Friday, July 3, 2026

How Kafir Build People's Mindset

Kemarin, aku baca postingan, bagaimana nestle membangun dan mengubah mindset masyarakat Jepang yang tadinya tea island menjadi masyarakat yang coffee addict.

Masyarakat Jepang terkenal akan kecintaanya terhadap budayanya. Mereka memiliki budaya minum teh yang kuat. Saat nestle dengan produk kopinya masuk Jepang, mereka nggak laku. Gagal. Tapi mereka punya strategi lain. Mereka menanamkan kesukaan kepada kopi mulai dari anak-anak. Mereka membuat permen rasa kopi, es krim, susu, acara-acara ulang tahun dengan diisi produk-produk kopi. Hasilnya perlahan tapi pasti, tahun-tahun berikutnya generasi modern Jepang menjadi konsumen kopi tertinggi di dunia.

Yang diHL di sini adalah kecerdikan nestle menyerang sisi psikologis anak-anak. Mereka bukan menjual produk tapi menanamkan kenangan. Manusia cenderung sulit melupakan memori. Jadi, yang mereka bentuk adalah kenangan akan kopi-nya. Waktu kecil mereka merasakan manisnya dan enaknya permen kopi dan mereka ingin menyimpan kenangan itu sehingga pada akhirnya ketika mereka dewasa pun  menjadi pecinta kopi. Nestle.

Dan ini mengingatkanku pada hal lainnya dengan pola yang sama.

Empat mazhab mengharamkan musik. Meski setelah kubaca lagi, bagi yang menghalalkan pun tidak mutlak menjadikannya murtad karena masih dalam wilayah ijtima ulama. Tapi ada hadist yang mengatakan bahwa musik dan Al-Quran tidak bisa bersatu. Bagi umat muslim Al-Quran adalah kitab suci, penuntun hidup dan bagiku, buku atau kitab paling ilmiah paling scientis yang ada di muka bumi (sebenarnya sudah banyak yang mengakui juga, sih).

Orang kafir tahu itu. Di luar mereka membenci Islam tetapi mereka juga mempelajari Al-Quran dengan sangat dalam. Bahkan mungkin lebih dalam dari kebanyakan muslim. Malah, dengan jumlah milyaran muslim di dunia, masih terbilang sedikit yang mempelajari Al-Quran, bahkan, yang rutin memurojaahnya pun masih sedikit.

Mereka tahu, jika muslim benar-benar kembali dan memegang teguh Al-Quran, Islam sulit dikalahkan. Maka mereka jauhkan muslim dari Al-Quran, sejauh mungkin, selama mungkin, agar generasi Islam tidak bisa dikembalikan dan Islam tidak bisa kembali berjaya. Tapi, mungkin sudah perjalanannya bahwa setiap peradaban ada periodenya.

Dan kafir memiliki program propagandanya. Pernah dengan 3F? Food, fashion, fun. Musik termasuk ke dalam kategori fun. Hiburan, kesenangan. Mereka tahu dan memahami hadist tentang musik dan Al-Quran yang tidak bisa bersatu, maka mereka menanamkan musik sangat dalam kepada kita semua.

Lagu anak-anak, belajar menghafal pakai musik, acara-acara anak-anak pakai musik. Bahkan sempat ramai penelitian untuk ibu hamil agar memperdengarkan musik sejak bayi dalam kandungan karena frekuensinya bagus untuk bayi, katanya.

Alhamdulillah, sebelum saya menikah dan hamil selain penelitian tentang musik itu, saya sudah menemukan fakta bahwa lantunan Al-Quran jauh lebih baik untuk bayi dalam kandungan. Jadi, propaganda penelitian musik itu nggak mempan buat saya. Dan takdir itu saya anggap sebagai hidayah Allah untuk saya agar tidak termakan propaganda kafir.

Btw, yang saya sebut kafir di sini bukan sebatas nonis, ya. Saya lebih merujuk kepada manusia-manusia yang bersembunyi dibalik (kebanyakan, ngakunya) nasrani padahal mereka juga tidak menaati Yesus. Jadi, bagi teman-teman nonis, kata kafir dalam tulisan saya ini bukan secara langsung merujuk pada kalian (kasarnya, sih, lebih kepada mereka pemuja s*tan dan pengikut dakjal).

Dan, ya, para kafir itu menjauhkan umat Islam dari Al-Quran dengan musik. Sejak kita kecil. Sehingga sampai kita dewasa, musik masih terus melekat di keseharian kita dan sangat sulit dilepaskan. Kalau tidak benar-benar diniatkan, akan sangat sulit. Musik lama yang dulu kita dengarkan membawa nostalgia, ditambah musik-musik baru agar tidak ketinggalan trend.

Jadi, sayangnya, fakta bahwa umat Islam sampai saat ini masih belum bisa bangkit ya karena umat Islam sendiri masih jauh dari Quran. Al-Quran belum menjadi prioritas dalam keseharian dan kebanyakan dari umat Islam masih enggan memaksakan untuk merutinkan membaca Al-Quran.

0 komentar: