Friday, May 8, 2026

Kenapa Komunikasi Dalam Rumah Tangga Itu Penting?

Pernah ada suatu kejadian. Paksu sedang wfh, seharian laptop menyala. Kadang diselingi main game, streaming tetap jalan, atau atau intip-intip youtube. Awalnya, aku suka iseng-iseng ngintip apa yang sedang akti di layar laptopnya. Kebetulan, yang aku lihat, paksu sedang ngegame di HP dan streaming esport di laptop. Paksu yang awalnya bilang mau kerja, ya aku kira sepik aja, dong. Terus aku bilang, “katanya mau kerja, yg dibuka game”. Pokoknya apapun esport yang dia maksud, semua kubilang game.

Paksu ngak marah, tapi beliau bilang, “Ya bentar, sih, Bunbun. Daritadi udah kerja nyelang bentar biar nggak bosan”. Di situ aku jadi mikir, ooh iyaya, mungkin jenuh kali depan laptop yang dikerjain gambar jalur pipa melulu.” Mana pernah kulihat, yaa namanya gambar jalur perpipaan tuh kayak kita lihat peta yang cuma garis-garis itu. Hehe. Dari situ, kalau paksu wh dan kulihat dia ngegame ya aku biarkan saja.

Pernah lagi kejadian. Paksu sedang wfh dan pakai colokan sambungan di bawah dengan kabel yang agak besar. Mungkin karena sudah bekerje beberapa jam, paksu istirahat. Beliau tidur sebentar dengan keadaan laptop masih menyala. Yang di layar, bukan kerjaan dan aku butuh kabelnya jadi kucabut lah itu kabel dan aku pindahkan ke colokan depan. Waktu bangun, paksu marah karena colokan laptopnya dicabut, laptopnya mati dan data kerjaannya hilang, katanya.

Ya kan yang aku lihat di layar streaming game aja. Logikaku ya beliau sudah tutup windows kerjaannya berarti sudah disave, kan.

Di lain waktu, lama setelah kejadian itu, ada keadaan lagi, paksu sedang di rumah, buka laptop dengan segala kegiatannya, dan, lagi-lagi, beliau tidur dengan keadaan laptop masih menyala. Streaming game. Belajar dari pengalaman sebelumnya, aku nggak berani lagi cabut laptop dan colokannya. Tapi hari itu aku mau pakai colokannya buat pakai airfryer. Sebenarnya ada colokan lain tapi kabelnya kecil, paksu pernah bilang kalau untuk elektronik yang besar colokan itu kurang aman, sementara colokan yang besar sedang dipakai di kamar. Jadi, airfryernya yang aku bawa dan colok ke kamar.

Setting waktu 12 menit airfryer, di menit ke 3 paksu bangun. Lihat airfryer dicolok di kamar di mana colokan besarnya itu tersambung ke terminal yang sudah ada 3 colokan, paksu marah (lagi), dia bilang banyak colok di sambungan terminal denag elektronik yang besar itu bahaya, bisa konslet.

Aku kesal. Aku nyolok di kamar karena nggak berani otak-atik colokan yang sedang beliau pakai. Aku bawa airfryer ke kamar dan mencolokkannya di situ karena sudah belajar dari pengalaman, supaya beliau nggak marah juga, ini masih dimarahi juga. Akhirnya, kami sempat ribut.

Tapi setelah agak tenang, aku juga paham. Oiya, mungkin yang beliau highlight bahaya colokannya. Itu yang urgent menurut beliau. Sementara aku kesal karena urusan colokan ini, aku sudah berusaha ngertiin, sudah belajar dari pengalaman supaya beliau nggak marah, tapi masih salah juga. Akhirnya aku minta maaf. Dan hari itu masalah colokan langsung selesai. Beliau beli terminal baru karena yang lama beneran terbakar.

Di satu sisi aku bersyukur. Kalau paksu tidak bangun, dan airfryer kutinggal dalam keadaan menyala, di , situ juga ada laptop, mungkin bisa terjadi hal yang lebih buruk. Tapi, aku juga menayangkan, setelah aku minta maaf, aku sepenuhnya dianggap bersalah padahal aku sudah menjelaskan alasanku bahwa aku yang “mengalah” mencolok airfryer itu ke kamar supaya beliau tidak marah, karena aku sudah belajar dari kejadian sebelumnya, dan itu tidak dilihat dan diapresiasi. Seharusnya, setelah aku minta maaf dan mengakui kesalahanku, beliau juga bisa melihat, dan memahami, karena aku sudah secara terang-terangan menjelaskan alasanku meskipun pada akhirnya yang urgent waktu itu memang soal keamanan listrik. Mungkin, beliau bisa mengatakan, “Iya aku juga minta maaf ya, tadi bentak-bentak dan marah, soalnya yang aku khawatirkan nanti terjadi kebakaran, kan bahaya. Tapi aku paham kamu nyolokin listrik itu karena nggak mau aku marahin lagi soal colokan.

Thursday, May 7, 2026

Kolom Sebelah Kanan Al-Quran Menunjukkan Apa, Ya?


Kolom sebelah kanan di halaman Al-Quran menunjukkan apa, ya?πŸ€”

Jadi, soal Quran ini, aku kira sudah banyak yang tahu ya kalau kolom di pojok kiri atas itu menunjukkan nama surat dan nomor surat.

Tapi, ada yang pernah bertanya-tanya atau penasaran, kah. Kolom di sebelah kanannya itu menunjukkan apa ya? πŸ€”

Ternyata, kolom tersebut menunjukkan nomor juz dan awalan kata di setiap juz.

Aku ngeh soal ini baru aja kemarin lusa (5 mei 2026) malam waktu aku baca Al-Mulk sebelum tidur.

Awalnya waktu aku nggak sengaja lihat di awal surat, juz 29, "tabarakalladzii" (in Arabic) aku kira itu menunjukkan bunyi awal suratnya (Al Mulk). Kemudian aku cek di juz 2, kan masih surat Al-Baqarah, kalau kolom tadi menunjukkan bunyi awalan surat harusnya Alif Lam Mim, kan, tapi ini bukan, di kolom juz 2 bunyi katanya, "sayakuulu", aku cek lagi di jus 3, masih surat Al-Baqarah kan. Tapi di kolomnya, "tilkarrasuulu" jadi, barulah setelah itu aku yakin,

"Ooh ternyata kolomnya menunjukkan juz dan bunyi awal kata di tiap juz, bukan bunyi awal suratnyaaaa" πŸ˜„πŸ€—

Alhamdulillah, satu lagi pengetahuan yang aku dapatkan tentang Al-Quran ini πŸ’• Mungkin kelihatannya sepele, tapi, tak kenal maka tak sayang, kan? Sekadar pengetahuan kecil tentang pedoman hidup manusia ini (fitur Al-Quran) semoga bisa menambah kecintaan kita terhadap Al-Quran πŸ«ΆπŸ’•✨

Aamiin yaa Robbal 'alamiin..

Gambar Angin Puting Beliung


Ada yg bisa ajarin anak2 gambar ga? πŸ˜… Si Ujang tuh ga bisa gambar padahal bapaknya anak desain πŸ€£πŸ« πŸ˜… (lebih ngikut aku)

Jadi urusan gambar menggambar aku ga bisa ajariiiinnn. Bikin bebek dr angka 2 aja mengsong-mengsong 😭

Cerita si Ujang disuruh gambar bebas pas ujian, di kertasnya dia bikin urek-urekan. Pas ditanya, "K gambar apa?", "Angin."

*ANGIN* gaesss. Dia gambar *angin* . Yg kita orang dewasa aja kaga tau itu bentukannya kayak ape. 

Tapi kyknya sih yg dia maksud tuh kyk puting beliung gt deh. Mbohlah.. 🫠

Thursday, April 30, 2026

Kampus Idaman

Di Jogja kemarin, waktu main ke kota, sempat melewati kampus UGM. Sebenarnya, tadinya aku minta ke paksu buat mampir sebentar ke kampus tersebut. Tapi karena sudah kesorean jadi nggak boisa. Takut kemalaman pulangnya. Akhirnya Cuma bisa lewatin aja.

 

Kampus ini kampus idaman paksu dulu. Tapi, yaaa seperti kebanyakan anak Indonesia dari kelas menengah ke bawah, biaya jadi batu sandungan blio masuk ke kampus ini. Waktu itu blio pernah bilang, “tapi kalau aku masuk UGM, mungkin kita nggak akan ketemu, Bun.” Tapi justru aku berpikir lain.

 

Kalau misalnya memang blio jadi mahasiswa UGM, mungkin aku juga akan tetap jadi mahasiswi UB. Dan bisa saja kita ketemu di Jogja. Karena di awal ngampus, aku ikut organisasi AMSA dan terpilih jadi perwakilan ke kampus UMY. Memang bukan UGM, tapi bisa saja kan misalnya blio juga ikut organisasi apa gitu di kampusnya lalu jadi perwakilan juga eehh ketemu sama aku di Jogja. Entah dalam acara kampus atau missal, lagi acara santai di luar kampus, di tempat wisatanya, atau entah bagaimana takdir mempertemukan. Kan, katanya, jodoh tidak kemana. Sama seperti rezeki, kan?

 

Halah.. halu.. hahahaha…

 

Tapi, siapa tahu?