Kalau tahun lalu kayaknya bulan Mei itu terasa panjaaang banget. Tahun ini, kayaknya Bulan Juni ini deh bulan yang rasanya nggak habis-habis. Benar, nggak? Apa Cuma perasaaanku aja ya?
Sudah masuk musim
liburan, kayaknya masih jadi pengalaman baru buatku menikmati musim
liburan dengan status punya bocil. Maksudku, jadi ikutan mikirin, mau bikin
camilan apa ya, mau jajan apa ya, kegiatan apa ya. Rempong, sih, tapiii yaa
gimana. Hehe..
Liburan, mau ke
mana, May?
Belum ada rencana.
Dan kayaknya aku masih mau menyelesaikan to do list yang buanyak dan antri itu.
Baik yang sudah tercatat ataupun yang masih kepikiran di otak. Kalau dilist
kayaknya bakal panjang dan nggak habis-habis, deh, kayak daftar WL dan TBR
pembaca. Hahaha...
Btw, sambil
menuangkan semua yang ada di pikiran, sambil cerita supaya ini otak bisa punya
space kososng buat nerima hal baru. Kalau nggak, bisa stress aku ga
tertuangkan. Wkwkk.
Jadi, mau mulai
dari mana dulu kita? Hhmmmm.. let me start with this one.
Beberapa waktu
lalu, kalau yang baca igs ku, aku menyadari kalau kegiatan Quran Journalingku
bisa jadi kegiatan yang seru juga buat belajar bahasa Inggris lebih jauh lagi.
Jujur sejak off ngajar, skill Englishku kayaknya agak nurun deh dan lesu gitu, loh. Exposurenya
kurang. Jadi dengan belajar Quran in English itu kayak membangkitkan lagi
(cailaah) semangat aku dalam belajar Quran and English. Jadi dobel manfaat, kan.
Maa syaa Allah. Terus kadang aku juga discuss sama tetanggaku tentang ilmu
agama apa yang kita temuin. Dan ternyata belajar agama, tuh, seseru itu. Quran
jurnaling tuh seseru itu!
Waktu IdulAdha
kemarin, banyak yang bahas (kalau di TLku, sih) lebih dalam tentang makna
IdulAdha ini. Nggak mainstream kayak yang sudah sering dibahas dan dijadikan
topik khutbah di Masjid. Mungkin ini ya
pentingnya anak muda belajar agama, supaya ilmu dan informsainya upgrade. Kasian,
loh kalau boomers aja yang harus update ilmu dan ngikutin perkembangan genZi. Yang
genzinya dong berani tampil, kasih informasi-informasi baru ke generasi
sebelumnya.
Kayak, misal,
kemarin aku nemu review ayat tentang perbedaan penyebutan antara Nabi Ismail
dan Nabi Ishaq dalam Al-Quran. Yang satu disebut cerdas, yang lainnya disebut alim.
Dan itu menyadarkanku bahwa Allah itu memang sudah merencanakan takdir
kehidupan kedua nabi itu beserta anak keturunannya hingga ke jalur nabi
Muhammad dan kaum Bani Israil. Pokoknya seru, deh. Btw, ini aku lihat di akun IG @quranreview silakan cek akunnya ya/
Dan ada lagi, soal
makna surat Al-Quraisy. Sejak aku mulai Quran Jurnaling beberapa tahun lalu,
aku masih bingung Al-Quraisy itu sebenarnya tentang apa? Apakah hanya
pengenalan Suku Quraisy yang kita kenal sebagai suku asalnya keluarga
Rasulullah? Dan ternyata, maknanya lebih luas lagi, gaesss. Aku pernah baca,
kakek Raulullah itu, beserta keluarnya, cukup terpandang di kalangan suku
Quraisy. Kadaang aku mempertanyakan, katanya keluarga Rasulullah itu keluarga
yang dihormati, tapi kok, kesannya Rasulullah itu hidup susah, kekurangan,
banyak narasi Rasulullah harus menahan lapar, menambal pakaian, menggiling
gandum sendiri, pokoknya gitu-gitu, lah. Nah, bulan lalu aku menemukan
penjelasan yang lebih baik.
Surat Al-Quraisy
itu membahas suku Quraisy dengan keahliannya berdagang. Jadi, kalau kita
ingat sistem perdagangan dunia, ada
namanya jalur sutera, itu jalur perdagangan yang dibawa oleh pedagang-pedagang
Arab dan India. Mungkin aku juga belum terlalu paham, ya soal perdagangan ini.
Tapi yang kutangkap, seperti jalur perdagangan lewat laut, ada aja bahaya yang
ditemui selama perjalanan. Kalau di laut misalnya ya bajak laut gitu, kalau di
darat mungkin istilahnya penjarah yang suka merampok pedagang-pedagang yang
lewat, oleh akamsi, lah, mungkin istilahnya.
Nah, Suku Quraisy
ini bikin sistem perdagangan darat jadi lebih aman dengan perjanjian yang
dilakukan antara pemimpin perjalanan dan si pemilik wilayah yang wilayahnya
dilewati jalur dagang ini. Dan tau kah siapa penggagasnya? Kakek buyutnya
Rasulullah! Maa syaa Allah, hebat nggak, tuh? Pantas saja keluarga Rasulullah
itu dihormati dan jadi salah satu keluarga terpandang di suku Quraisy karena istilahnya mereka, terutama kakek buyutnya, adalah orang pertama yang
membuat sistem perdagangan yang aman nggak hanya untuk keluarga dan suku mereka
tapi juga sejazirah Arab! Maa syaa Allah, semakin bangga, dong, jadi umat Rasulullah.
Artikel Brain Dump lainnya:
Cuap-cuap Geopolitik Dunia dari POV Rakyat Jelata
Dalam negeri, nih,
best. Kan katanya negara kita lagi carut-marut juga, ya. Kata yang nggak
seneeeeng. Kata yang seneng mah, fine-fine aja kali. Tuh, dari awal menjabat,
kasus megakorupsi pada terbongkar. Siapa lagi presiden yang bisa membongkar
kasus korupsi sebesar itu selain Pak Prabowo yang terhormat. Sejarah, loh, ini.
Tentu dengan pendampingan seskab yang selalu ada di manapun berada. Mari kita
appreaciate. Perampasan asetnya juga bisa kali disahkan. Udah ketauan korup,
aset ga disita, korup ratusan triliun hukuman kurang dari tujuh tahun. Weeeee menang
banyak.
Lagi, MBG. Program
unggulan pemerintah saat ini. Sering dihujat, diminta stop. Katanya praktik
korupsi terbuka. Mungkin yang protes nggak merasakan, sedihnya nggak bisa makan
makanan bergizi. Aku pernah lihay vt, ya, Pak Prabowo ini kan tentara, pernah
ngalamin di hutan belantara katanya kelaparan, lemah, nggak ada makanan, itu
tersiksa, gaes. Jadi, Pak Prabowo ini mengutamakan penting banget makanan
bergizi ini untuk menigkatkan kualitas gizi, terutama anak-anak Indonesia. Supaya
kalau sekolah itu supplai gizinya bagus, belajar jadi fokus, maksimal menyerap
pelajaran dan ilmu yang diberikan oleh guru-guru di sekolah. Pak Prabowo ini
visioner, beliau mengutamakan generasi mendatang supaya kualitasnya lebih
bagus.
Pernah ramai juga,
kan, siswa-siswa, anak SMA ditanya pengetahuan umum, diminta menyebutkan salah
satu negara Eropa dijawab, apa? Cianjur? Apa mana gitu, nama kota di daerah
Jawa Barat. Terus ada juga siswa diminta mengerjakan soal matematika dasar,
nggak bisa. Nah, Pak Prabowo tuh nggak mau generasi selanjutnya sampai ada yang
kayak gitu lagi. Jadi, demi Indonesia Emas, dibuatlah program MBG ini supaya
gizi anak-anak Indonesia tercukupi, belajarnya pada pinter, lulusannya juga
nanti kan bagus-bagus. Kalau ada kasus-kasus atau berita negatif, mah, yaaa,
oknum. Namanya juga program baru, ada penyesuaian, adaptasi, gitu-gitu. Guru-guru
nggak seneng emang kalau muridnya pada pinter-pinter? Akn tujuannya jadi guru
mencerdaskan bangsa. Udah dibantu, tuh sama Pak Prabowo. Guru yang ngajar,
asupan gizinya disupport pemerintah. Maa syaa Allah, generasi Emas banget ini
mah ke depannya.
Aku juga paham,
kok, buat teman-teman guru dan nakes. Kebetulan kan aku pernah sekolah nakes,
banyak teman-temanku di nakes, walaupun akhirnya malah jadi guru, dan sekarang
lagi off, yaa sedikit banyak paham lah keresahan kalian. APBN pendidikan dan
kesehatan dipangkas demi MBG ini, kan, itu, kan yang bikin nggak suka sama
program MBG ini?
Ikhlaskan,
teman-teman. Pemerintahan sekarang sedang berusaha memperbaiki generasi yang
katanya sempat merosot kualitasnya, supaya jauh lebih baik selanjutnya. Jadi,
terimalah bahwa pendidikan dan kesehatan bukan prioritas saat ini. Mungkin kita-kita
yang di bidang pendidikan ini diminta sedikiiiitttt lagi lebih sabaaaaarrrrr
mendapatkan kehidupan yang sejahtera. Kan sebenarnya udah dibilangin, pingin
kaya jangan jadi guru. Ngeyel, sih padaan.
Terus, ya, yang
teriak-teriak nagih, mana 19jt lapangan pekerjaan? Lah, klean yang update
berita MBG ga sadar kah? Itu SPPG, RELAWAN BERGAJI MBG, karyawan-karyawan
dapur, dll, itu lapangan pekerjaan gaessss. Yaa, aku juga baru ngeh, sih. Hehe..
diingatkan teman.
Guru-guru honorer
yang sudah puluhan tahun mengabdi, ikhlaskanlah, panjangin lagi sabarnya. Mengalah
dulu demi fresh graduate yang banyak diangkat jadi RELAWAN BERGAJI MBG ini.
Kasian orang tua yang nyekolahin anaknya tapi lama dapat pekerjaan. Dari dulu
juga keluhannya apa? Lapangan pekerjaan di Indonesia itu persyaratannya “berpengalaman
min x tahun” atuh yang fresh graduate susah mau cari pengalaman. Gimana mau
dapat pengalaman kalau setiap lapangan pekerjaan mintanya yang berpengalaman
kan?
Guru-guru di
pedalaman, kemarin, tuh aku juga nemu berita ada guru di NTT apa ya, jalan
berapa KM gitu buat ngajar setiap hari. 8KM kalau ga salah. Mana medannya
terjal, belok kalau kata bolang generasi 90an mah. Ada yang ngetag ke eiger,
katanya percuma tag pemerintah, mending langsung ke brandnya. Eh sama eiger
direspon dong. Dikontak, ditawarin butuh apa. Netizen bilang kasih tuh
sepatu/sepatu sendal eiger buat naklukin jalur ke medan ngajarnya, supaya
kakinya lebih nyaman jalannya. Kan produk eiger bagus-bagus kualitasnya. Pada ngajakin
juga, yuk rame-rame beli produknya eiger, merk lokal loh itu, kualitasnya nggak
kalah sama brand-brand inter, supaya eigernya juga semangat kasih-kasih bantuan
ke rakyat jelata yang membutuhkan. Soalnya sama pemerintah ga diperhatikan
(kata netijeeeeeen, bukan kata aku. Hehe)
Terus apa, si Ibu,
iya gurunya perempuan, loh. Jalan 8KM setiap hari buat ngajar. Mintanya bukan
buat dirinya sendiri, tapi minta listrik buat sekolahnya, supaya murid-muridnya
bisa belajar dengan baik, minta laptop kalau boleh, buat beberapa guru lainnya
juga di sekolahnya, supaya media ngajarnya lebih baik buat murid-muridnya. Maa syaa
Allah.
Nggak apa-apa ya
buuuu, ikhlaskaaaan, nggak usah iri sama RELAWAN BERGAJI MBG, karyawan SPPG,
dll, yang dibeliin motor sama kaos kaki, sama dasi juga, ya? Dari APBN negara. Dari
pajak yang ibu bayar juga. Kan biar distribusi asupan perutnya cepat jadi
murid-muridnya nggak kelamaan nahan lapar. Jadi belajarnya juga enak. Ibu kan
guru, kan, pingin dong muridnya kenyang supaya belajarnya fokus.
Guru itu pahlawan
tanpa tanda jasa. Ya bener, kan. Ga ada tandanya. Ga ditandain apa-apa. Ingat,
lagu Hymne Guru?
Terpujilah wahai
engkau ibu bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. Semua baktimu
akan kuukir didalam hatiku. Sebagai prasasti trima kasihku tuk
pengabdianmuuuuuuuuuuuu. Engkau bagai pelita dalam kegelapan. Engkau laksana
embun penyejuk dalam kehausan. Engkau patriot pahlawan bangsaaaaaaaaa. Tanpaaaa
tanda jaaaaaasaaaaaaaa.
“Terpujilah”
terpuji aja, diapresiasi? Yaaa wallahu a’lam.
Namamu akan selalu
hidup dalam sanubariku. Ya dalam sanubari aja. Dalam hati.
Pernah dengar
juga, dari orang Jakarta, nih, ya, katanya sekolah di Jakarta juga pernah ada
program makan gratis gini. Sarapan kalau ga salah. Pas Gubernurnya, siapa gitu.
Dan programnya berhasil. Mungkin ada yang tau? Belum lama, sih, katanya. Coba yang
rajin, cari tau. Aku mah mager.
Kita jangan
maki-maki pemerintah terus. Aku sih nggak maki-maki, ya, paling ngejokes
tipis-tipis as my coping mecanism aja kemarin-kemarin suka gregetan sama
kebijakan pemerintah. Hahaha.. Hampuraa.. Tapi ke depannya mau aku bawa have
fun aja deh. Daripada misuh-misuh sama pemerintah, emang nggak capek? Nggak habisin
energi? Dibawa asik ajaaa. Pemerintah aja asik-asik aja dikritik dijawab
nyenyenye. Napa kita yang pusing. Kan mereka yang wakil rakyat, mereka yang cari
solusi atas permasalahan negara. Rakyat jelata terima aja. Katanya biar pejabat
ga makan gaji buta.
Nih, ya, buat yang
demo-demo juga. Di Islam itu nggak boleh demo pemerintah. Doain. Kalau yang
nggak setuju sama pemerintah, ngerasa pemerintah dzolim, mungkin doanya kurang
kenceng. Tapi, tetep, demo pemerintah itu nggak boleh. Pemimpin itu, weh,
pemimpin. Ulil amri. Kan kita masih diizinkan beribadah dengan bebas. Itu suatu
privilege. Yang sudah belajar sunnah, jauhilah demo. kalau aku lihat, secara
syariat, tanpa merasa lebih baik dari yang lain, teman-teman yang demo ini
mungkin kan belum paham, bahwa demo pemerintah itu nggak boleh, nah, tapi, yang
didemo itu juga kan mungkin, mungkin yaaa, belum sunnah juga. Jadi, ya memang
sekufu, yang belum sunnah didemo sama yang sama-sama belum sunnah. Kan, katanya
pemerintah itu cerminan rakyatnya. Benar, kan berarti.
Sok, nyunnah, lu,
May.
Nggak papa, aku
hanya menyampaikan dan berbagi apa yang sudah aku pelajari, sudah ada
hadistnya, Islam itu berasal dari asing dan akan kembali ke asing.
Next. Soal apa lagi?





