Showing posts with label Muslim Family. Show all posts
Showing posts with label Muslim Family. Show all posts

Saturday, September 28, 2024

Peran Ayah dalam Pendidikan Anak








Kegiatan ayah mencari nafkah di luar tidak membebaskannya dari tanggungjawab mendidik anak di rumah. Capek? Ya capek. Tapi tetap tanggung jawab. Nggak bisa ngelak. Mau nggak mau akan ada pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
Apa kalau sudah capek cari nafkah di luar lalu ketika Allah tanya bagaimana didikanmu ke anak, "nggak bisa ya Allah, saya sudah capek kerja di luar, sampai rumah udah pingin istirahat aja" Kira-kira bisa kah begitu? Kayaknya nggak deh.

Lalu gimana dengan ibu pekerja? Bisakah ia juga ditoleransi begitu? Kayaknya nggak bisa juga, tuh. Buktinya ibu pekerja tetap dituntut untuk tetap mendidik anaknya di rumah. Banyak contohnya ibu pekerja pulang ke rumah sampai rumah masak buat makan malam keluarganya, habis makan malam ngajarin anak di rumah buat pelajaran besoknya, bantu anak kerjain pr, dll.

Apa bisa nanti si ibu minta toleransi "Ya Allah hamba juga lelah membantu suami menambah penghasilan keluarga. Kan hasilnya buat pendidikan anak juga."

Kenapa para ayah bisa menjadikan lelah bekerja di luar alasan untuk melewatkan mendidik anak?

Lalu si anak minta pertanggungjawaban kepada siapa?

Belum lagi kalau pendidikan yang dimaksud orang tuanya hanyalah pendidikan dunia tanpa memerhatikan pendidikan agamanya. Percuma. Sia-sia. Sudah susah-susah, berlelah-lelah kerja berdua demi pendidikan anak tapi ilmu agamanya kosong.

Sementara yang akan dihisab di akhirat utamanya adalah tentang Tuhannya. Bagaimana seorang manusia mengenal Allah dan taat menjalankan syariat.

Kerjasama yg baik jelas diperlukan. Ada aturan yang awalnya mungkin dibuat oleh ayah, ada yg dibuat ibu. Pelaksanaannya butuh saling mengingatkan. Jangan semuanya ibu, yg ada anak akan punya sudut pandang yg nggak bagus ttg ibunya sendiri. Suka ngatur, suka marah-marah, suka ngelarang ini itu. Sementara ayahnya dg alasan capek kerja di luar, kalau anak ngeluh ini itu dibolehin aja, dibiarin aja. Biar cepat, lah. Ayah nggak mau diganggu. Jadi nggak kompak pengasuhan antara ayah-ibu. Jadinya ayah dianggap easy going, fleksibel, dll. Menimbulkan kesan ayahnya angel ibunya evil.




Di Al Quran ada surat Lukman yg diabadikan sebagai pelajaran dan contoh bagi orang tua mendidik anak terutama soal agama. Pernah di suatu ceramah Ustadz bilang, kenapa Lukman? Seorang ayah, bukan ibu, yg diceritakan di Al-Quran?

Karena tanggungjawab pendidikan keluarga (anak dan istri) memang seharusnya dan sebenarnya menjadi tanggungjawab laki-laki. Kan ada hadistnya, seorang suami akan dimintai pertanggungjawaban atas pendidikan anak dan istrinya. Lalu kalau nanti ditanya di akhirat, "Duh, gimana ya ya Allah, saya nggak sempat, sibuk kerja cari nafkah, kan cari nafkah juga ibadah, coba tanya istri saya saja ya Allah" Bisa begitu?

Ada lagi kisah Nabi Ibrahim yang mendidik Ismail, Nabi Yakub dan Nabi Yusuf, Nabi Daud dan Nabi Sulaiman, rata-rata yang diceritakan Al-Quran adalah peran ayah terhadap anaknya. Sepenting itu peran ayah dalam pendidikan anak. Dalam hal ini, ibaratnya peran Ibu itu sudah pasti besar, jadi nggak perlu terlalu banyak disebutkan (karena keseharian ibu yg mungkin bisa lebih banyak bersama anak). Dan ini tuh kayak Allah sudah tau (dan memang Allah pasti tahu) bahwa peran ayah ini akan semakin berkurang di masa depan. Terbukti dengan kasus fatherless atau ketiadaannya peran ayah di zaman modern ini.



Ayah dan ibu tentu punya keterbatasan masing-masing. Dari ilmu, dalam menyikapi proses belajar anak, ketersediaam waktu. Pasti ada saja missed-nya. Maka bisa saling mengkaver itu penting. Saling sharing ilmu, diskusi.

Dan kutipan di video bilang, tegasnya orang tua ke anak itu HAK anak. Hak, loh, ya, seharusnya. Jadi sebenarnya tegas itu memang perlu. Bukan malah dianggap tegas ke anak itu "kasihan" dan nggak sayang, khawatir nanti anaknya tertekan, trauma.

Ketegasan terhadap anak itu MODAL dia untuk taat aturan di masa depan. Terhadap apapun yang akan ia hadapi. Kalau nggak dibiasakan taat sedari masih di bawah didikan orang tuanya, dia akan terbiasa tidak taat di luar terhadap orang lain. Sampai dewasa. Ini sama saja kita merusak fitrah, tabiat dan karakternya sejak kecil. Jadi dengan bersikap tegas ke anak, kita memberikan salah satu modal kehidupan padanya.

Thursday, September 26, 2024

Orientasi Pendidikan Anak




Adzan dzuhur: "Bu, bangunin anaknya, kasian belum makan"
Adzan maghrib yang dikejar bukan Salat di masjid tapi sibuk menyiapkan makan malam. Padahal puasa pun tidak.

Yg diutamakan PERUT. Habis makan, disuruh Salat juga nggak. Orang tua santai saja. Yg penting anaknya sudah makan. Kenyang.

Apa ada pergeseran makna adzan adalah alarm untuk makan? Bukan panggilan Salat?

Subuh? Apalagi. Wassalaaam.
"Kasian masih ngantuk"

Waktunya Ashar, kasihan capek pulang kegiatan.

Terus Salatnya kapan? Seingatnya, tapi lebih sering lupanya. Semaunya, tapi lebih sering magernya.

Sedari kecil sering "ditoleransi" seperti ini. Terbiasa sampai besar. Nggak ada ketegasan didikan untuk mendirikan Salat, terbiasa menyepelekan Tuhan.

Sayang.
Itu namanya sayang?
Didikan yang lembut.
Lembut apa lembek?

Membiarkan anak lalai dalam ibadah sama saja menjadikan anak bahan bakar neraka. Belum kelihatan sekarang di dunia. Tapi di akhirat kelak orang tua akan diingatkan akan didikannya selama di dunia dengan menayangkannya di depan mata kita. Itulah pentingnya orang tua paham agama. Benarlah kata Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri bahwa rasa sayang tanpa ilmu itu musibah. Terlebih ilmu agama.








"π™Ήπš’πš”πšŠ πš”πšŠπš–πšž πšπš’πšπšŠπš” πš–πšŽπš–πš‹πšŽπš›πš’πš”πšŠπš— πšŠπš—πšŠπš”πš–πšž πš–πšŠπš’πš—πšŠπš—, πš–πšŽπš›πšŽπš”πšŠ πšŠπš”πšŠπš— πš–πšŽπš—πšŠπš—πšπš’πšœ πšœπšŽπš•πšŠπš–πšŠ 𝚜𝚊𝚝𝚞 πš“πšŠπš–. π™Ήπš’πš”πšŠ πš”πšŠπš–πšž πšπš’πšπšŠπš” πš–πšŽπš–πšπšŠπšœπš’πš•πš’πšπšŠπšœπš’ πš–πšŽπš›πšŽπš”πšŠ πš™πšŽπš—πšπš’πšπš’πš”πšŠπš—, πš–πšŽπš›πšŽπš”πšŠ πšŠπš”πšŠπš— πš–πšŽπš—πšŠπš—πšπš’πšœ πšœπšŽπšžπš–πšžπš› πš‘πš’πšπšžπš™πš—πš’πšŠ. π™Ήπš’πš”πšŠ πš”πšŠπš–πšž πšπš’πšπšŠπš” πš–πšŽπš—πšπšŠπš“πšŠπš›πš”πšŠπš— πš’πš•πš–πšž πšŠπšπšŠπš–πšŠ πš™πšŠπšπšŠ πš–πšŽπš›πšŽπš”πšŠ, πš–πšŽπš›πšŽπš”πšŠ πšŠπš”πšŠπš— πš–πšŽπš—πšŠπš—πšπš’πšœ πš‹πšŠπš‘πš”πšŠπš— πšœπšŠπš–πš™πšŠπš’ πš‘πšŠπš›πš’ πš™πšŽπš–πš‹πšŠπš•πšŠπšœπšŠπš—"


Allah sudah menjamin rezeki setiap manusia, tapi tidak ada yang menjamin keimanannya. Agama anak besar kemungkinan mengikuti orang tuanya. Tapi kadar keimanan tidak bisa diwariskan. Itu dua hal yang berbeda. Jangan sampai anak hanya beragama Islam tapi tidak taat menjalankannya. Agama akan menyelamatkan kehidupannya. Kalau kelak ia pintar mencari uang, rezekinya akan ia manfaatkan di jalan yang benar. Kalaupun ia kekurangan, ia tidak akan mencari rezeki dengan cara yang haram.

Ustadz Khalid Basalamah mengatakan:

"π™Έπš•πš–πšž πšŠπšπšŠπš–πšŠ πšŠπš”πšŠπš— πš–πšŽπš—πšπšŠπš πšŠπšœπš’ πš”πš’πšπšŠ. πš‚πšŽπš‹πšŽπš•πšžπš– πš–πšŠπš”πšŠπš—, πšœπšŽπš‹πšŽπš•πšžπš– πš–πš’πš—πšžπš–, πšœπšŽπš‹πšŽπš•πšžπš– πš‹πšŽπš›πšπšŽπš–πšŠπš—, πšœπšŽπš‹πšŽπš•πšžπš– πš–πšŽπš—πšŒπšŠπš›πš’ πš™πšŽπš—πšπšŠπš™πšŠπšπšŠπš—. π™ΌπšŠπš”πšŠ πš’πš•πš–πšž πšŠπšπšŠπš–πšŠ πšŠπš”πšŠπš— πš‹πšŽπš›πš‹πš’πšŒπšŠπš›πšŠ πšπšŽπš—πšπšŠπš— πš”πš’πšπšŠ, πš’πš—πš’ πš‹πš˜πš•πšŽπš‘ 𝚊𝚝𝚊𝚞 πš’πš—πš’ πšπš’πšπšŠπš” πš‹πš˜πš•πšŽπš‘. π™Ύπš•πšŽπš‘ πš”πšŠπš›πšŽπš—πšŠ πš’πšπšž πšžπš•πšŠπš–πšŠ πš–πšŽπš—πšπšŠπšπšŠπš”πšŠπš— πš”πš’πšπšŠ πš•πšŽπš‹πš’πš‘ πš‹πšžπšπšžπš‘ πš’πš•πš–πšž πšŠπšπšŠπš–πšŠ πšπšŠπš›πš’πš™πšŠπšπšŠ πš–πšŠπš”πšŠπš—πšŠπš— 𝚜𝚊𝚊𝚝 πš•πšŠπš™πšŠπš›, πšŠπš’πš› πš™πšŠπšπšŠ 𝚜𝚊𝚊𝚝 πšœπšŠπš—πšπšŠπš πšπšŠπš‘πšŠπšπšŠ, πšπšŠπš— πš“πšžπšπšŠ πšπšŽπš–πš™πšŠπš πšπš’πšπšžπš› πš™πšŠπšπšŠ 𝚜𝚊𝚊𝚝 πš”πš’πšπšŠ πšœπšŠπš—πšπšŠπš πšŒπšŠπš™πšŽπš”"

Orangtua lebih takut anaknya tidak kenyang daripada tidak Salat. Takut anaknya tidak bisa mencari makan daripada tidak belajar agama dengan benar. Padahal dengan tidak beribadah dan beragama dengan benar dia pun akan kelaparan selamanya di neraka. Bukan hanya kelaparan, tapi juga disiksa. Terlalu ekstrem? Coba baca Qur'an, tadabburi artinya. Allah sudah menggambarkan dengan detil siksaan yang akan dirasakan orang-orang yang lalai.

Kasihanlah orang tua yang selama di dunia mencurahkan kasih sayang kepada anaknya tetapi masih lalai soal agama. Ketika orang tuanya meninggal ia hanya bisa pasrah menunggu kiriman doa dari anaknya di dunia yang entah kapan datangnya, atau seberapa sering menyapanya. Karena mungkin jangankan mendoakan orang tuanya, berdoa untuk dirinya sendiri pun ia sering lupa.

Di dunia, ketika si anak lapar ia akan dengan sendirinya berusaha mencari makan. Bagaimapun caranya, Allah akan menuntunnya mencari cara untuk mendapatkannya. Karena Allah sudah menciptakan insting dan akal untuk bertahan hidup pada manusia. Tapi soal Salat karena terbiasa diabaikan orang tua semasa hidup, ketika orang tuanya sudah tidak ada maka ia akan semakin lalai. Bukti bahwa rezekinya di dunia sudah Allah jamin tapi tidak dengan keimanannya.

Bukan berarti orang tua bisa abai terhadap hal dunia, tapi ketika urusan akhirat menjadi hal yang utama, dunia akan mengikuti. Tetapi ketika kita lebih mementingkan dunia, belum tentu dunia didapat, tapi yang jelas akhirat akan tertinggal. Naudzubillahimindzaalik..
 
Namun, anak pun punya tanggung jawabnya sendiri. Jika orang tuanya lalai dalam pendidikan agama, kita tetap wajib mencari ilmunya. Karena setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas waktu semasa hidup. Jika orang tua sudah memulai pendidikan agama dalam keluarga, maka beruntunglah kita. Setidaknya ada modal untuk memulai, maka kita tinggal melanjutkan juga sebagai bentuk terima kasih kepada orang tua.

Semoga para orang tua diberi kemudahan dalam mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang taat pada Allah dan syariatnya. Aamiin yaa Robbal'alamiin 🀲🏻

Wallahu a'lam bisshowaab.