Dalam negeri, nih,
best. Kan katanya negara kita lagi carut-marut juga, ya. Kata yang nggak
seneeeeng. Kata yang seneng mah, fine-fine aja kali. Tuh, dari awal menjabat,
kasus megakorupsi pada terbongkar. Siapa lagi presiden yang bisa membongkar
kasus korupsi sebesar itu selain Pak Prabowo yang terhormat. Sejarah, loh, ini.
Tentu dengan pendampingan seskab yang selalu ada di manapun berada. Mari kita
appreaciate. Perampasan asetnya juga bisa kali disahkan. Udah ketauan korup,
aset ga disita, korup ratusan triliun hukuman kurang dari tujuh tahun. Weeeee
menang banyak.
Lagi, MBG. Program
unggulan pemerintah saat ini. Sering dihujat, diminta stop. Katanya praktik korupsi
terbuka. Mungkin yang protes nggak merasakan, sedihnya nggak bisa makan makanan
bergizi. Aku pernah lihay vt, ya, Pak Prabowo ini kan tentara, pernah ngalamin
di hutan belantara katanya kelaparan, lemah, nggak ada makanan, itu tersiksa,
gaes. Jadi, Pak Prabowo ini mengutamakan penting banget makanan bergizi ini
untuk menigkatkan kualitas gizi, terutama anak-anak Indonesia. Supaya kalau
sekolah itu supplai gizinya bagus, belajar jadi fokus, maksimal menyerap
pelajaran dan ilmu yang diberikan oleh guru-guru di sekolah. Pak Prabowo ini
visioner, beliau mengutamakan generasi mendatang supaya kualitasnya lebih
bagus.
Pernah ramai juga,
kan, siswa-siswa, anak SMA ditanya pengetahuan umum, diminta menyebutkan salah
satu negara Eropa dijawab, apa? Cianjur? Apa mana gitu, nama kota di daerah
Jawa Barat. Terus ada juga siswa diminta mengerjakan soal matematika dasar,
nggak bisa. Nah, Pak Prabowo tuh nggak mau generasi selanjutnya sampai ada yang
kayak gitu lagi. Jadi, demi Indonesia Emas, dibuatlah program MBG ini supaya
gizi anak-anak Indonesia tercukupi, belajarnya pada pinter, lulusannya juga
nanti kan bagus-bagus. Kalau ada kasus-kasus atau berita negatif, mah, yaaa,
oknum. Namanya juga program baru, ada penyesuaian, adaptasi, gitu-gitu.
Guru-guru nggak seneng emang kalau muridnya pada pinter-pinter? Kan tujuannya
jadi guru mencerdaskan bangsa. Udah dibantu, tuh sama Pak Prabowo. Guru yang
ngajar, asupan gizinya disupport pemerintah. Maa syaa Allah, generasi Emas
banget ini mah ke depannya.
Aku juga paham,
kok, buat teman-teman guru dan nakes. Kebetulan kan aku pernah sekolah nakes,
banyak teman-temanku di nakes, walaupun akhirnya malah jadi guru, dan sekarang
lagi off, yaa sedikit banyak paham lah keresahan kalian. APBN pendidikan dan
kesehatan dipangkas demi MBG ini, kan, itu, kan yang bikin nggak suka sama
program MBG ini?
Ikhlaskan,
teman-teman. Pemerintahan sekarang sedang berusaha memperbaiki generasi yang
katanya sempat merosot kualitasnya, supaya jauh lebih baik selanjutnya. Jadi,
terimalah bahwa pendidikan dan kesehatan bukan prioritas saat ini. Mungkin
kita-kita yang di bidang pendidikan ini diminta sedikiiiitttt lagi lebih
sabaaaaarrrrr mendapatkan kehidupan yang sejahtera. Kan sebenarnya udah
dibilangin, pingin kaya jangan jadi guru. Ngeyel, sih padaan.
Terus, ya, yang
teriak-teriak nagih, mana 19jt lapangan pekerjaan? Lah, klean yang update
berita MBG ga sadar kah? Itu SPPG, RELAWAN BERGAJI MBG, karyawan-karyawan
dapur, dll, itu lapangan pekerjaan gaessss. Yaa, aku juga baru ngeh, sih.
Hehe.. diingatkan teman.
Guru-guru honorer
yang sudah puluhan tahun mengabdi, ikhlaskanlah, panjangin lagi sabarnya.
Mengalah dulu demi fresh graduate yang banyak diangkat jadi RELAWAN BERGAJI MBG
ini. Kasian orang tua yang nyekolahin anaknya tapi lama dapat pekerjaan. Dari
dulu juga keluhannya apa? Lapangan pekerjaan di Indonesia itu persyaratannya
“berpengalaman min x tahun” atuh yang fresh graduate susah mau cari pengalaman.
Gimana mau dapat pengalaman kalau setiap lapangan pekerjaan mintanya yang
berpengalaman kan?
Guru-guru di
pedalaman, kemarin, tuh aku juga nemu berita ada guru di NTT apa ya, jalan
berapa KM gitu buat ngajar setiap hari. 8KM kalau ga salah. Mana medannya
terjal, belok kalau kata bolang generasi 90an mah. Ada yang ngetag ke eiger,
katanya percuma tag pemerintah, mending langsung ke brandnya. Eh sama eiger
direspon dong. Dikontak, ditawarin butuh apa. Netizen bilang kasih tuh
sepatu/sepatu sendal eiger buat naklukin jalur ke medan ngajarnya, supaya
kakinya lebih nyaman jalannya. Kan produk eiger bagus-bagus kualitasnya. Pada
ngajakin juga, yuk rame-rame beli produknya eiger, merk lokal loh itu,
kualitasnya nggak kalah sama brand-brand inter, supaya eigernya juga semangat
kasih-kasih bantuan ke rakyat jelata yang membutuhkan. Soalnya sama pemerintah
ga diperhatikan (kata netijeeeeeen, bukan kata aku. Hehe)
Terus apa, si Ibu,
iya gurunya perempuan, loh. Jalan 8KM setiap hari buat ngajar. Mintanya bukan
buat dirinya sendiri, tapi minta listrik buat sekolahnya, supaya murid-muridnya
bisa belajar dengan baik, minta laptop kalau boleh, buat beberapa guru lainnya
juga di sekolahnya, supaya media ngajarnya lebih baik buat murid-muridnya. Maa
syaa Allah.
Nggak apa-apa ya
buuuu, ikhlaskaaaan, nggak usah iri sama RELAWAN BERGAJI MBG, karyawan SPPG,
dll, yang dibeliin motor sama kaos kaki, sama dasi juga, ya? Dari APBN negara.
Dari pajak yang ibu bayar juga. Kan biar distribusi asupan perutnya cepat jadi
murid-muridnya nggak kelamaan nahan lapar. Jadi belajarnya juga enak. Ibu kan
guru, kan, pingin dong muridnya kenyang supaya belajarnya fokus.
Guru itu pahlawan
tanpa tanda jasa. Ya bener, kan. Ga ada tandanya. Ga ditandain apa-apa. Ingat,
lagu Hymne Guru?
Terpujilah wahai
engkau ibu bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. Semua baktimu
akan kuukir didalam hatiku. Sebagai prasasti trima kasihku tuk
pengabdianmuuuuuuuuuuuu. Engkau bagai pelita dalam kegelapan. Engkau laksana
embun penyejuk dalam kehausan. Engkau patriot pahlawan bangsaaaaaaaaa. Tanpaaaa
tanda jaaaaaasaaaaaaaa.
“Terpujilah”
terpuji aja, diapresiasi? Yaaa wallahu a’lam.
Namamu akan selalu
hidup dalam sanubariku. Ya dalam sanubari aja. Dalam hati.
Pernah dengar
juga, dari orang Jakarta, nih, ya, katanya sekolah di Jakarta juga pernah ada
program makan gratis gini. Sarapan kalau ga salah. Pas Gubernurnya, siapa gitu.
Dan programnya dianggap berhasil karena memberdayakan kantin sekolah, kalau
nggak salah ingat yaa beritanya. Mungkin ada yang tau? Belum lama, sih,
katanya. Coba yang rajin, cari tau. Aku mah mageran anaknya. Hehe..
Kita jangan maki-maki
pemerintah terus. Aku sih nggak maki-maki, ya, paling ngejokes tipis-tipis as
my coping mecanism aja kemarin-kemarin suka gregetan sama kebijakan pemerintah.
Hahaha.. Hampuraa.. Tapi ke depannya mau aku bawa have fun aja deh. Daripada
misuh-misuh sama pemerintah, emang nggak capek? Nggak habisin energi? Dibawa
asik ajaaa. Pemerintah aja asik-asik aja dikritik dijawab nyenyenye. Napa kita
yang pusing. Kan mereka yang wakil rakyat, mereka yang cari solusi atas
permasalahan negara. Rakyat jelata terima aja. Katanya biar pejabat ga makan
gaji buta.
Nih, ya, buat yang
demo-demo juga. Di Islam itu nggak boleh demo pemerintah. Doain. Kalau yang
nggak setuju sama pemerintah, ngerasa pemerintah dzolim, mungkin doanya kurang
kenceng. Tapi, tetep, demo pemerintah itu nggak boleh. Pemimpin itu, weh,
pemimpin. Ulil amri. Kan kita masih diizinkan beribadah dengan bebas. Itu suatu
privilege. Yang sudah belajar sunnah, jauhilah demo. kalau aku lihat, secara
syariat, tanpa merasa lebih baik dari yang lain, teman-teman yang demo ini
mungkin kan belum paham, bahwa demo pemerintah itu nggak boleh, nah, tapi, yang
didemo itu juga kan mungkin, mungkin yaaa, belum sunnah juga, soalnya setauku
sih kalau paham sunnah, di gedung pemerintah ga ada pesta-pesta joged-joged
gitu. Musik itu empat mazhab sudah mengharamkan, gaes, meskipun setelah aku
baca lagi, bagi yang menghalalkan pun tidak sampai membuat murtad atau kafir.
Asatidz yang paham sunnah juga nggak ada yang karaoke-karaoke gitu, gaes. Jadi, ya memang sekufu, yang belum sunnah
didemo sama yang sama-sama belum sunnah. Kan, katanya pemerintah itu cerminan
rakyatnya. Benar, kan berarti. Maa syaa Allah. Maha Benar Allah
Sok, nyunnah, lu,
May.
Nggak papa, aku
hanya menyampaikan dan berbagi apa yang sudah aku pelajari, sudah ada hadistnya,
Islam itu berasal dari asing dan akan kembali ke asing.