Pernah ada suatu kejadian. Paksu sedang wfh, seharian laptop menyala. Kadang diselingi main game, streaming tetap jalan, atau atau intip-intip youtube. Awalnya, aku suka iseng-iseng ngintip apa yang sedang akti di layar laptopnya. Kebetulan, yang aku lihat, paksu sedang ngegame di HP dan streaming esport di laptop. Paksu yang awalnya bilang mau kerja, ya aku kira sepik aja, dong. Terus aku bilang, “katanya mau kerja, yg dibuka game”. Pokoknya apapun esport yang dia maksud, semua kubilang game.
Paksu ngak marah,
tapi beliau bilang, “Ya bentar, sih, Bunbun. Daritadi udah kerja nyelang bentar
biar nggak bosan”. Di situ aku jadi mikir, ooh iyaya, mungkin jenuh kali depan
laptop yang dikerjain gambar jalur pipa melulu.” Mana pernah kulihat, yaa
namanya gambar jalur perpipaan tuh kayak kita lihat peta yang cuma garis-garis
itu. Hehe. Dari situ, kalau paksu wh dan kulihat dia ngegame ya aku biarkan
saja.
Pernah lagi
kejadian. Paksu sedang wfh dan pakai colokan sambungan di bawah dengan kabel
yang agak besar. Mungkin karena sudah bekerje beberapa jam, paksu istirahat.
Beliau tidur sebentar dengan keadaan laptop masih menyala. Yang di layar, bukan
kerjaan dan aku butuh kabelnya jadi kucabut lah itu kabel dan aku pindahkan ke
colokan depan. Waktu bangun, paksu marah karena colokan laptopnya dicabut,
laptopnya mati dan data kerjaannya hilang, katanya.
Ya kan yang aku
lihat di layar streaming game aja. Logikaku ya beliau sudah tutup windows
kerjaannya berarti sudah disave, kan.
Di lain waktu,
lama setelah kejadian itu, ada keadaan lagi, paksu sedang di rumah, buka laptop
dengan segala kegiatannya, dan, lagi-lagi, beliau tidur dengan keadaan laptop
masih menyala. Streaming game. Belajar dari pengalaman sebelumnya, aku nggak berani
lagi cabut laptop dan colokannya. Tapi hari itu aku mau pakai colokannya buat
pakai airfryer. Sebenarnya ada colokan lain tapi kabelnya kecil, paksu pernah
bilang kalau untuk elektronik yang besar colokan itu kurang aman, sementara
colokan yang besar sedang dipakai di kamar. Jadi, airfryernya yang aku bawa dan
colok ke kamar.
Setting waktu 12
menit airfryer, di menit ke 3 paksu bangun. Lihat airfryer dicolok di kamar di
mana colokan besarnya itu tersambung ke terminal yang sudah ada 3 colokan,
paksu marah (lagi), dia bilang banyak colok di sambungan terminal denag
elektronik yang besar itu bahaya, bisa konslet.
Aku kesal. Aku
nyolok di kamar karena nggak berani otak-atik colokan yang sedang beliau pakai.
Aku bawa airfryer ke kamar dan mencolokkannya di situ karena sudah belajar dari
pengalaman, supaya beliau nggak marah juga, ini masih dimarahi juga. Akhirnya,
kami sempat ribut.
Tapi setelah agak
tenang, aku juga paham. Oiya, mungkin yang beliau highlight bahaya colokannya.
Itu yang urgent menurut beliau. Sementara aku kesal karena urusan colokan ini,
aku sudah berusaha ngertiin, sudah belajar dari pengalaman supaya beliau nggak
marah, tapi masih salah juga. Akhirnya aku minta maaf. Dan hari itu masalah
colokan langsung selesai. Beliau beli terminal baru karena yang lama beneran
terbakar.
Di satu sisi aku
bersyukur. Kalau paksu tidak bangun, dan airfryer kutinggal dalam keadaan
menyala, di , situ juga ada laptop, mungkin bisa terjadi hal yang lebih buruk.
Tapi, aku juga menayangkan, setelah aku minta maaf, aku sepenuhnya dianggap
bersalah padahal aku sudah menjelaskan alasanku bahwa aku yang “mengalah”
mencolok airfryer itu ke kamar supaya beliau tidak marah, karena aku sudah
belajar dari kejadian sebelumnya, dan itu tidak dilihat dan diapresiasi. Seharusnya,
setelah aku minta maaf dan mengakui kesalahanku, beliau juga bisa melihat, dan
memahami, karena aku sudah secara terang-terangan menjelaskan alasanku meskipun
pada akhirnya yang urgent waktu itu memang soal keamanan listrik. Mungkin,
beliau bisa mengatakan, “Iya aku juga minta maaf ya, tadi bentak-bentak dan
marah, soalnya yang aku khawatirkan nanti terjadi kebakaran, kan bahaya. Tapi
aku paham kamu nyolokin listrik itu karena nggak mau aku marahin lagi soal
colokan.





