memiliki pernikahan yang bahagia, kayak:
"Alaaah semua juga bakal pret pada waktunya"
Pernah dengar, nggak? Fyi, aku sebisa mungkin menghindari gosip/ghibah baik itu influencer, artis, atau siapa lah. Tapi berita seperti itu seolah nggak bisa dihindari. Bisa dari teman yang share atau dari mana lah. Aku nggak follow influencer selain beberapa yang aku ingat yang sering sharing soal agama.
Soal perkataan tadi, aku cuma mikir, seburuk apa sih keadaan RTnya sampai melihat RT orang lain yang bahagia kok iri begitu ucapannya. Mungkin yaa karena banyak influencer/artis yang awal-awal kelihatan mesra, romantis, bahagia pada akhirnya muncul berita cerai, dll. Wallahu a'lam ya, aku nggak mau mengomentari RTnya, tapi lebih kepada, yuk biasakan kalau melihat yang baik itu doakan yang baik pula, kalau melihat atau mendengar yang buruk pun doakan kebaikan supaya segera reda dan membaik. Karena doa yang baik nggak cuma untuk orang yang didoakan tapi akan kembali kepada yang mendoakan dan ada hadistnya bahwa doaketika kita berdoa, malaikat ada di samping kita bukan hanya untuk mencatat, si fulan dapat pahala karena mendoakan saudaranya, tapi lebih dalam lagi, malaikat mengaminkan doa kita. Jadi kalau kita mendoakan keburukan, ya doai itu akan kembali ke kita juga. Rugi, nggak? Rugi banget lah. Kita kenal sama influencer/artis itu aja nggak, terus kita doain keburukan juga dapat dosa, udah gitu doa buruknya kembali kek kita juga. Subhanallah.
Jazakumullahu khayr..
Wallahu a'lam bhissowab
Saturday, February 7, 2026
Review Grounded
Portofolio Papermoonpages
Instagram Monthly Recap





