Tuesday, July 14, 2026

Sengkuni

Sudah habis enerji untuk mengomentari serius para pejabat negeri ini. Akhir-akhir ini, aku memilih untuk meminimalisir berita pejabat negara. Tapi yaa namanya sosial media, meskipun sudah dihindari tetap saja terpapar juga, tapi daripada dibawa emosi, aku sudah bisa menertawakannya. Karena menurutku, kita saja selalu ditertawakan sebagai rakyat jelata, di forum-forum formal yang katanya isinya pejabat tinggi.

Tapi, ada saatnya aku juga terbawa emosi. Bukan, bukan emosi marah tapi lebih kepada sedih. Karena yang terlintas di pikiranku adalah perbandingan signifikan antara yang di atas dan yang benar-benar di bawah.

Seperti ketika kasus Harvey Moeis terUP, dengan nominal 300T itu, lalu ucapan seorang warga, “Jangan ganggu kemiskinan kami” kepada seorang menteri ketika gas langka, lalu yang baru-baru ini soal emas 74kg. Sebenarnya, untuk kasus yang terakhir aku sama sekali malas berkomentar. Oiya, di th sudah ramai soal artis yang selama ini dicurigai money laundry, di ig aku belum nemu dan ga berniat nyari juga. Tapi, kenapa sih, bahasan begitu suka random aja muncul di timeline? Syet*n memang di mana-mana, ya.

Kembali ke kasus emas 74kg yang tadinya tidak ingin aku komentari, tiba-tiba kemarin, aku terbawa emosi. Saat menjemput anakku mengaji di sore hari, sambil menunggu anakku dipanggil, aku melihat pedagang roti hangat lewat. Menawarkan dagangannya ke orang-orang sekitar. Roti-roti itu ia bawa dengan dipikul. Yang terpikirkan olehku?

Ada rakyat yang harus memikul berkilo-kilo dagangannya untuk memberi nafkah keluarganya. Sementara baru saja di berita terkuak petinggi negara yang memiliki simpanan emas batangan puluhan kilo beratnya, dan merupakan hasil korupsi (memeras orang-orang kaya agar kasusnya ringan pidana). Kalau kakek penjual roti itu melihat berita tersebut, kira-kira, apa yang ada di benaknya? Aku, sebagai orang atau rakyat yang, selalu dikata, jelata, rasanya sangat miris melihat ironi ini. Negara ini sangat kaya raya. Prof. Mahfud MD mengatakan, dari hasil pertambangan Indonesia (yang selama ini dikuasai pengusaha-pengusaha) jika diolah dengan benar oleh negara, tiap-tiap kepala, rakyat Indonesia, bisa mendapatkan 20 juta per bulan. Itu baru dari hasil tambang. Belum sumberdaya alam lainnya. Tapi dari sekian banyak kekayaan alam itu, yang sedari dulu dipuja dan bahkan sering didambakan negara lain, dijajah dan dimonopoli hasilnya oleh saudara sebangsa sendiri.

Sore itu, sepanjang jalan pulang dari tempat mengaji anakku ke rumah, aku menangis. Terbayang bahwa ada sekian banyak rakyat yang harus memikul berkilo-kilo dagangan yang belum tentu habis dalam sehari demi bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi. Sementara para pejabat yang berkuasa semena-mena atas tanggungjawab yang diamanahkan kepadanya. Mengambil dan menimbun lebih dari porsi yang berhak didapatkannya.

Atas sikap dzalim para pejabat yang berkuasa, aku ingat perkataan dan perumpamaan pejabat yang dzalim terhadap rakyat dengan Sengkuni:

“Kamu pernah menderita apa? Kamu pernah susah apa hidupmu? Kamu pernah miskin apa? Kamu itu atas penderitaan yang bagaimana sehingga kamu jahat kepada rakyat?  Apa sejarah kesusahan yang pernah kamu rasakan sehingga kamu sejahat itu kepada rakyat? Wong hidupmu lancar-lancar saja, kok. Kamu  bisa bayar milyaran untuk nyalon pejabat...”

https://www.youtube.com/watch?v=5IdzGuKXlHY&t=168s

0 komentar: