Suatu waktu, PakSu ngirimin vt Ustadz yang bilang, “Secara syariat, tidak ada kewajiban suami mendengarkan curhatan istri” Well, vt ini mentrigger aku, sih. Hehe..
Bukan bermaksud menzahir seorang Ustadz, aku
hanya berargumen dari sisi seorang istri.
Dalam syariat mungkin benar tidak secara
spesifik dikatakan bahwa suami harus mendengarkan curhatan istrinya. Sama
seperti rokok yang tidak secara literal dikatakan haram tetapi difatwakan haram
karena dilihat lebih banyak mudharatnya (keburukannya) daripada manfaatnya
termasuk rokok elektrik/vape. Tapi dalam syariat juga dikatakan suami adalah
qawwamnya istri, hubungan suami dan istri adalah “persahabatan” terbaik, dalam
Al-Quran, istri juga disebut sohibatihi (sahabat – Surat Abasa). Suami
seharusnya memuliakan istri, menjaganya, melindunginya, memberikan nafkah lahir
dan batin. Dalam konteks yang terakhir, menurut saya, mendengarkan cerita
istri, menjadi tempatnya bercerita adalah termasuk nafkah batin. Dengan
bercerita ke suaminya ada ketenangan dan kelegaan yang dirasakan. Apalagi, ya,
istri seperti saya yang memang hobi bercerita. Kata dr. Aisah Dahlan (hidup
bunda Aisah!) juga berdasarkan penelitian, perempuan memiliki kuota 20,000 kata
per hari yang rata-rata dikeluarkan, sementara laki-laki hanya sekian
persennya.
Saya bicara dengan POV sebagai istri, juga
perempuan yang sudah merasakan baik menjadi working mom juga IRT. Seharian,
terutama IRT berkutat dengan pekerjaan rumah dan anak, sebagian besar waktunya
dihabiskan dengan benda mati. Apa perlu ia mengajak ngobrol barang-barang yang
setiap hari dipegangnya? Selama menjadi IRT ada kalanya juga saya jenuh dengan
pekerjaan dan jadwal harian yang monoton. Masak, menyiapkan bekal, menyiapkan
anak berangkat sekolah, antar jemput, dst. Menjadi working mom pun ada
jenuhnya, ketika pekerjaan sedang padat, capek di perjalanan, pagi-pagi harus
berhadapan dengan kemacetan, dll. Katanya, jangan curhat ke medsoso urusan
rumah tangga, lalu, muncullah ungkapan bahwa suami tidak ada kewajiban
mendengarkan curhatan istri, terus istrinya curhat ke siapa? Tembok? Nanti
kalau istrinya burnout lalu marah-marah ke anak, salah lagi?
Sekali lagi, saya bukan bermaksud menzahir
atau mendebat Ustadz. Ustadz pun manusia, terkadang apa yang ia ucapkan tidak
selalu bisa dibenarkan atau diterapkan. Saya pun juga tau, Ustadz yang bilang
ini pun, pernah di vt lain bilang, yang secara terjemahan bebasnya bisa saya
katakan seperti ini, “Para suami, kalau kita pulang kerja, sekian jam di luar,
begitu sampai rumah, jangan anak yang langsung ditanya, tanya dulu istri kita,
gimana seharian di rumah, ada cerita apa, ngapain aja di rumah, ada yang mau
diceritakan nggak? Kasihan itu istri kita seharian di rumah menunggu kita,
ngurus anak, ngurus rumah,” Berarti kan Ustadz itu sendiri punya kebiasaan
mendengarkan cerita istrinya. Hanya mungkin di vt yang sebelumnya saya sebutkan
beliau entah sedang menjawab pertanyaan salah satu jamaah atau bagaimana, yang
menjelaskan tidak ada dalam syariat yang secara spesifik mengatakan suami wajib
mendengarkan curhatan istri. Tetapi ya seperti yang saya bilang, bagi saya,
suami mendengarkan baik itu curhatan, keluh kesah, atau hanya cerita-cerita
receh dan random adalah bentuk nafkah batin. Bukankah justru bagus kalau suami
bisa jadi tempat istri bercerita? Berarti istri merasa aman bercerita apapun ke
suami dibanding ke orang lain.
Nanti kalau istri menemukan tempat curhat
yang lebih nyaman apa nggak lebih bahaya?





