Friday, February 27, 2026

Marwah Suami Dan Istri Dalam Rumah Tangga

Laki² itu marwahnya pada tanggung jawabnya, pekerjaannya, provide and protection . Itulah mengapa ketika laki² menikah dengan perempuan yang pekerjaan/incomenya lebih tinggi, ia akan merasa insecure. Fitrahnya seperti itu.

Perempuan marwahnya ada di rasa malu dan penjagaan diri. Ia harus menjaga perilakunya, auratnya, kehormatannya. Sifat alamiahnya adalah nurture and caring. Merawat dan menjaga.

Di lingkungan masyarakat pun seperti itu. Biasanya ketika karir istri lebih tinggi daripada suami, pandangam terhadap suami pasti berbeda. Apalagi kalau alasannya suami mengalah demi karir istri yang bagus. Bisa jadi ada beberapa alasan, bisa karena suaminya rela mengalah mengorbankan karirnya agar karir istri meningkay, atau suaminya memang nyaman dan biasa saja ditopang istri sebagai pencari nafkah.

Pernah ada di scene film Crazy Rich Asian. Seorang suami yang berselingkuh karena merasa insecure karena istrinya berasal dari keluarga yang lebih kaya raya daripada si suami. Ketika tau suaminya berselingkuh karena alasan insecure si istri (seingatku namanya Astrid, Kakaknya si tokoh utama) bilang, "It's not my job to make you feel like a man"

"Bukan tanggung jawabku membuatmu menjadi seorang pria."

Maksudnya, si istri tidak bertanggungjawab atas rasa insecurenya suami. Karena ya kaj memang bukan salah istrinya kalau ia lahir dari keluarga yg lebih kaya. Di lain sisi, rasa insecure laki² karena "lebih rendah" dari istrinya itu wajar, tetapi pelarian/pelampiasan ke perselingkuhan itu jelas tidak dibenarkan.

Maka, dalam Islam penting untuk menikah dengan pasangan yang sekufu atau setara. Baik dalam hal agama, ekonomi dan finansial juga keadaan atau latar belakang keluarga. Bisa diajak diskusi (sefrekuensi) dan mau sama² memperbaiki diri agar tidak ada yang saling menuntut.

Bukan berarti harus semua sama, tetapi paling tidak, perbedaan² yang ada itu masih bisa ditoleransi satu sama lain agar tidak menjadi bahan keributan. Kalau ada hal yang kita tidak suka dari pasangan, bicarakan, jangan berpikir kita akan bisa mengubahnya di masa depan karena perubahan itu motivasi terkuatnya ada dalam diri sendiri, bukan orang lain. Kalau dirinya tidak mau atau belum ada niatan berubah, jangan berharap terlalu besar ia akan berubah. Tugas pasangan hanya menasihati, urusan perubahan itu ada pada dirinya sendiri.

Thursday, February 12, 2026

Kemana Istri Harus Bercerita?

Suatu waktu, PakSu ngirimin vt Ustadz  yang bilang, “Secara syariat, tidak ada kewajiban suami mendengarkan curhatan istri” Well, vt ini mentrigger aku, sih. Hehe..

Bukan bermaksud menzahir seorang Ustadz, aku hanya berargumen dari sisi seorang istri.

Dalam syariat mungkin benar tidak secara spesifik dikatakan bahwa suami harus mendengarkan curhatan istrinya. Sama seperti rokok yang tidak secara literal dikatakan haram tetapi difatwakan haram karena dilihat lebih banyak mudharatnya (keburukannya) daripada manfaatnya termasuk rokok elektrik/vape. Tapi dalam syariat juga dikatakan suami adalah qawwamnya istri, hubungan suami dan istri adalah “persahabatan” terbaik, dalam Al-Quran, istri juga disebut sohibatihi (sahabat – Surat Abasa). Suami seharusnya memuliakan istri, menjaganya, melindunginya, memberikan nafkah lahir dan batin. Dalam konteks yang terakhir, menurut saya, mendengarkan cerita istri, menjadi tempatnya bercerita adalah termasuk nafkah batin. Dengan bercerita ke suaminya ada ketenangan dan kelegaan yang dirasakan. Apalagi, ya, istri seperti saya yang memang hobi bercerita. Kata dr. Aisah Dahlan (hidup bunda Aisah!) juga berdasarkan penelitian, perempuan memiliki kuota 20,000 kata per hari yang rata-rata dikeluarkan, sementara laki-laki hanya sekian persennya.

 

Saya bicara dengan POV sebagai istri, juga perempuan yang sudah merasakan baik menjadi working mom juga IRT. Seharian, terutama IRT berkutat dengan pekerjaan rumah dan anak, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan benda mati. Apa perlu ia mengajak ngobrol barang-barang yang setiap hari dipegangnya? Selama menjadi IRT ada kalanya juga saya jenuh dengan pekerjaan dan jadwal harian yang monoton. Masak, menyiapkan bekal, menyiapkan anak berangkat sekolah, antar jemput, dst. Menjadi working mom pun ada jenuhnya, ketika pekerjaan sedang padat, capek di perjalanan, pagi-pagi harus berhadapan dengan kemacetan, dll. Katanya, jangan curhat ke medsoso urusan rumah tangga, lalu, muncullah ungkapan bahwa suami tidak ada kewajiban mendengarkan curhatan istri, terus istrinya curhat ke siapa? Tembok? Nanti kalau istrinya burnout lalu marah-marah ke anak, salah lagi?

Sekali lagi, saya bukan bermaksud menzahir atau mendebat Ustadz. Ustadz pun manusia, terkadang apa yang ia ucapkan tidak selalu bisa dibenarkan atau diterapkan. Saya pun juga tau, Ustadz yang bilang ini pun, pernah di vt lain bilang, yang secara terjemahan bebasnya bisa saya katakan seperti ini, “Para suami, kalau kita pulang kerja, sekian jam di luar, begitu sampai rumah, jangan anak yang langsung ditanya, tanya dulu istri kita, gimana seharian di rumah, ada cerita apa, ngapain aja di rumah, ada yang mau diceritakan nggak? Kasihan itu istri kita seharian di rumah menunggu kita, ngurus anak, ngurus rumah,” Berarti kan Ustadz itu sendiri punya kebiasaan mendengarkan cerita istrinya. Hanya mungkin di vt yang sebelumnya saya sebutkan beliau entah sedang menjawab pertanyaan salah satu jamaah atau bagaimana, yang menjelaskan tidak ada dalam syariat yang secara spesifik mengatakan suami wajib mendengarkan curhatan istri. Tetapi ya seperti yang saya bilang, bagi saya, suami mendengarkan baik itu curhatan, keluh kesah, atau hanya cerita-cerita receh dan random adalah bentuk nafkah batin. Bukankah justru bagus kalau suami bisa jadi tempat istri bercerita? Berarti istri merasa aman bercerita apapun ke suami dibanding ke orang lain.

Nanti kalau istri menemukan tempat curhat yang lebih nyaman apa nggak lebih bahaya?

Tuesday, February 10, 2026

Tunjukkan Nikmat Yang Allah Berikan

Kalau beberapa tahun terakhir kita semakin familiar dengan ain, tahun 2025 aku belajar tentang Tahadduts bin Ni'mah. ada yang sudah pernah dengar? Mohon koreksinya kalau salah ya..

Jadi, beberapa tahun belakangan ini kan kita sudah kenal dan aku rasa banyak yang sudah paham tentang ain dan bahayanya. Tentang jangan mengumbar kenikmatan karena nanti ada yang hasad, iri, tidak suka dengan kenikmatan dan pencapaian kita. Nanti bahaya ke kita nya, kenikmatannya jadi hilang, apa yang sedang diusahakan jadi gagal, dll.

Nah tahun lalu, aku justru belajar tentang hal sebaliknya. Kenikmatan yang Allah beri, tunjukkanlah.

Hal ini berdasarkan surat Ad-Dhuha ayat 11

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh Dhuha: 11)

Penjelasan lengkapnya di sini ya.

Jadi intinya, Tahadduts bin ni'mah ini, konsepnya, kalau kita mendapat/merasakan nikmat dari Allah, tunjukkan sebagai rasa syukur, bukan sebagai pamer. Karena pada dasarnya kita nggak akan mendapatkan nikmat itu kalau bukan karena Allah yang berikan dan izinkan. Jangan kita menunjukkan bahwa kita tidak pernah punya apa-apa, hidup kita flat-flat saja, atau malah terkesan susah, kesenangan selalu disembunyikan. Jatuhnya justru seolah-olah Allah tidak pernah memberikan nikmat ke dalam hidup kita. Padahal nikmat Allah itu sangat banyak dan luas. Nggak melulu tentang uang dan materi. Aku juga pernah membahas soal ain di postingan ini, ain nggak melulu tentang pencapaian yang besar, sesimpel share tentang kehamilan bisa mengundang ain bagi yang masih berjuang garis dua, sharing pumping asi yang melimpah bisa jadi ain bagi yang asinya tidak keluar, bercerita anak yang nurut, gampang diarahkan juga bisa menjadi ain bagi orang tua yang anaknya tantruman. Kalau apa yang terjadi di kehidupan selalu dikaitkan dengan ain, hidup kita nggak akan kemana-mana. Apa-apanya takut ain.

Sebagai tambahan, soal memancing ain atau tidak, itu tergantung hati kita. Bagaimana niat kita ketika berbagi cerita atau misal posting suatu hal. Kalau niat hati kita untuk pamer dan riya maka bisa memancing ain. Sementara kalau niat kita untuk menunjukkan dan sebagai rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan, In syaa Allah yang akan datang pun hal-hal baik pula, seperti teman-teman yang ikut berbahagia atas kenikmatan kita. Dan dengan begitu Allah pun akan menambah nikmatnya. Istilahnya apa yang kita sharing akan menarik sesuai frekuensinya. Kalau frekuensinya tinggi dan baik dia akan menarik hal-hal baik pula. Kalau frekuensinya rendah dan buruk maka ia akan memancing ain dan hal buruk lainnya.

Tidak semua yang sharing itu untuk pamer. Ada yang sekdar merayakan pencapaian, berbagi kebahagiaan, review barang, makanan, tempat jajan, atau yaa memang sekadar suka berfoto.

Tentang hal buruk atau yang tidak kita sukai setelah kita membagikan sesuatu, misalnya, itu kembali lagi, terjadi atas ridho Allah. Jangan terlalu saklek juga, "Oh ini pasti karena ain nih" Nggak selalu seperti itu. Karena kehidupan ini kan ada naik turunnya, baik buruknya. Nggak mungkin baik semua. Allah meridhoi terjadinya hal buruk dalam hidup kita kan banyak tujuannya. Bisa sebagai ujian yang akan menaikkan derajat keimanan, atau supaya kita bisa mengambil pelajaran, atau sebagai pembeda agar kita bisa bersyukur saat diberi kenikmatan. Kalau semua hal dikaitkan dengan ain, yang ada kita jadi selalu berburuk sangka, bahwa ada orang-orang yang iri terhadap nikmat yang kita rasakan. Dan pada akhirnya menyembunyikan nikmat yang Allah berikan.

Ain itu dihindari dan dicegah, bukan ditakuti. Yang ditakuti itu Allah

Menunjukkan nikmat ini kan luas ya, bisa tentang apa saja dari urusan agama, akhirat hingga duniawi. misal bersyukur bisa datang kajian, bersyukur atas teman-teman yang mengajak kepada kebaikan, bersyukur soal makanan yang bisa dinikmati termasuk jalan-jalan ke tempat yang baik. Atau tentang kebaikan pasangan dan rumah tangga. Tapi tentu saja semua dalam kadar dan batas sewajarnya, jangan oversharing dan belajarlah memahami batasan privasi. Mana yang bisa diceritakan atau disimpan sendiri.

Akhir-akhir ini juga banyak aku temukan istilah-istilah ledekan terhadap orang yang memiliki pernikahan yang bahagia, kayak:

"Alaaah semua juga bakal pret pada waktunya"

Pernah dengar, nggak? Fyi, aku sebisa mungkin menghindari gosip/ghibah baik itu influencer, artis, atau siapa lah. Tapi berita seperti itu seolah nggak bisa dihindari. Bisa dari teman yang share atau dari mana lah. Aku nggak follow influencer selain beberapa yang aku ingat yang sering sharing soal agama.

Soal perkataan tadi, aku cuma mikir, seburuk apa sih keadaan RTnya sampai melihat RT orang lain yang bahagia kok iri begitu ucapannya. Mungkin yaa karena banyak influencer/artis yang awal-awal kelihatan mesra, romantis, bahagia pada akhirnya muncul berita cerai, dll. Wallahu a'lam ya, aku nggak mau mengomentari RTnya, tapi lebih kepada, yuk biasakan kalau melihat yang baik itu doakan yang baik pula, kalau melihat atau mendengar yang buruk pun doakan kebaikan supaya segera reda dan membaik. Karena doa yang baik nggak cuma untuk orang yang didoakan tapi akan kembali kepada yang mendoakan dan ada hadistnya bahwa doaketika kita berdoa, malaikat ada di samping kita bukan hanya untuk mencatat, si fulan dapat pahala karena mendoakan saudaranya, tapi lebih dalam lagi, malaikat mengaminkan doa kita. Jadi kalau kita mendoakan keburukan, ya doai itu akan kembali ke kita juga. Rugi, nggak? Rugi banget lah. Kita kenal sama influencer/artis itu aja nggak, terus kita doain keburukan juga dapat dosa, udah gitu doa buruknya kembali kek kita juga. Subhanallah. 

Jazakumullahu khayr..

Wallahu a'lam bhissowab

Saturday, February 7, 2026

Review Grounded

Ada hal yang kupelajari dari Feek, salah satu tokoh di novel grounded, "kalau datang inspirasi, kapanpun, dimanapun, TULIS" karena kalau nggak, bisa lupa walaupun cuma 5 menit kemudian.

Hahaha, ini relate banget sama aku. Pokoknya kalau muncul apa di pikiran, mending kangsung tulis, deh, daripada lupa. Masalahnya, walaupun lupa, nanti keingetan lagi, yg ada bikin kepala penuh.