Kenapa, ya, Indonesia ini kayaknya ketinggalan update sama negara lain, padahal katanya pengguna internetnya paling banyak dan aktif.
Tahu, nggak, waktu itu sempat ramai di German,
katanya, anak-anak sekolah sudah back to paperbased untuk kegiatan pembelajaran.
Sementara di Indonesia, kegiatan online baru dimulai beberapa tahun belakangan
dan sampai saat ini belum merata di seluruh daerah.
Di dunia pembaca, aku merasakan beberapa
tahun belakangan ereader semakin marak di Indonesia. Dari yang tadinya membaca
di smartphone agar lebih mudah dibawa ke mana-mana, sampai pada akhirnya ramai
ereader khusus untuk fitur baca baik offline dan online dengan berbagai merk.
Tapi, sekali lagi, tau, nggak? Di Jerman,
orang-orang mulai kembali membaca buku-buku fisik. Mereka baca di taman,
mematikan sejenak smartphone dan menikmati bacaan. Mereka beralih dari jam
tangan digital atau smartwatch yang bisa merekam jantung, kalori terbakar dan
lain-lain menjadi jam analog dengan baterai dan jarum jam yang berputar normal.
Mereka juga kembali menggunakan jam alarm analog, bukan alarm dari smartphone.
Kembali menggunakan kamera digital, bukan kamera smartphone, karena dianggap
terlalu banyak kebohongan dengan adanya filter.
Mereka sebut ini sebagai analog lyfestyle.
Kenapa? Karena mereka semakin menyadari,
beberapa tahun belakangan kita sering dibuat terburu-buru untuk menyelesaikan
sesuatu, kita terlalu dituntut sempurna di depan kamera sehingga semakin lama
keaslian foto berubah. Maka atas kesadaran itu, mereka memilih mengembalikan
aktifitas mereka ke format sebagaimana mestinya. Menikmati bacaan dari buku
yang digenggam, menangkap gambar sebagai mana aslinya tanpa filter dan rekayasa
tambahan. Apalagi sekarang semakin marak AI, banyak yang bilang, foto-foto
digital itu menarik tetapi semakin kehilangan nyawanya.
Interaksi sosial di dunia nyata berkurang
dengan semakin gencarnya dunia maya. Jadi, saat ini, orang-orang yang sadar,
mulai membentuk kembali interaksi sosial di dunia nyata. Meski masih
menggunakan smartphone, tetapi penggunaannya dibatasi, dikontrol, agar tidak
mengganggu interaksi sosial yang sesungguhnya.
Jika interaksi media sosial berkurang,
akankah penghasilan para pemilik raksasa media online ini juga akan berkurang?
Dan, dengan kembali ke interaksi sosial yang nyata, mungkinkah manusia akan
lebih bahagia? Karena tidak sibuk mencari validasi dan membandingkan kehidupan
orang lain dan diri sendiri?


0 komentar:
Post a Comment