Kemarin, aku baca postingan, bagaimana nestle membangun dan mengubah mindset masyarakat Jepang yang tadinya tea island menjadi masyarakat yang coffee addict.
Masyarakat Jepang terkenal akan kecintaanya
terhadap budayanya. Mereka memiliki budaya minum teh yang kuat. Saat nestle
dengan produk kopinya masuk Jepang, mereka nggak laku. Gagal. Tapi mereka punya
strategi lain. Mereka menanamkan kesukaan kepada kopi mulai dari anak-anak.
Mereka membuat permen rasa kopi, es krim, susu, acara-acara ulang tahun dengan
diisi produk-produk kopi. Hasilnya perlahan tapi pasti, tahun-tahun berikutnya
generasi modern Jepang menjadi konsumen kopi tertinggi di dunia.
Yang diHL di sini adalah kecerdikan nestle
menyerang sisi psikologis anak-anak. Mereka bukan menjual produk tapi
menanamkan kenangan. Manusia cenderung sulit melupakan memori. Jadi, yang
mereka bentuk adalah kenangan akan kopi-nya. Waktu kecil mereka merasakan
manisnya dan enaknya permen kopi dan mereka ingin menyimpan kenangan itu
sehingga pada akhirnya ketika mereka dewasa pun
menjadi pecinta kopi. Nestle.
Dan ini mengingatkanku pada hal lainnya
dengan pola yang sama.
Empat mazhab mengharamkan musik. Meski
setelah kubaca lagi, bagi yang menghalalkan pun tidak mutlak menjadikannya
murtad karena masih dalam wilayah ijtima ulama. Tapi ada hadist yang mengatakan
bahwa musik dan Al-Quran tidak bisa bersatu. Bagi umat muslim Al-Quran adalah
kitab suci, penuntun hidup dan bagiku, buku atau kitab paling ilmiah paling
scientis yang ada di muka bumi (sebenarnya sudah banyak yang mengakui juga,
sih).
Orang kafir tahu itu. Di luar mereka membenci
Islam tetapi mereka juga mempelajari Al-Quran dengan sangat dalam. Bahkan
mungkin lebih dalam dari kebanyakan muslim. Malah, dengan jumlah milyaran
muslim di dunia, masih terbilang sedikit yang mempelajari Al-Quran, bahkan,
yang rutin memurojaahnya pun masih sedikit.
Mereka tahu, jika muslim benar-benar kembali
dan memegang teguh Al-Quran, Islam sulit dikalahkan. Maka mereka jauhkan muslim
dari Al-Quran, sejauh mungkin, selama mungkin, agar generasi Islam tidak bisa
dikembalikan dan Islam tidak bisa kembali berjaya. Tapi, mungkin sudah
perjalanannya bahwa setiap peradaban ada periodenya.
Dan kafir memiliki program propagandanya.
Pernah dengan 3F? Food, fashion, fun. Musik termasuk ke dalam kategori fun.
Hiburan, kesenangan. Mereka tahu dan memahami hadist tentang musik dan Al-Quran
yang tidak bisa bersatu, maka mereka menanamkan musik sangat dalam kepada kita
semua.
Lagu anak-anak, belajar menghafal pakai
musik, acara-acara anak-anak pakai musik. Bahkan sempat ramai penelitian untuk
ibu hamil agar memperdengarkan musik sejak bayi dalam kandungan karena
frekuensinya bagus untuk bayi, katanya.
Alhamdulillah, sebelum saya menikah dan hamil
selain penelitian tentang musik itu, saya sudah menemukan fakta bahwa lantunan
Al-Quran jauh lebih baik untuk bayi dalam kandungan. Jadi, propaganda
penelitian musik itu nggak mempan buat saya. Dan takdir itu saya anggap sebagai
hidayah Allah untuk saya agar tidak termakan propaganda kafir.
Btw, yang saya sebut kafir di sini bukan
sebatas nonis, ya. Saya lebih merujuk kepada manusia-manusia yang bersembunyi
dibalik (kebanyakan, ngakunya) nasrani padahal mereka juga tidak menaati Yesus.
Jadi, bagi teman-teman nonis, kata kafir dalam tulisan saya ini bukan secara
langsung merujuk pada kalian (kasarnya, sih, lebih kepada mereka pemuja s*tan
dan pengikut dakjal).
Dan, ya, para kafir itu menjauhkan umat Islam
dari Al-Quran dengan musik. Sejak kita kecil. Sehingga sampai kita dewasa,
musik masih terus melekat di keseharian kita dan sangat sulit dilepaskan. Kalau
tidak benar-benar diniatkan, akan sangat sulit. Musik lama yang dulu kita
dengarkan membawa nostalgia, ditambah musik-musik baru agar tidak ketinggalan
trend.
Jadi, sayangnya, fakta bahwa umat Islam
sampai saat ini masih belum bisa bangkit ya karena umat Islam sendiri masih
jauh dari Quran. Al-Quran belum menjadi prioritas dalam keseharian dan
kebanyakan dari umat Islam masih enggan memaksakan untuk merutinkan membaca
Al-Quran.


0 komentar:
Post a Comment