Sudah habis enerji untuk mengomentari serius para pejabat negeri ini. Akhir-akhir ini, aku memilih untuk meminimalisir berita pejabat negara. Tapi yaa namanya sosial media, meskipun sudah dihindari tetap saja terpapar juga, tapi daripada dibawa emosi, aku sudah bisa menertawakannya. Karena menurutku, kita saja selalu ditertawakan sebagai rakyat jelata, di forum-forum formal yang katanya isinya pejabat tinggi.
Tapi, ada saatnya aku juga terbawa emosi. Bukan,
bukan emosi marah tapi lebih kepada sedih. Karena yang terlintas di pikiranku
adalah perbandingan signifikan antara yang di atas dan yang benar-benar di
bawah.
Seperti ketika kasus Harvey Moeis terUP,
dengan nominal 300T itu, lalu ucapan seorang warga, “Jangan ganggu kemiskinan
kami” kepada seorang menteri ketika gas langka, lalu yang baru-baru ini soal
emas 74kg. Sebenarnya, untuk kasus yang terakhir aku sama sekali malas
berkomentar. Oiya, di th sudah ramai soal artis yang selama ini dicurigai money
laundry, di ig aku belum nemu dan ga berniat nyari juga. Tapi, kenapa sih,
bahasan begitu suka random aja muncul di timeline? Syet*n memang di mana-mana,
ya.
Kembali ke kasus emas 74kg yang tadinya tidak
ingin aku komentari, tiba-tiba kemarin, aku terbawa emosi. Saat menjemput
anakku mengaji di sore hari, sambil menunggu anakku dipanggil, aku melihat
pedagang roti hangat lewat. Menawarkan dagangannya ke orang-orang sekitar. Roti-roti
itu ia bawa dengan dipikul. Yang terpikirkan olehku?
Ada rakyat yang harus memikul berkilo-kilo
dagangannya untuk memberi nafkah keluarganya. Sementara baru saja di berita
terkuak petinggi negara yang memiliki simpanan emas batangan puluhan kilo
beratnya, dan merupakan hasil korupsi (memeras orang-orang kaya agar kasusnya
ringan pidana). Kalau kakek penjual roti itu melihat berita tersebut,
kira-kira, apa yang ada di benaknya?
Aku, sebagai orang atau rakyat yang,


0 komentar:
Post a Comment